Scroll untuk baca artikel
KolomVideo

Pidato Delusional, Prabowo Optimis Swasembada Pangan Sudah Tercapai dan Sebentar Lagi BBM Tak lagi Impor

×

Pidato Delusional, Prabowo Optimis Swasembada Pangan Sudah Tercapai dan Sebentar Lagi BBM Tak lagi Impor

Sebarkan artikel ini

Optimisme Prabowo Subianto tentang swasembada pangan dan BBM harus dibarengi bukti nyata agar kepercayaan rakyat tetap terjaga.

๐—ฆ๐—”๐—ฌ๐—” adalah pengagum Presiden Prabowo Subianto, terutama pada sikap optimistisnya yang tegas dan penuh keyakinan.

Kekaguman itu kembali terlihat saat beliau meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Leato Selatan, Gorontalo, pada Sabtu (9/5/2026).

Beliau bicara posisi negara yang saat ini kuat meski ada tekanan ketidakpastian global. Sebabnya saat ini Indonesia sudah mengalami swasembada pangan. Khususnya sudah swasembada beras dan jagung.

“๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ,” ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜—๐˜ณ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ธ๐˜ฐ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ค๐˜ฏ๐˜ฃ๐˜ค ๐˜๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช๐˜ข.

Bukan hanya itu, Prabowo juga bilang bahwa Indonesia juga akan berswasembada energi khususnya BBM. Dia menegaskan ke depan Indonesia tak lagi impor BBM.

“๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜‰๐˜‰๐˜”, ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜‰๐˜‰๐˜” ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข-๐˜ด๐˜ข๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข,” ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.

Itulah yang membuat saya kagum. Sikap seperti ini bisa menjadi pesan optimisme nasional yang layak dicontoh para pemimpin dunia, sekaligus penting ditanamkan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Indonesia telah swasembada pangan dan sebentar lagi swasembada BBM, meski dalam situasi global yang penuh ketidakpastian.

Inilah kecerdasan beliau bahwa narasi ketahanan pangan dan energi memang penting untuk membangun kepercayaan publik.

Namun, optimisme politik tidak boleh terlepas dari realitas ekonomi yang dirasakan masyarakat sehari-hari. Jika retorika terlalu jauh mendahului kenyataan, maka yang lahir bukan kepercayaan, melainkan kekecewaan.

Klaim swasembada pangan, khususnya beras dan jagung, memang dapat didukung oleh data statistik produksi. Menurut BPS produksi beras nasional Januariโ€“Juni 2026 mencapai 19,31 juta ton, naik tipis 0,26% dibanding periode sama tahun 2025 sebesar 19,26 juta ton.

Secara angka, ini menunjukkan Indonesia masih menjaga kapasitas produksi. Namun, kenaikan 0,26 persen bukanlah lompatan besar yang layak dielu-elukan sebagai kemenangan bersejarah. Itu pertumbuhan yang sangat tipis dan rapuh.

Bahkan, angka agregat itu terdapat sinyal yang perlu diwaspadai. Produksi padi Maret 2026 tercatat turun sekitar 3,69%, sementara luas panen turun 3,16% dibanding Maret tahun sebelumnya.

Untuk periode Aprilโ€“Juni 2026, produksi padi juga diproyeksikan menurun lebih dari 8%. Artinya, fondasi swasembada itu belum kokoh. Sedikit gangguan iklim, distribusi pupuk, atau serangan hama dapat langsung mengguncang klaim keberhasilan tersebut.

Di sinilah masalah utama optimisnya Pak Presiden tentang swasembada: pemerintah terlalu sering memaknai surplus produksi sebagai kemenangan.

Padahal persoalan pangan tidak berhenti pada angka produksi. Swasembada juga menyangkut distribusi, keterjangkauan harga, dan kemudahan akses masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Di banyak daerah, harga beras masih tinggi dan tidak merata. Banyak warga, terutama keluarga miskin, tetap terbebani karena beras menyerap besar pengeluaran rumah tangga.

Petani pun belum otomatis sejahtera hanya karena produksi meningkat. Sering kali keuntungan terbesar justru dinikmati rantai distribusi, pedagang besar, dan para perantara. Karena itu, menyamakan surplus statistik dengan kesejahteraan petani adalah penyederhanaan yang berbahaya.

Lebih problematis lagi adalah pernyataan bahwa Indonesia โ€œ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ชโ€ swasembada BBM dan tidak lagi impor.

Istilah โ€œ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ชโ€ adalah ungkapan politis yang kabur. Apakah satu tahun, lima tahun, atau satu dekade? Tanpa target waktu, peta jalan, dan indikator yang jelas, kalimat itu lebih menyerupai slogan dalam kampanye politik.

Padahal data menunjukkan realitas sebaliknya. Kebutuhan minyak nasional Indonesia saat ini sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara sekitar 1 juta barel per hari masih dipenuhi dari impor.

Artinya, lebih dari 60 persen kebutuhan masih bergantung pada pasokan luar negeri. Ini bukan angka kecil. Ini menandakan ketergantungan struktural yang belum terselesaikan.

Jika demikian kondisinya, maka klaim โ€œ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช tidak impor BBM lagiโ€ terdengar terlalu jauh dari fakta.

Untuk mencapai swasembada energi, Indonesia memerlukan peningkatan lifting minyak, pembangunan kilang, efisiensi konsumsi, percepatan energi terbarukan, dan reformasi tata kelola migas.

Di lapangan, masyarakat justru masih menghadapi antrean BBM bersubsidi, keterbatasan pasokan di sejumlah daerah, serta harga BBM nonsubsidi yang terasa mahal.

Nelayan masih mengeluhkan solar, petani terbebani ongkos distribusi, pengemudi transportasi menyesuaikan tarif demi menutup biaya bahan bakar.

Dalam kondisi seperti itu, klaim swasembada energi berisiko menimbulkan jarak psikologis antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah berbicara soal kemandirian, sementara warga masih bergulat dengan kebutuhan dasar.

Sikap optimis dan keyakinan itu penting, namun harapan yang terlalu jauh dari pengalaman publik dapat berubah menjadi sinisme.

Rakyat menilai pemerintah bukan dari kalimat yang disampaikan di podium, tetapi dari harga beras di pasar, solar di SPBU, hasil panen di sawah, dan pendapatan yang dibawa pulang ke rumah.

Pernyataan bahwa nelayan dan petani akan diperhatikan juga patut diapresiasi. Namun kelompok ini tidak membutuhkan pujian semata.

Mereka membutuhkan pupuk yang mudah diperoleh, harga hasil panen yang adil, solar yang tersedia, akses kredit murah, perlindungan cuaca ekstrem, gudang penyimpanan, dan infrastruktur distribusi yang memadai.

Mereka tidak hidup dari pidato optimisme, tetapi dari kebijakan yang berkeadilan.

๐‘๐š๐ค๐ฒ๐š๐ญ ๐ญ๐ข๐๐š๐ค ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐š๐ญ๐š โ€œ๐ฌ๐ฐ๐š๐ฌ๐ž๐ฆ๐›๐š๐๐šโ€, ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ข๐ง๐ค๐š๐ง ๐๐š๐ซ๐ข ๐ก๐š๐ซ๐ ๐š ๐ญ๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐ง๐ ๐ค๐š๐ฎ, ๐ฉ๐š๐ฌ๐จ๐ค๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ซ๐ฌ๐ž๐๐ข๐š, ๐ฉ๐ž๐ค๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐š๐ง ๐ฅ๐š๐ฒ๐š๐ค, ๐๐š๐ง ๐ฃ๐š๐ง๐ฃ๐ข ๐ง๐ž๐ ๐š๐ซ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ž๐ซ๐›๐ฎ๐ค๐ญ๐ข. []