Safari Lebaran Gus Yahya menghasilkan usulan dari KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar ke-35 NU digelar di Pesantren Lirboyo
BARISAN.CO – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), melakukan rangkaian safari Lebaran 1447 H dengan mengunjungi sejumlah kiai sepuh di Jawa Timur pada Sabtu (28/03/2026).
Kegiatan ini tidak sekadar silaturahmi, tetapi juga menjadi momentum untuk meminta nasihat sekaligus berdiskusi mengenai arah organisasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Dalam kunjungan tersebut, Gus Yahya mendatangi beberapa pesantren besar. Ia bersilaturahmi dengan KH Nurul Huda Djazuli di Pondok Pesantren Ploso, Kediri; KH Anwar Manshur di Pondok Pesantren Lirboyo; KH Fuad Nur Hasan di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan; serta KH Idris Hamid di Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah, Pasuruan.
Menurut Gus Yahya, pertemuan dengan para kiai sepuh sarat dengan pesan penting. Para ulama tersebut menekankan perlunya kesabaran dalam mengelola organisasi serta konsistensi dalam menjaga dan menata jam’iyah NU di tengah dinamika yang semakin kompleks.
Salah satu penekanan utama disampaikan oleh KH Nurul Huda Djazuli, yang menegaskan bahwa kekuatan utama NU terletak pada kiai dan pesantren sebagai pilar utamanya.
Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga muncul usulan terkait lokasi pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. KH Nurul Huda Djazuli, yang akrab disapa Kiai Da, mengusulkan agar muktamar digelar di lingkungan pesantren, bahkan secara khusus di Pondok Pesantren Lirboyo. Usulan ini, menurut Gus Yahya, telah disampaikan langsung kepada KH Anwar Manshur dan mendapatkan respons positif dari keluarga besar Lirboyo.
Di sisi lain, PBNU saat ini tengah mempersiapkan berbagai tahapan menuju Muktamar yang diperkirakan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026.
Dalam waktu dekat, PBNU juga akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama serta Konferensi Besar (Konbes) NU 2026, yang dijadwalkan pada April atau Mei 2026. Hasil pembahasan dalam forum tersebut akan menjadi bahan utama dalam Muktamar.
Gus Yahya menegaskan bahwa safari ini mencerminkan tradisi khas NU, di mana keputusan strategis tidak hanya dihasilkan melalui forum formal, tetapi juga melalui jalur kultural seperti silaturahmi dan dawuh para kiai sepuh. Dari proses inilah, arah kebijakan organisasi kerap memperoleh legitimasi moral yang kuat. [Bahan Nu Online]









