Scroll untuk baca artikel
Berita

Apitan Jomblang Candisari Semarang Berlangsung Semarak, Tahu Tempe dan Sayur Jadi Gunungan Rebutan Warga

Redaksi
×

Apitan Jomblang Candisari Semarang Berlangsung Semarak, Tahu Tempe dan Sayur Jadi Gunungan Rebutan Warga

Sebarkan artikel ini
Apitan Jomblang Candisari
Warga Kelurahan Jomblang, Candisari, Semarang antusias mengikuti radisi Apitan 2026 di bundaran Lapangan Cinde, Sabtu (9/5/2026)

Tradisi Apitan Kelurahan Jomblang 2026 berlangsung meriah, warga ramai memperebutkan gunungan tahu tempe sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

BARISAN.CO – Tradisi tahunan Apitan Kelurahan Jomblang, Kecamatan Candisari, Kota Semarang, berlangsung meriah pada Sabtu (9/5/2026) sore.

Ratusan warga memadati halaman Kantor Kelurahan Jomblang sejak pukul 15.00 WIB untuk mengikuti kirab budaya sekaligus menyaksikan prosesi perebutan gunungan tahu tempe dan hasil bumi.

Apitan menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Jomblang sebagai wujud rasa syukur atas rezeki, hasil bumi, serta kerukunan warga.

Tahun ini, kirab budaya dibuka dari halaman kantor kelurahan dengan melibatkan perangkat kelurahan, LPMK, ketua RW 1 hingga RW 15, ibu-ibu PKK, dan masyarakat setempat.

Perhatian warga tertuju pada dua gunungan utama yang diarak dalam kirab. Gunungan pertama berisi tahu dan tempe sebagai simbol makanan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga. Gunungan kedua berisi aneka sayuran seperti cabai, wortel, sawi, dan hasil kebun lokal lainnya.

Gunungan itu simbol rasa syukur dan nikmat kepada Allah SWT. Kita ingin mengingatkan, rezeki yang kita makan setiap hari itu patut dihargai,” ujar salah satu panitia di sela arak-arakan.

Rombongan kirab bergerak menyusuri Jalan Tandang Raya menuju Cinde Selatan. Iringan gamelan dan penampilan reog menambah semarak suasana.

Warga yang berada di sepanjang jalan tampak antusias menyaksikan jalannya prosesi dan mengabadikan momen menggunakan ponsel.

Setibanya di bundaran Lapangan Cinde, acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Kyai Slamet Rahardjo.

Setelah itu, Ketua Panitia M Latif menyerahkan gunungan kepada Lurah Jomblang Henry Nur Cahyo sebagai simbol pelestarian tradisi dan kebersamaan warga.

Usai prosesi seremonial, gunungan dipindahkan ke area terbuka dekat lapangan. Dalam hitungan detik, warga langsung menyerbu isi gunungan berupa tahu, tempe, sayur, dan buah.

Anak-anak hingga orang dewasa tampak antusias memperebutkan isi gunungan yang dipercaya membawa berkah.

Ketua Panitia M Latif menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Pak lurah dan jajarannya, LPMK dan warga masyarakat Jomblang, atas apresiasi dan dukungannya, sehingga acara sore hari ini bisa berjalan dengan baik dan lancar,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Jomblang Henry Nur Cahyo mengatakan kesuksesan Apitan 2026 tidak lepas dari dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Alhamdulillah, ungkapan rasa syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Berkat dukungan dari seluruh elemen masyarakat Jomblang, kegiatan tahunan ini bisa terlaksana,” kata Henry.

Ia menambahkan, pemerintah kelurahan akan terus menjaga tradisi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat melalui kegiatan budaya seperti Apitan.

Rangkaian Apitan Kelurahan Jomblang 2026 dijadwalkan ditutup pada malam hari dengan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Ki Warseno dari Semarang yang membawakan lakon Wahyu Makutarama.

Tradisi Apitan di Jomblang menunjukkan bahwa nilai syukur, gotong royong, dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat melalui budaya sederhana yang terus dilestarikan. [Maulid Nadalu]