Scroll untuk baca artikel
Kolom

Laku Papat

Redaksi
×

Laku Papat

Sebarkan artikel ini
Malam Mulia

Lebaran bukan sekadar perayaan, tapi perjalanan kembali ke fitrah lewat laku papat: berbagi, memaafkan, dan menyucikan hati.

Oleh: Imam Trikarsohadi

SETIAP orang memiliki cerita yang tak sama saat lebaran Idul fitri. Demikian halnya bagi mereka yang berkesempatan mudik, atau yang tidak pulang kampung oleh aneka sebab musabab, pun punya cerita yang beraneka rupa.

Saat lebaran, diantara kita ada yang merayakanya dengan kelimpahan rezeki. Ada yang bersyukur atas apa yang kita miliki. Tapi, ada yang mengarunginya dengan napas yang terkenal dan tenaga yang tinggal sepenggal.

Demikian juga ; ada perjalanan yang ditempuh dengan segenap kesadaran, ada yang harus menempuh perjalanan dengan kesabaran, serta ada pula yang harus melaluinya tanpa pilihan.

Ada yang bersilaturahmi dengan penuh tawa dan berbagi hadiah, tapi ada yang hanya bisa melangkahkan kaki ke pemakaman dengan air mata yang tumpah.

Namun, dengan pelbagai varian situasi tersebut, ada satu hal yang mengingatkan kita yakni; kembali kepada fitra, membersihkan diri, mengikhlaskan yang pergi, runtuh dan hilang, serta tetap mensyukuri yang ada.

Hal tersebut mengingatkan kita pada ajaran Sunan Kalijaga, dimana lebaran terkait erat dengan “laku papat”(empat tindakan): Lebaran (selesai puasa), Luberan (berbagi rezeki), Leburan (melebur dosa), dan Laburan (menyucikan hati). Tradisi ini fokus pada silaturahmi, pengakuan kesalahan dan penyucian diri lahir batin.

Secara keseluruhan, lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan momen sakral untuk menyatukan kembali hubungan manusia dengan Tuhan (hablun minallah) dan hubungan antar sesama manusia (hablun minannas) dalam keadaan bersih.

Lalu seperti apa diri yang bersih? jawabnya, ia bukan sekadar tentang kebersihan fisik (higienis), melainkan mencakup kesucian hati, pikiran, dan jiwa. Ini adalah pendekatan holistik yang menyelaraskan lahir dan batin untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Kebersihan holistik meliputi kebersihan jasad, kebersihan anggota tubuh, kebersihan pikiran, kebersihan jiwa dan kebersihan roh.

Filosofi ini menekankan bahwa kebersihan adalah nilai fundamental yang mencerminkan kualitas iman seseorang (hadis At-thuhūru syathru al-īmān).

Sebab itu, diri yang bersih adalah proses self-respect (penghormatan diri) dan pemurnian terus menerus, dimana luar dan dalam dirawat untuk mencapai keberkahan, kesehatan, dan ketenangan batin.

Membersihkan diri dimulai dari yang paling lahiriah hingga yang paling dalam (jiwa).

Selamat lebaran Idul fitri, mohon maaf lahir bathin. []