Puasa di Ramadhan membuka tabir: kenikmatan dunia ternyata hanya sekejap, kesabaranlah yang abadi.
Oleh : Imam Trikarsohadi
PUASA Ramadhan ternyata kunci yang membuka tabir kenikmatan dunia yang sesungguhnya.
Apa sebab? Jawabnya, kita menahan dan mengendalikan lapar dan dahaga selama 14 jam, lalu, terasa penuh dan terpuaskan hanya dalam waktu 5-10 menit saja. Inilah fakta bahwa betapa sangat singkatnya kenikmatan dunia.
Dunia menguji kita dengan perjuangan dan penantian nan panjang, lalu memuaskannya hanya dengan sekejap rasa. Jadi, yang lama adalah perjuangannya, bukan kenikmatannya.
Yang cepat bukan laparnya yang hilang, melainkan puasanya yang memudar.
Yang benar – benar penuh bukan perut yang terisi, tapi hati yang terlatih menahan diri.
Puasa Ramadhan mengajarkan kita satu hal, yaitu bahwa kenikmatan dunia itu fana. Namun kesabaranlah yang mengantar kita kepada Ilahi, dan itulah yang menumbuhkan jiwa.
Jadi, jika 5 – 10 menit saja mampu membuat kita lupa akan lapar, maka bayangkan kenikmatan yang terus ada, tak hilang setelah dirasakan, dan sonder meninggalkan rasa kecewa.
Dengan demikian, dunia adalah contoh sangat kecil dan akhirat merupakan jawab komplit dan utuh — disanalah semua kesabaran terbayar tuntas.
Jadi, jika diresapi mendalam, Puasa Ramadhan memang mendidik manusia untuk melepaskan ketergantungan pada hawa nafsu dan materi. Ia merupakan metode penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) untuk mencapai ketakwaan.
Saum melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu yang cenderung menjerumuskan pada keserakahan duniawi.
Dengan menahan makan, minum, dan hubungan seksual dari fajar hingga maghrib, manusia menjinakkan sifat-sifat kebinatangan dalam diri dan menyadari bahwa manusia tidak hidup hanya untuk memenuhi kesenangan fisik.
Lapar dan haus selama berpuasa membongkar kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan sepenuhnya bergantung pada Allah SWT.
Kenikmatan makanan dan minuman yang selama ini dianggap biasa, disadari sebagai karunia yang sangat berharga.
Dengan sifatnya sebagai ibadah yang paling personal dan tersembunyi, puasa mendidik manusia untuk tidak mencari pengakuan duniawi (pencitraan), melainkan murni mencari ridho Allah.
Lewat puasa, manusia juga dididik meruntuhkan tabir egoisme dengan merasakan penderitaan orang lain yang kekurangan. Ini memupuk rasa peduli dan solidaritas sosial, memindahkan fokus dari diri sendiri ke orang lain.
Puasa Ramadhan pun pengingat yang menyerukan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada pemuasan nafsu tak terbatas, melainkan pada pengendalian diri dan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Esensinya, puasa adalah pembuka tabir bahwa kenikmatan dunia hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Puasa mendidik jiwa untuk lebih mementingkan kebahagiaan ukhrawi dibandingkan kesenangan duniawi yang semu. []









