Scroll untuk baca artikel
Berita

Ekonom Bright Institute: Utang Pemerintah Berpotensi Tembus Rp10.600 Triliun pada Akhir 2026

×

Ekonom Bright Institute: Utang Pemerintah Berpotensi Tembus Rp10.600 Triliun pada Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
utang pemerintah 2026
Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky

Ekonom Bright Institute Awalil Rizky menilai pelebaran defisit APBN menjadi 2,85% PDB akan mendorong peningkatan pembiayaan utang, termasuk lonjakan pinjaman luar negeri. Simak analisis lengkapnya.

BARISAN.CO – Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, memperkirakan posisi utang pemerintah Indonesia akan mencapai sekitar Rp10.600 triliun pada akhir 2026. Proyeksi tersebut seiring dengan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang diakui pemerintah dalam laporan pelaksanaan APBN Semester I 2026.

Dalam analisisnya, Awalil menyebut pemerintah memproyeksikan defisit APBN 2026 melebar menjadi Rp734,32 triliun atau 2,85 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibanding target awal sebesar Rp689,15 triliun atau 2,68 persen PDB.

Menurut Awalil, pelebaran defisit tersebut akan diikuti dengan peningkatan pembiayaan utang. Pemerintah memprakirakan pembiayaan utang neto naik menjadi Rp868,12 triliun, lebih tinggi dari target APBN sebesar Rp832,21 triliun.

Ia menyoroti perubahan komposisi pembiayaan utang pada 2026. Pembiayaan melalui Surat Berharga Negara (SBN) neto justru diperkirakan turun menjadi Rp736,57 triliun dari target Rp799,53 triliun.

Namun, penurunan itu diimbangi lonjakan pinjaman luar negeri neto yang diproyeksikan mencapai Rp137,50 triliun, jauh di atas rencana awal sebesar Rp39,21 triliun.

Awalil juga memperkirakan pemerintah harus melakukan penarikan utang baru dalam jumlah besar. Dengan asumsi pelunasan pokok utang sepanjang 2026 mencapai sekitar Rp900 triliun, maka kebutuhan penarikan utang bruto diperkirakan mencapai kisaran Rp1.768 triliun.

Ia menjelaskan, posisi utang pemerintah tercatat sebesar Rp9.638 triliun pada akhir 2025. Ditambah pembiayaan utang neto sebesar Rp868 triliun serta potensi kenaikan akibat pelemahan nilai tukar rupiah sekitar Rp100 triliun, maka total utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan menembus Rp10.600 triliun.

Di sisi lain, pemerintah memproyeksikan pendapatan negara 2026 mencapai Rp3.208,1 triliun atau 101,73 persen dari target APBN.

Sementara itu, belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.942,4 triliun atau 102,95 persen dari pagu yang telah ditetapkan. Menurut Awalil, kenaikan belanja yang lebih tinggi dibanding pendapatan menjadi faktor utama pelebaran defisit APBN tahun depan. []

Selengkapnya baca: Barisandata