Scroll untuk baca artikel
Berita

Menara Masjid Jami’ Tambakberas Jadi Simbol Utama Logo Muktamar ke-35 NU, Panlok Tegaskan Makna Netralitas dan Persatuan

×

Menara Masjid Jami’ Tambakberas Jadi Simbol Utama Logo Muktamar ke-35 NU, Panlok Tegaskan Makna Netralitas dan Persatuan

Sebarkan artikel ini
Menara Masjid Tambakberas
Menara Masjid Tambakberas/Foto: MWCNU Kota Jombang

BARISAN.CO – Menara Masjid Jami’ Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, ditetapkan sebagai simbol utama dalam logo resmi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Ikon bersejarah tersebut ditempatkan tepat di tengah angka “3” pada visualisasi angka “35”, sebagai representasi nilai netralitas, persatuan, dan cita-cita luhur para pendiri NU.

Makna filosofis tersebut disampaikan Ketua Panitia Lokal (Panlok) Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq, saat memimpin Rapat Koordinasi Panlok bersama MWCNU Jombang di lantai dua Kantor PP Bahrul Ulum Tambakberas, Selasa (28/7/2026).

Menurut Gus Rozaq, penempatan Menara Masjid Jami’ Tambakberas di pusat logo bukan sekadar elemen desain, melainkan memiliki pesan mendalam mengenai posisi panitia lokal yang harus menjaga netralitas dalam menyukseskan muktamar.

“Tambakberas saat ini berdiri di atas posisi netral. Karena itulah, menara bersejarah ini saya sematkan sebagai simbol utama logo Muktamar. Ia adalah perlambang sikap merangkul semua golongan, kekokohan jam’iyah, serta tingginya cita-cita para muassis (pendiri) NU,” tutur Gus Rozaq.

Ia menjelaskan, terdapat lima makna filosofis yang menjadi dasar dipilihnya Menara Masjid Jami’ Tambakberas sebagai identitas visual Muktamar ke-35 NU.

Pertama, menara melambangkan netralitas sekaligus sikap merangkul seluruh elemen Nahdlatul Ulama. Letaknya yang berada tepat di tengah angka “3” mencerminkan posisi panitia lokal yang berkhidmah secara adil, moderat (tawasuth), dan tidak berpihak kepada kelompok mana pun.

Kedua, pondasi menara menggambarkan kokohnya aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang menjadi pegangan warga Nahdliyin, sekaligus simbol kuatnya persatuan dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Ketiga, bentuk menara yang menjulang tinggi menjadi perlambang cita-cita besar para muassis NU dalam meninggikan ilmu pengetahuan, membangun akhlak mulia, dan memperkuat peradaban Islam Aswaja di tingkat nasional maupun dunia.

Keempat, menara dimaknai sebagai mercusuar penunjuk arah. Sebagaimana menara yang terlihat dari kejauhan, Nahdlatul Ulama diharapkan terus menjadi penuntun moral, penyebar nilai-nilai perdamaian, serta menghadirkan keteduhan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima, Menara Masjid Jami’ Tambakberas juga menjadi simbol rumah bersama yang inklusif. Filosofi tersebut mencerminkan semangat menerima seluruh warga NU tanpa membedakan latar belakang maupun kelompok, sehingga semua merasa memiliki ruang yang sama dalam organisasi.

Gus Rozaq menegaskan bahwa seluruh jajaran Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU memiliki komitmen memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh peserta dan tamu muktamar tanpa membawa kepentingan politik praktis.

“Misalkan nanti ada sembilan kandidat calon yang muncul, semuanya akan kami sambut dan rangkul dengan porsi yang sama. Tugas Panlok murni sebagai pelayan muktamar. Secara visual logonya memang angka 35, namun ruh utamanya adalah Menara Masjid Jami’. Menara ini saksi bisu bahwa Muktamar ke-35 digelar di rumah yang teduh dan netral,” pungkasnya.

Penempatan Menara Masjid Jami’ Tambakberas sebagai ikon utama logo Muktamar ke-35 NU sekaligus menegaskan posisi Pondok Pesantren Bahrul Ulum sebagai salah satu pusat sejarah perkembangan Nahdlatul Ulama.

Melalui simbol tersebut, panitia berharap semangat persatuan, moderasi, dan pelayanan kepada seluruh warga Nahdliyin dapat menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan muktamar mendatang. []