Scroll untuk baca artikel
Berita

Proyek Hilirisasi Ayam Rp16,7 Triliun Siap Dibangun di 30 Provinsi, Solusi Pangan atau Beban Baru Negara?

×

Proyek Hilirisasi Ayam Rp16,7 Triliun Siap Dibangun di 30 Provinsi, Solusi Pangan atau Beban Baru Negara?

Sebarkan artikel ini
Proyek Hilirisasi Ayam
Ilustrasi Ai ChatGbt

Dana awal Rp5 triliun disiapkan untuk proyek hilirisasi ayam nasional, namun efektivitasnya bagi peternak rakyat masih menjadi sorotan.

BARISAN.CO – Ekonom Awalil Rizky menilai proyek hilirisasi peternakan ayam yang akan dikembangkan Danantara patut diapresiasi karena menyasar salah satu persoalan utama peternakan nasional, yakni tingginya biaya pakan dan ketergantungan terhadap bibit unggul impor.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Kementerian Pertanian, proyek tersebut akan dimulai di lima provinsi, yaitu Gorontalo, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Dana awal yang telah disetujui mencapai sekitar Rp5 triliun dan akan dicairkan secara bertahap.

Menurut Awalil, pembangunan pabrik pakan ayam merupakan langkah strategis. Selama ini, harga pakan menjadi keluhan utama peternak karena cenderung mahal dan berfluktuasi. Kehadiran pabrik pakan yang dikelola negara diharapkan dapat membantu menstabilkan harga sekaligus meningkatkan kualitas pakan yang tersedia bagi peternak.

Selain pabrik pakan, proyek ini juga mencakup pembangunan fasilitas parent stock dan grand parent stock, yaitu sistem pembibitan yang menjadi sumber produksi DOC (day old chick) atau anak ayam umur sehari. Indonesia memang telah mampu memproduksi DOC sendiri, namun masih bergantung pada impor grand parent stock (GPS) sebagai sumber bibit indukan.

Karena itu, Awalil menilai aspek pembibitan menjadi bagian penting yang perlu dicermati. Jika proyek ini mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor GPS, maka manfaatnya akan sangat besar bagi kemandirian industri perunggasan nasional. Namun ia mengingatkan bahwa teknologi pembibitan tingkat hulu tergolong kompleks dan membutuhkan investasi yang tidak kecil.

Di sisi lain, Awalil mengajak masyarakat untuk mencermati pelaksanaan proyek yang total nilainya mencapai Rp16,7 triliun dan direncanakan menjangkau 30 provinsi hingga tahun 2030. Program tersebut menargetkan pembangunan 337 unit fasilitas peternakan serta peningkatan produksi daging dan telur ayam nasional.

Menurutnya, proyek ini menyangkut kepentingan ratusan ribu peternak rakyat sehingga harus dirancang secara matang. Yang perlu dipastikan bukan hanya pembangunan pabrik pakan dan fasilitas pembibitan, tetapi juga sejauh mana peternak dan koperasi benar-benar dilibatkan dalam ekosistem usaha yang dibangun.

Awalil menilai masuknya negara secara lebih aktif dalam sektor peternakan dapat menjadi langkah positif. Negara tidak lagi hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai pelaku usaha melalui BUMN seperti PT Berdikari, ID Food, dan lembaga terkait lainnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proyek berskala besar selalu mengandung risiko. Semakin besar anggaran dan cakupan program, semakin besar pula potensi inefisiensi maupun kebocoran yang harus diantisipasi. Karena itu, transparansi, pengawasan, serta keterlibatan publik menjadi faktor penting agar manfaat proyek benar-benar dirasakan peternak dan konsumen.

Awalil juga mengajukan pertanyaan mendasar mengenai posisi Danantara dalam proyek ini. Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah memiliki BUMN pangan dan Kementerian Pertanian yang selama ini menangani sektor peternakan. Karena itu, publik perlu melihat lebih jauh nilai tambah apa yang diberikan Danantara dibandingkan mekanisme yang selama ini sudah tersedia.

Pada akhirnya, ia menilai proyek hilirisasi ayam ini merupakan langkah yang menjanjikan apabila dirancang sesuai kebutuhan lapangan dan dijalankan secara profesional. Jika berhasil, program tersebut tidak hanya memperkuat industri perunggasan nasional, tetapi juga dapat menurunkan biaya produksi peternak dan menjaga harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat. []

Video selengkapnya: