Keteladanan guru adalah fondasi utama pendidikan karakter, karena murid belajar bukan hanya dari ucapan, tetapi juga dari contoh nyata.
Oleh: Syaiful Rozak
(Guru MTs Mazro’atul Ulum)
KETIKA mengikuti pendidikan profesi guru (PPG), ada pertanyaan yang membuat saya gelisah. Pertanyaan itu adalah: sudahkah anda menjadi guru yang baik? Sebagai guru, apakah anda sudah menjadi teladan bagi murid-murid anda?
Sejenak saya termenung, memikirkan cara bagaimana menjawab pertanyaan itu agar mendapatkan jawaban yang benar. Saya cari jawaban di google untuk memilih jawaban yang paling bagus.
Namun setelah copy paste, ternyata saya sadar bahwa pertanyaan diatas adalah refleksi guru dalam menjalankan tugas dan profesinya sebagai seorang pendidik.
Saya urungkan jawaban dari internet, kemudian mencoba menjawab pertanyaan tersebut secara jujur berdasarkan apa yang saya alami.
Jawaban yang saya berikan mungkin tidak memuaskan bagi sebagian pihak, namun saya merasa lega karena jawaban yang saya berikan berdasarkan suara hati.
Pelajaran yang dapat saya petik dari pengalaman ini adalah diluar sana mungkin terdapat ribuan guru yang cerdas dalam memahami materi ajar.
Namun modal cerdas saja ternyata belum cukup. Guru selain dituntut untuk menyampaikan materi ajar dengan baik, juga dituntut menjadi teladan yang baik.
Yang jadi soal adalah pendidikan nilai atau karakter itu tidak bisa ditanamkan tanpa keteladanan dari guru. Guru bisa saja menyuruh murid untuk tidak telat berangkat sekolah, rajin membaca dan tanggung jawab dengan ancaman hukuman bila melanggar.
Namun tanpa keteladanan dari seorang guru dengan memberi contoh yang nyata, model demikian tidak akan efektif dan bertahan lama. Murid melakukan perintah guru karena alasan takut hukuman, bukan berdasarkan atas kesadaran.
Keteladanan Guru Adalah Kunci Pendidikan Karakter
Keteladanan guru adalah kunci utama pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan teori tentang nilai, melainkan penanaman melalui contoh nyata, tindakan serta perilaku sehari-hari yang ditunjukkan oleh guru.
Dalam pendidikan karakter, pendidikan dan keteladanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pendidikan karakter tetap memerlukan ceramah, pengenalan teori nilai dan kisah-kisah inspiratif. Namun teori-teori tersebut harus diimplementasikan melalui latihan dan pembiasaan sehari-hari.
Disekolah saya mengajar terdapat pendidikan karakter apel doa pagi dan sholat dhuha. Setiap pagi murid secara bergiliran diminta untuk jadi pemimpin doa kemudian dilanjutkan dengan sholat dhuha.
Kegiatan ini bisa berjalan rutin karena adanya latihan dan pembiasaan, bukan ceramah dan motivasi guru. Bayangkan tanpa adanya pembiasaan dan latihan serta teladan dari guru, tentunya kegiatan tersebut tidak akan berjalan dengan efektif.
Saya kemudian membayangkan dengan metode latihan dan pembiasaan serta keteladanan dari guru itu diimplementasikan dalam pembentukan karakter seperti sikap antri, taat lalu lintas, membuang sampah pada tempatnya, disiplin, bertanggung jawab dan tidak telat berangkat sekolah.
Saya optimistis pendidikan karakter akan memetik hasil yang memuaskan. Namun sekali lagi, keteladanan dari seorang guru adalah kunci utama dalam keberhasilan pendidikan karakter.
Guru digugu dan ditiru
Guru digugu dan ditiru adalah filosofi Jawa yang menggarkan guru sebagai figur teladan. Digugu berarti perkataan dan nasehatnya dipercaya.
Ditiru berarti sikap, perbuatan dan moralitasnya dijadikan teladan bagi murid. Semboyan ini menegaskan bahwa guru tidak hanya mentransfer ilmu, tapi teladan yang baik bagi pengembangan karakter murid.
Penggambaran guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru adalah penggambaran ideal bagi setiap guru. Guru yang digugu dan ditiru itu bukan merujuk pada sifat tegas atau lemah, bukan keras atau lemah lembut, tapi lebih pada integritas. Guru yang perkataan dan tindakannya benar adalah guru teladan bagi murid-muridnya.
Ditengah kemajuan teknologi yang semakin canggih dan akses informasi yang demikian lengkap, masih relevankah kita mengenal guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru?
Kalau sekedar mentransfer ilmu, peran guru akan sangat mudah digantikan dengan artificial intellegence (AI) yang lebih canggih dan akurat.
Kecerdasan guru mungkin bisa digantikan dengan tekhnologi, tapi keteladanan, empati dan kasih sayang tidak akan pernah bisa digantikan oleh teknologi manapun. Disinilah peran guru sangat vital dalam pengembangan pendidikan karakter.
Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru menjadi relevan ditengah perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Guru yang senantiasa memperbaiki diri dengan menjaga perkataan dan perbuatannya, mengembangkan kompetensinya, menjaga moralitasnya serta mendidik murid dengan penuh cinta adalah mereka yang layak sebagai guru yang digugu dan ditiru. []









