Menjelang ulang tahun Emha Ainun Nadjib, Lukman Wibowo menulis refleksi tentang perjalanan sunyi Cak Nun yang terus menyuarakan cinta, kritik, dan kemanusiaan.

Oleh: Lukman Wibowo
(Presiden Malam Ahad Kliwon)
BESOK di tanggal 27 Mei kita akan merayakan kelahiran seorang tokoh, yang namanya tersimpuh di relung hati orang-orang yang terpinggirkan. Ia adalah Muhammad Ainun Nadjib.
Jika sebagian orang kini memanggilnya Mbah, saya tetap memanggilnya Cak. Bagi saya, Cak Nun tetap muda di sepanjang hayatnya. Parafrasanya, ia sepadan Gus bagi Dur, Kang bagi Jalal, Cak bagi Nur, dan Kak bagi Seto.
Di hadapan Cak Nun, kekuasaan yang angkuh menjadi tidak berwibawa. Dan sebaliknya, kaum yang termarjinalkan menjadi berasa kembali punya harga diri.
Dalam perjalanan sunyinya, Cak Nun mendengarkan lagu bisu dari orang-orang yang tertekan; menulis syair yang bertumbuh dari rakyat jelata; mengaransemen musik yang memekak kuping para pejabat bebal; berlantun salawat dalam lintas agama; dan sesekali menegur penguasa dengan cara yang bombastis.
Pada arus sosial, Cak Nun adalah orang yang keras menentang di permukaan. Kritiknya: Hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus.
Namun di kedalaman sisi kemanusiaan, ia serupa sosok yang mudah iba serta penabur asih.
Di tangannya, genre perlawanan berbasis nurani, ditabuh secara apik. Ia mengajar ketika yang lain menghajar, membina ketika yang lain menghina: Tapi di lain waktu, ia menghajar ketika yang lain memuja-muja. Kepada politisi yang terus-terusan menipu rakyat, ia lantang melaknat. Bukan sekedar menentang kepalsuan, melainkan lebih mengutuk kerakusan.
Di pundak Cak Nun, agama tidak melulu berbunyi di mimbar suci, melainkan juga di gang-gang sempit, pabrik, pasar, sawah, warung, dan perkumpulan anak gelandangan.
Dalam Maiyahnya, ia menyentuh pendosa dengan kasih, merangkul mereka yang dibuang, dan mempersilakan siapapun masuk tanpa sekat. Bahkan tidak ada di dunia manapun, suatu pengajian dihadiri oleh waria, atau seorang pria yang membawa pacar gelapnya, kecuali di Sinau Bareng dan Maiyahnya Emha. Cak Nun tidak membenarkan prilaku itu, tapi ia selalu membuka harapan dan peluang kepada siapapun ke arah pintu taubat.
Bagi Cak Nun, sentuhan cinta adalah modal dasar dalam kehidupan beragama. Dengan sentuhan cinta, orang dapat melakukan banyak hal. Camkan: Tanpa cinta, maka agama jadi parade, bukan jalan pulan: Itu wasiatnya.
Berkali-kali Cak Nun dipuji, berkali-kali Cak Nun dibenci. Kepada pembencinya, ia memaklumatkan: Bencilah aku setinggi gunung, maka aku akan mencintaimu setinggi langit. Cak Nun bukanlah orang yang kebal. Di geladak perang, berkali-kali ia tumbang. Tapi sangarnya, berkali-kali pula ia bangun.
Ia juga pernah meradang dalam rumah tangga, politik, dan kesenian. Pun kesehatan fisiknya diuji secara akut. Namun ia tetap tegak berdiri sembari memikul tanggung jawab kebudayaan.
Di kancah dunia, sepak terjang Cak Nun pernah dicatat oleh Ian Leonard Betts sebagai Jalan Sunyi Emha. Di situ Cak Nun melawan Fitna tidak dengan bantahan doktrinal, melainkan dengan menunjukkan secara nyata bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.
Ia melawat banyak negara sambil bergandengan tangan dengan sejumlah tokoh beda agama. Jalannya terlihat sunyi, karena tidak tersorot lensa media. Di luar negeri–khususnya di Eropa–ia dan Kiai Kanjeng acapkali dianggap sebagai model pertama perjumpaan sejati antara orang Islam dan keanekaragaman budaya.
Barangkali, saya terlambat mengenalinya; saya baru mengenal Cak Nun lewat kaset Kado Muhammad. Lalu lewat Gambang Syafaat dan forum jalanannya, saya bisa berjarak dekat dengannya. Dari dekat, ia pribadi yang brengkel, nesunan, dan menjengkelkan.
Tapi justru dari kejauhan, saya merasa terpukau dan mengaguminya. Saya melihat konsistensi pikiran dan keberpihakannya. Dan saya menduga ia telah mencapai mukasyaf’ah, lantaran sejumlah prediksinya sering menjadi kenyataan di kemudian hari.
Kepada Cak Nun yang hari ini sedang merenung sambil berlari, berpuisi dengan susunan huruf yang mencekam, dan mendengarkan alunan pilu dari mereka yang kehabisan airmata, saya melafazkan: Panjang umur perjalanan sunyi. []
Semarang, 23 Mei 2026.





