Scroll untuk baca artikel
Ragam

40 Produk Israel yang Diimpor Indonesia 2026, Nilainya Tembus US$39 Juta per Tahun

×

40 Produk Israel yang Diimpor Indonesia 2026, Nilainya Tembus US$39 Juta per Tahun

Sebarkan artikel ini
produk israel
Ilustrai Ai

Indonesia masih mengimpor sejumlah produk asal Israel dengan nilai US$39,41 juta pada 2025, didominasi mesin, elektronik, dan farmasi.

BARISAN.CO – Indonesia masih melakukan impor barang dari Israel meski nilainya relatif kecil dibanding total impor nasional.

Data ekonomi terbaru menunjukkan nilai impor Indonesia dari Israel sepanjang 2025 mencapai US$39,41 juta atau sekitar Rp640 miliar dengan asumsi kurs Rp16.250 per dolar AS.

Nilai tersebut turun dibanding tahun 2024 yang mencapai US$54,2 juta atau sekitar Rp883 miliar. Dengan demikian, terjadi penurunan sekitar 27,3 persen secara tahunan.

Secara keseluruhan, angka ini sangat kecil bila dibanding total impor Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai US$241,83 miliar.

Artinya, kontribusi impor dari Israel ke Indonesia hanya sekitar 0,016 persen dari total impor nasional. Data ini memperlihatkan bahwa Israel bukan mitra dagang utama Indonesia dan porsi perdagangannya sangat terbatas.

Barang yang diimpor Indonesia dari Israel sebagian besar merupakan produk industri, teknologi, dan kebutuhan kesehatan, bukan barang konsumsi massal.

Kategori terbesar pada 2025 adalah peralatan listrik dan elektronik senilai US$14,84 juta. Produk ini biasanya mencakup komponen mesin, sensor, perangkat kelistrikan, semikonduktor, dan perlengkapan industri berteknologi tinggi.

Banyak barang semacam ini digunakan untuk kebutuhan manufaktur, telekomunikasi, rumah sakit, maupun otomasi pabrik.

Komoditas terbesar kedua adalah produk farmasi dengan nilai US$10,43 juta. Barang yang masuk dalam kelompok ini meliputi obat-obatan, bahan baku farmasi, produk kesehatan, dan peralatan medis tertentu.

Salah satu perusahaan farmasi Israel yang dikenal secara global adalah Teva Pharmaceutical Industries, produsen obat generik terbesar di dunia. Produk semacam ini biasanya masuk melalui distributor regional atau perusahaan multinasional.

Posisi berikutnya ditempati limbah industri makanan dan pakan ternak sebesar US$5,79 juta. Kategori ini umumnya berupa bahan campuran pakan, residu industri pangan, dan bahan baku peternakan.

Setelah itu ada mesin, boiler, dan reaktor industri sebesar US$4,33 juta, lalu perkakas logam senilai US$3,69 juta. Kategori lain adalah alat optik dan medis sebesar US$2,15 juta, serta gula dan produk turunannya senilai US$1,56 juta.

Jika melihat merek atau perusahaan yang identik dengan Israel dan dikenal di pasar global, sebagian produknya dapat ditemukan di Indonesia baik melalui distributor, e-commerce, maupun jalur B2B.

Untuk sektor teknologi terdapat Waze, aplikasi navigasi yang didirikan di Israel dan kini dimiliki Google. Di bidang keamanan siber ada Check Point Software, sementara untuk otomotif ada Mobileye, perusahaan teknologi kendaraan pintar.

Di sektor kesehatan dan farmasi, nama besar yang sering disebut adalah Teva Pharmaceutical Industries. Untuk irigasi pertanian ada Netafim, perusahaan spesialis irigasi tetes yang produknya dipakai di banyak negara termasuk Asia Tenggara.

Sementara untuk energi surya terdapat SolarEdge, produsen inverter dan teknologi panel surya. Produk-produk seperti ini umumnya tidak dijual massal di ritel, melainkan melalui proyek bisnis dan industri.

Pada sektor konsumen, beberapa merek Israel yang dikenal global antara lain SodaStream untuk mesin pembuat air soda rumahan, Ahava untuk produk perawatan kulit berbasis mineral Laut Mati, Moroccanoil untuk perawatan rambut premium, dan Sabon di bidang kecantikan.

Meski tidak dominan di pasar Indonesia, sebagian produk tersebut dapat dibeli melalui marketplace atau importir khusus.

Secara ekonomi, tren terbaru menunjukkan hubungan dagang Indonesia-Israel lebih banyak bersifat teknis dan terbatas pada kebutuhan industri tertentu.

Penurunan nilai impor dari US$54,2 juta pada 2024 menjadi US$39,41 juta pada 2025 menandakan permintaan yang mengecil atau adanya peralihan sumber pasokan ke negara lain.

Meski demikian, beberapa sektor seperti farmasi, komponen elektronik, dan mesin industri masih bergantung pada rantai pasok global yang melibatkan banyak negara, termasuk Israel.

Sementara itu, ekspor Indonesia ke Israel justru jauh lebih besar. Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke Israel mencapai US$250,18 juta, didominasi minyak nabati, elektronik, alas kaki, kakao, dan kertas. Ini berarti Indonesia masih mencatat surplus perdagangan terhadap Israel.

Kesimpulannya, produk Israel yang diimpor Indonesia bukanlah barang konsumsi besar, melainkan didominasi mesin, komponen elektronik, farmasi, dan kebutuhan industri.

Nilainya kecil secara nasional, namun tetap memiliki fungsi strategis pada sektor tertentu yang membutuhkan teknologi spesifik dan pasokan global. []