Scroll untuk baca artikel
Kolom

Ketika Dunia Kehilangan Orientasi

Redaksi
×

Ketika Dunia Kehilangan Orientasi

Sebarkan artikel ini
Hidup Sonder Validasi

Saat dunia masuk “zona abu-abu”, siapa yang masih memegang arah?

Oleh: Imam Trikarsohadi

ENTAH seperti apa akhir cerita dari tragedi yang dipicu Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu terkait penyerbuan ke Iran sehingga menimbulkan aneka krisis ke seluruh dunia.

Demikian juga nasib Iran kedepan dan negara – negara di jazirah Arab, entah seperti apa kedepannya.

Apalagi, Trump sepertinya tak hendak mengeliminir konflik dan dampaknya, siapa saja yang dirasa tak mendukung ambisinya, maka akan diserang dan dimusuhi. Di satu sisi, sejauh ini, tak nampak satu kekuatan pun, termasuk PBB, yang punya daya tawar sebagai penengah.

Terakhir, Trump telah menerbitkan unggahan panjang di media sosial yang mengkritik Paus Leo XIV. Ia bahkan menyebutnya “lemah dalam menangani kejahatan” dan “buruk untuk kebijakan luar negeri”.

“Serangan” yang tidak biasa terhadap kepala Gereja Katolik ini menyusul pernyataan Paus Leo yang mendesak diakhirinya perang di Iran dan mengatakan bahwa “khayalan kemahakuasaan” mendorong konflik tersebut.

Rangkaian berbagai peristiwa tersebut semakin menandaskan bahwa peta geopolitik dunia saat ini sedang mengalami krisis orientasi atau berada dalam “ruang abu-abu yang berbahaya”, ditandai dengan melemahnya norma-norma internasional, ketidakpastian biner, dan krisis kedaulatan global yang meningkat.

Beberapa pertanda bahwa kondisi geopolitik kehilangan orientasi diantaranya geopolitik tidak lagi bergerak dalam kepastian biner antara perang dan damai yang mudah dikenali, melainkan berada di area abu-abu, di mana konflik terjadi tanpa deklarasi perang terbuka, membuat orientasi diplomasi dan pertahanan menjadi sulit diprediksi.

Selain itu telah terjadi krisis kedaulatan dan peta berdarah sedemikian rupa. Tahun 2025-2026 mencatat sejarah geopolitik global di mana peta dunia kembali “berdarah” oleh konflik kedaulatan yang nyata, di mana perbatasan menjadi ajang ujian nyata, bukan hanya tinta di atas kertas.

Demikian juga dengan porak – porandanya norma global. Krisis ini ditandai dengan melemahnya norma-norma internasional yang sebelumnya menjadi acuan perilaku antarnegara, menciptakan situasi di mana tindakan agresif seringkali tidak mendapatkan sanksi yang efektif.

Sebab itu semua, dunia saat ini membutuhkan pemahaman ulang ihwal peta global dan geopolitik, terutama mengingat pertempuran adidaya berada di puncaknya, yang seringkali mengabaikan kepentingan negara-negara lain.

Di tengah kompleksitas ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk tidak kehilangan orientasi bebas aktif, mempertahankan ketahanan nasional, dan menjaga kedaulatan di tengah pusaran kekuatan global.

Secara keseluruhan, dunia merindukan etika dan moral sebagai panduan, di tengah pergeseran kekuasaan yang membuat orientasi strategis negara-negara menjadi tidak jelas.

Dengan dinamika geopolitik global yang kehilangan orientasi, maka target utama yang mesti diupayakan Indonesia, yang diantaranya melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke berbagai negara adalah mengamankan kepentingan nasional, menjaga stabilitas ekonomi, dan memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah global.

Fokus utamanya meliputi pertahanan, investasi, serta membuka akses pasar yang lebih luas untuk menciptakan lapangan kerja.

Titik garapannya antara lain berupa penguatan ekonomi dan investasi, diantaranya berupa kerja sama ekonomi komprehensif (seperti CEPA dengan Uni Eropa dan Kanada) untuk mempermudah ekspor produk Indonesia.

Selanjutnya adalah memperkuat pilar pertahanan bilateral melalui penandatanganan nota kesepahaman, latihan militer bersama, dan pengembangan industri pertahanan.

Kita juga perlu melakukan diplomasi aktif berupa menjalankan prinsip politik luar negeri bebas aktif dengan membangun hubungan baik dengan kekuatan besar seperti AS, Rusia, China dan negara – negara Eropa tanpa berpihak, serta menghindari tekanan global.

Fokus berikutnya adalah mengamankan kepentingan nasional yakni, memastikan kedaulatan dan kebutuhan energi (seperti upaya mengamankan minyak) melalui pendekatan langsung kepada pemimpin negara mitra.

Yang juga krusial untuk dilakukan dalam situasi dunia yang makin kacau adalah membangun kemitraan strategis di berbagai kawasan, termasuk Eropa, Asia, dan Timur Tengah, untuk meningkatkan investasi.

Jadi, jika Presiden Prabowo acapkali melakukan lawatan luar negeri, saya kira itu adalah ikhtiar diplomasi langsung guna menindaklanjuti hasil kerja menteri secara strategis. Kunjungan – kunjungan tersebut menekankan pentingnya diplomasi kilat dalam dinamika geopolitik saat ini.

Ancaman besar sudah terasa dan mungkin akan semakin menggila, jadi sebaiknya seluruh energi dikerahkan guna mengantisipasinya. []