Scroll untuk baca artikel
Berita

Antologi Puisi Setengah Tiang Diluncurkan di Semarang, Potret Indonesia yang Limbung

Redaksi
×

Antologi Puisi Setengah Tiang Diluncurkan di Semarang, Potret Indonesia yang Limbung

Sebarkan artikel ini
Antologi Puisi Setengah Tiang Diluncurkan di Semarang
Imaniar Christy membahas Setengah Tiang; Antologi Puisi Tiga Penyair/Foto: Donny Danardono

Antologi puisi Setengah Tiang resmi diluncurkan di Lauk Buku Semarang, menghadirkan kritik sosial melalui pembacaan puisi dan bedah buku.

BARISAN.CO – Antologi puisi Setengah Tiang resmi diluncurkan di Kafe Lauk Buku, Kompleks Stadion Diponegoro, Kota Semarang, Sabtu (27/6/2026). Peluncuran buku ini menghadirkan pembacaan puisi, bedah buku, hingga pertunjukan musik instrumental yang mengangkat kritik sosial terhadap kondisi Indonesia melalui karya sastra.

Suasana peluncuran berlangsung sederhana di ruang terbuka Kafe Lauk Buku yang berukuran sekitar lima kali tiga meter. Aroma kopi tubruk bercampur bau khas kertas buku-buku lama menyambut para pengunjung yang memadati lokasi hingga meluber ke jalan kecil di depan kafe.

Sesekali lampu kendaraan dan suara mesin motor melintas membelah kerumunan. Namun suasana tetap khidmat ketika pembacaan puisi dimulai.

Antologi Setengah Tiang merupakan karya bersama tiga penyair, yakni Beno Siang Pamungkas, Slamet Priyatin, dan Lukni Maulana. Ketiganya membacakan puisi dengan karakter dan gaya masing-masing yang sarat kritik terhadap realitas sosial.

Judul Setengah Tiang dipilih sebagai metafora kondisi “setengah mabuk”. Dalam buku tersebut, kemabukan dimaknai sebagai gambaran Indonesia yang sedang limbung menghadapi berbagai persoalan sosial, politik, dan kemanusiaan. Melalui puisi, ketiga penyair menghadirkan protes, kegelisahan, sekaligus katarsis atas situasi yang mereka rasakan.

Selain pembacaan puisi oleh para penulis, penyair Any Faiqoh turut membacakan sejumlah puisi pilihan dari antologi tersebut. Penampilannya menghadirkan interpretasi berbeda sehingga karya-karya dalam buku terasa lebih dekat dengan penonton.

Acara juga dimeriahkan musik instrumental dari Mere Nauval, yang mengiringi suasana malam dan memperkuat nuansa reflektif selama peluncuran berlangsung.

Dalam sesi bedah buku, Imaniar Christy menilai kekuatan utama Setengah Tiang terletak pada keberagaman karakter para penyair.

“Yang unik dari antologi ini adalah adanya perbedaan karakter dari masing-masing penyair,” ujar Imaniar.

Menurutnya, perbedaan gaya bahasa, pilihan diksi, hingga cara pandang membuat antologi tersebut tidak terasa monoton meski hanya ditulis oleh tiga penyair.

Peluncuran Setengah Tiang sekaligus menjadi penanda bahwa ruang-ruang literasi independen seperti Lauk Buku masih menjadi tempat bertemunya penulis, pembaca, dan penikmat sastra. Di tengah suasana sederhana, puisi kembali menjadi medium untuk menyampaikan kritik, keresahan, sekaligus harapan terhadap kondisi bangsa. []