Jas Prabowo jadi sorotan publik, dipandang sebagai simbol politik dan strategi komunikasi Indonesia di panggung internasional.
š¢š„šš”š-orang yang tidak suka kepada Presiden Prabowo Subianto memang tidak pernah kehabisan bahan.
Jas yang beliau kenakan sedikit berbeda dari pemimpin negara lain saja langsung ramai diberi caption macam-macam: ālupa baca grup WhatsAppā, āsalah kostumā, sampai āIndonesia Terang, Bukan Gelap.ā
Padahal mereka tidak memahami bahwa itu bukan sekadar pilihan busana, melainkan strategi simbolik berkelas dunia.
Ketika pemimpin lain memilih warna gelap dan aman, Presiden Prabowo justru tampil terang sebagai penegasan bahwa Indonesia bukan bangsa pengikut. Sebagaimana beliau selalu berpesan, ājangan jadi antek asingā.
Kita bukan negara yang tugasnya hanya mengangguk di forum internasional sambil menunggu sesi foto bersama.
Indonesia adalah bangsa besar, bangsa bermartabat, bangsa yang kalau hadir harus terlihat, kalau bicara harus didengar, dan kalau berdiri harus membuat fotografer menyesuaikan pencahayaan.
Jadi sangat disayangkan jika masih ada rakyat sendiri yang sibuk mengomentari jas. Seharusnya bangga. Tidak semua negara punya presiden yang mampu menyampaikan pesan geopolitik hanya lewat pakaian.
Negara lain butuh pidato berlembar-lembar, kita cukup lewat setelan. Pesannya jelas: Indonesia terang, bukan gelap. Terang cita-citanya, terang masa depannya, terang semangatnya.
Kalau ada yang masih melihat gelap, kemungkinan bukan masalah negara, tapi layar ponselnya perlu dinaikkan brightness.
Dalam pidatonya di KTT Khusus BIMP-EAGA yang menjadi bagian rangkaian KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, Presiden Prabowo menegaskan bahwa ketahanan energi bukan lagi agenda jangka panjang, melainkan kebutuhan mendesak.
Maka ketika Pertalite tidak dijual di beberapa SPBU, jangan buru-buru mengeluh. Itu bukan kelangkaan, tetapi latihan mental menuju kelas menengah premium.
Rakyat sedang dibiasakan naik kasta konsumsi. Masa bangsa besar identiknya antre BBM murah? Tidak elok. Rakyat harus membeli minimal Pertamax agar dunia melihat bahwa Indonesia adalah negeri kaya raya.
Dalam teori ekonomi modern, semakin mahal yang dibeli rakyat, semakin sejahtera narasinya. Kalau dompet terasa menipis, itu tandanya patriotisme dan cinta terhadap tanah air.
Selain itu, melalui program makan bergizi gratis, Presiden Prabowo telah membuktikan bahwa negara mampu memberi makan gratis kepada 62 juta penerima dan dan bahkan mampu menyerap 1,18 juta tenaga kerja. Tidak ada negara yang mampu melakukan ini selain Indonesia.
Negara lain sibuk mengembangkan kecerdasan buatan, Indonesia justru menciptkan kecerdasan alami, bukan kecerdasan buatan. Sebab dengan MBG kecerdasan akan naik dan bahkan tinggi badan ikut naik.
Negara lain bangga dengan pusat riset, laboratorium, pusat inovasi dan teknologi, kita bangga dengan pusat dapur. Karena bangsa yang lapar sulit maju dan malas berpikir.
Negara lain membangun unicorn dan startup, kita membangun Kopdes sebagai kandang gotong royong modern.
Yaā¦akhir Mei ini, Prabowo akan meresmikan 8.672 Koperasi Desa Merah Putih dan merekrut 30 ribu manajer Profesional.
Desa-desa akan berubah menjadi pusat ekonomi. Balai desa akan naik kelas dari tempat rapat menjadi ruang konferensi mikroekonomi.
Para petani tak lagi sekadar menjual panen, tetapi berpotensi membuat presentasi target kuartalan sambil menunjuk grafik jagung dan padi.
Di tengah utang negara yang terus bertambah, defisit anggaran yang harus ditutup dengan pembiayaan baru, harga plastik naik, harga pangan juga turut naik hingga lapangan kerja makin sempit.
Presiden Prabowo tetap mampu tampil optimistis. Ini bakat langka. Sepertinya tidak ada pemimpin dunia se-optimis beliau.
Sebagian orang panik melihat angka fiskal, beliau tenang melihat kamera. Sebagian orang khawatir soal rupiah, beliau sibuk menata visi. Sebagian rakyat menghitung cicilan, negara menghitung peluang.
Saat daya beli masyarakat melemah, beliau justru mendorong rakyat membeli BBM lebih mahal. Ini langkah visioner: ketika uang rakyat sedikit, maka solusi terbaik adalah melatih mereka mengeluarkan lebih banyak.
Saat pajak naik, rakyat diajari bahwa kontribusi adalah bentuk cinta kepada tanah air. Saat harga beras naik, rakyat diajak memahami pentingnya pengendalian emosi.
Saat lapangan kerja sempit, rakyat diberi motivasi menjadi wirausaha, content creator, reseller, afiliator, atau minimal komentator di media sosial.
Soal kabinet yang gemuk dan birokrasi yang panjang, itu juga sering disalahpahami. Banyak menteri bukan berarti boros, tapi bukti negara memberi kesempatan kerja level elite.
Dan bila ada yang berkata janji kampanye terlalu besar, target terlalu tinggi, atau realisasi belum secepat slogan, mereka lupa bahwa bangsa besar memang hidup dari optimisme. Kalau semua dihitung pakai logika, kapan kita sempat berkhayal?
Jadi kalau masih ada yang menyindir jas Presiden Prabowo, sesungguhnya mereka sedang gagal membaca tanda-tanda zaman. Jas terang itu bukan soal mode, melainkan lambang arah bangsa.
Ketika pemimpin tampil berbeda, itu artinya Indonesia tidak mau sekadar ikut barisan. Kita ingin memimpin barisan.
Soal barisan itu menuju mana, nanti akan dibahas dalam rapat koordinasi berikutnya. []









