Scroll untuk baca artikel
Kolom

Nyamuk

Redaksi
×

Nyamuk

Sebarkan artikel ini
nyamuk

Nyamuk kecil, tapi gigitannya mampu meruntuhkan kekuasaan besar seperti para pemimpin yang rakus oleh ambisi.

Oleh: Imam Trikarsohadi

PLT Ketua Umum DPP PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia) yang juga founder Pusat Kajian Manajemen Strategik (PKMS), H. Siswadi Abdul Rochim. MBA mengirim pesan lewat satu GWA ihwal Surah Al-Baqara, Verse 26:

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik…”.

Pesan ini memantik ide menulis, mengingat situasi tatanan dunia yang cenderung kacau oleh sebab banyak negara dipimpin para sosok berkarakter nyamuk.

Seperti diketahui bersama, perang berbiaya tinggi yang dimotori Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta di dukung sebagian negara-negara Arab, sejatinya dipantik hasrat penguasaan sumber daya alam, khususnya minyak.

Peristiwa ini tak lepas dari karakter para pemimpin yang bersekutu menyerang Iran. Mereka layak disebut sebagai gerombolan nyamuk yang berperilaku sangat oportunis, merugikan, dan tidak visioner, terutama Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

Pemimpin berkarakter nyamuk, sangat lincah, militan, dan agresif mencari makan (darah). Mereka akan sangat aktif dan “militan” ketika ada kesempatan untuk mengambil keuntungan yang diatasnamakan kepentingan negara, padahal sejatinya untuk kepentingan pribadi atau/ dan atau kelompoknya — guna melanggengkan kekuasaan.

Seperti lazimnya nyamuk, mereka menggigit tajam, menghisap darah, dan menyebarkan penyakit, ketidaknyamanan dan kematian.

Pemimpin tipe ini, mengambil hak dan sumber daya siapa saja yang dianggap lemah, lalu meninggalkannya seperti di Irak, Afghanistan, Libya, Venezuela dan negara lainya.

Dalam konteks sejarah dan keagamaan, nyamuk menjadi simbol kehancuran bagi pemimpin yang sombong (seperti kisah Namrud), menunjukkan bahwa makhluk kecil pun bisa meruntuhkan kekuasaan besar.

Nyamuk dikenal sangat lincah saat lapar, namun ketika terlalu kenyang menghisap darah, ia justru menjadi berat, lamban, dan tidak bisa terbang.

Pada titik keserakahan tertinggi (perut terlalu penuh), nyamuk kehilangan kemampuan untuk menyelamatkan diri, bahkan bisa meletus atau mati tanpa perlu dibunuh.

Filosofi ini mengingatkan manusia bahwa perilaku serakah mengambil lebih banyak dari yang dibutuhkan akan membebani dan akhirnya menghancurkan diri sendiri, sama seperti nyamuk yang mati karena kekenyangan darah.

Dalam konteks kehidupan, nyamuk mengajarkan bahwa cukup adalah jalan yang lebih aman, dan keserakahan adalah penyakit yang mematikan. []