Sekolah bukan bengkel manusia; pendidikan anak tumbuh dari kerja bersama keluarga, guru, dan lingkungan yang saling menguatkan.
Oleh: Syaiful Rozak
(Guru MTs Mazro’atul Ulum)
BEBERAPA orang tua mungkin ada yang beranggapan bahwa sekolah itu seperti bengkel. Mereka datang ke sekolah dengan membawa anak yang dianggap sedang mengalami kerusakan. Entah itu malas belajar, nakal atau sulit diatur. Kemudian menyerahkan anak kepada guru dengan harapan agar berubah menjadi baik.
Orang tua merasa tidak perlu lagi terlibat dalam mendidik anak karena sudah di serahkan pada sekolah yang dianggap bisa merubah anak menjadi pintar dan berakhlak. Fokus orang tua bekerja dan memastikan biaya sekolah anak aman dan terjamin.
Menganggap sekolah seperti bengkel adalah cara pandang yang keliru dalam pendidikan. Sekolah bukan bengkel manusia, guru bukan montir dan murid bukan barang rusak. Orang tua perlu terlibat dalam pendidikan anak. Pendidikan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada sekolah. Pendidikan memerlukan kerja sama tim.
Mendidik anak tidak seperti merawat barang. Anak bukan benda mati yang bisa dibentuk sesuai dengan kehendak guru. Setiap anak memiliki bakat, potensi dan kecerdasan masing-masing. Tugas guru adalah mendidik agar bakat, potensi dan kecerdasan anak bisa berkembang semaksimal mungkin.
Keluarga Adalah Madrasah Pertama
Keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Anak tumbuh dan berkembang pertama kali ada di lingkungan keluarga. Sebelum mendapat pendidikan sekolah, anak terlebih dahulu mendapat pendidikan dari orang tuanya.
Anak belajar dari orang tuanya melalui tindakannya dalam sehari-hari. Anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan tumbuh percaya diri, memiliki kecerdasan emosional yang baik serta pandai menjalin hubungan yang sehat. Sementara anak yang dibesarkan dengan kekerasan seringkali tumbuh dengan luka emosional yang mendalam, kepercayaan diri yang rendah serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.
Pendidikan karakter paling efektif dimulai dari keluarga. Karena dari sinilah anak mulai belajar tentang sopan-santun dan cara berkomunikasi. Anak belajar bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya. Anak memperhatikan ibunya dalam hubungannya dengan ayahnya. Anak menirukan orang tuanya dalam memperlakukan dirinya dalam lingkungan sekitarnya. Karakter anak terbentuk melalui kebiasaan, perilaku dan pola asuh orang tua dalam keluarga.
Pendidikan di sekolah di pengaruhi oleh pendidikan dalam keluarga. Pendidikan keluarga adalah pondasi karakter anak. Jangan berharap pendidikan di sekolah dapat mencetak anak yang cerdas dan berakhlak mulia jika pendidikan dalam keluarga saja masih bermasalah. Ibarat sebuah rumah, sebelum berdiri dengan kokoh dan megah, maka pondasinya harus kuat terlebih dahulu.
Masyarakat Perlu Terlibat
Dalam pandangan Ki Hajar Dewantara pendidikan adalah tanggung jawab bersama keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Tanpa keterlibatan dari masyarakat pendidikan tidak akan berjalan dengan sempurna. Masyarakat adalah pilar penting bagi tumbuhnya sekolah yang berkualitas.
Anak tumbuh dan berkembang dalam tiga lingkungan (keluarga-sekolah-masyarakat) secara bersamaan. Masing-masing lingkungan memberi pengaruh pada karakter anak. Lingkungan yang positif berpengaruh pada karakter yang baik, sementara lingkungan yang buruk dapat memicu perilaku menyimpang.
Ada contoh menarik terkait ini. Dalam sebuah keluarga seorang anak dididik orang tuanya untuk taat lalu lintas. Di sekolah ada sosialisasi simulasi berkendara motor dengan baik dan benar dengan mengundang narasumber dari kepolisian. Dari pendidikan tersebut anak menjadi tahu cara berkendara motor dengan baik serta pentingnya taat lalu lintas.
Namun bila pelajaran diatas tidak didukung oleh lingkungan masyarakat, maka hasilnya tidak akan maksimal. Anak akan melihat perilaku masyarakat sekitar dalam berlalu lintas. Dalam masyarakat yang taat lalu lintas, anak akan menyerap pelajaran dengan positif. Dalam masyarakat yang tidak taat lalu lintas, pelajaran tersebut menjadi tidak relevan.
Walaupun domain pendidikan ada pada keluarga dan sekolah, itu tidak berarti bahwa masyarakat tidak terkait dengan pendidikan. Keterlibatan masyarakat dalam pendidikan sangat dibutuhkan sekolah dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Setiap anak adalah bagian dari masyarakat. Anak yang lulus sekolah nantinya akan kembali dalam kehidupan masyarakat. Bentuk keterlibatan masyarakat dalam pendidikan adalah partisipasi aktif, turut membangun lingkungan yang positif serta memberikan masukan serta pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah. []







