Polemik final cerdas cermat di Kalbar jadi pelajaran bahwa kompetisi prestasi harus dinilai adil, profesional, dan oleh ahlinya.
Oleh: Imam Trikarsohadi
MAJELIS Permusyawaratan Rakyat (MPR) memutuskan bakal menggelar ulang final cerdas cermat antar SMA di Kalimantan Barat buntut polemik penjurian yang viral dan menjadi sorotan.
Keputusan itu disampaikan Ketua MPR, Ahmad Muzani dalam jumpa pers di kompleks parlemen, Rabu 23 Mei 2026.
Pihaknya juga telah memutuskan bahwa dalam final ulang, juri akan dipilih secara independen di luar Sekretariat Jenderal (Setjen) MPR. Mereka akan diambil dari unsur akademisi di wilayah Kalimantan Barat.
Seperti diketahui, insiden viral dalam final lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat itu bermula saat dewan juri memberi nilai berbeda terhadap jawaban yang sama oleh regu B dan C dalam pertanyaan rebutan.
Grup C dari SMAN 1 Pontianak yang menekan bel terlebih dahulu menjawab bahwa anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.
Namun, Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita selaku dewan juri memberi nilai -5 atau menyalahkan jawaban Grup C itu.
Pertanyaan itu kemudian dilempar dan dijawab regu B dengan memberikan jawaban yang sama. Namun, juri memberikan 10 poin atau membenarkan jawaban mereka. Salah satu peserta di regu C pun langsung memprotes.
Mereka menunjukkan ekspresi bingung lantaran jawabannya disalahkan meski sama.
Namun Dyastasita tetap kekeuh dan beralasan jawaban regu C tidak menyertakan Dewan Perwakilan Daerah atau DPD. Grup C pun kembali memprotes dengan mengatakan jawaban awal telah menyertakan Dewan Perwakilan Daerah. Namun, Dyastasita tidak mengubah keputusannya.
Sementara dewan juri lainnya, yakni Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR, Indri Wahyuni justru meminta agar peserta memperjelas artikulasi saat menjawab pertanyaan.
MPR belakangan menyampaikan permintaan maaf soal viral keputusan dewan juri, sekaligus memutuskan lomba akan diulang dengan dewan juri yang netral.
Apa yang terjadi di Kalimantan Barat, apa boleh buat, hal itu merupakan fakta bahwa jika urusan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka, selalu saja akan memantik persoalan. Dan alasan artikulasi dari para juri adalah jawaban yang tidak menjawab, sekaligus menyebalkan.
Padahal, sejatinya, cerdas cermat adalah perpaduan antara ketajaman intelektual (cerdas) dan ketangkasan bertindak (cermat) yang diaplikasikan dalam kecepatan, ketepatan, dan kerjasama tim.
Ini bukan sekadar kompetisi pengetahuan, melainkan simulasi kehidupan yang menuntut fokus, kepercayaan diri, dan kemampuan mengambil keputusan tepat di bawah tekanan.
Sebab itu, tiap siswa yang terpilih menjadi tim cerdas cermat akan mengalami sebuah proses panjang sebelum tiba pada waktu kompetisi.
Karena dibalik jawaban cepat saat lomba, ada waktu ekstra yang dibutuhkan, ada berbagai literiasi yang perlu dipelajari dan dihapal, ada diskusi antar anggota tim dan pembimbing yang bisa jadi belum selesai hingga waktu lomba, dan tentu ada do’a personal maupun kolektif.
Dalam lomba cerdas cermat, para siswa dituntut punya keseimbangan pengetahuan dan ketepatan. Cerdas saja tidak cukup jika tidak cermat (teliti) dalam menjawab, dan cermat saja tidak cukup jika tidak dibekali kecerdasan (wawasan). Keduanya harus sejalan.
Lomba ini juga sebagai ajang melatih kemampuan berpikir cepat (berpikir kritis dan responsif) di bawah tekanan waktu. Ia juga memerlukan kerjasama dan sinergi tim, sebab keberhasilan tidak bergantung pada satu orang saja, melainkan gabungan dari berbagai kemampuan anggota tim yang saling melengkapi.
Demikian halnya dengan sportivitas dan mentalitas juara. Lomba ini mengajarkan untuk menerima kekalahan dengan lapang dada dan menghargai keunggulan lawan, serta berani memperjuangkan kebenaran jawaban. Selain juga mendorong sifat rendah hati untuk terus belajar karena orang cerdas sadar bahwa ilmu pengetahuan sangat luas.
Ringkasnya, melaui lomba cerdas cermat terkandung pesan yang menandaskan bahwa proses belajar yang serius, disertai dengan ketangkasan dan kerjasama, adalah inti dari keberhasilan.
Sebab itu, lomba ini bisa dikatakan agung dalam upaya mencetak generasi penerus yang berkualitas dan kompetitif, jadi ya jangan diproses secara semprul. []









