Sekjen DPP PKB soroti pola organisasi NU yang dinilai masih sebatas “kerumunan”, bukan barisan dengan koordinasi yang jelas dari atas hingga bawah.
BARISAN.CO – Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) H Hasanuddin Wahid atau Cak Udin menyebut Nahdlatul Ulama (NU) masih menjadi “organisasi kerumunan”, bukan barisan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah video yang beredar di media sosial Facebook melalui akun Nahdliyyin Bersatu dengan keterangan “NU masih menjadi organisasi kerumunan #muktamarnu35”, Selasa (11/8/2026).
Hasanuddin menilai NU selama ini lebih banyak memelihara pola berkumpul dalam berbagai kegiatan, tetapi belum memiliki pola koordinasi organisasi yang jelas dari tingkat pusat hingga struktur paling bawah.
“Selama ini kita masih memelihara NU ini menjadi organisasi kerumunan, bukan barisan,” kata Hasanuddin dalam video tersebut.
Ia menggambarkan kondisi NU sebagai organisasi yang kerap menggelar berbagai kegiatan dan berkumpul di banyak tempat. Namun, menurutnya, aktivitas tersebut belum otomatis menunjukkan adanya barisan organisasi dengan koordinasi dan arah yang sama.
“Orang kita sering berkerumun kok. Hari ini kita berkerumun sore ini di sini, nanti pindah lagi kerumun di mana kerumun, tapi semuanya kerumun-kerumunan. Tidak ada berdasarkan orkestrasi yang jelas,” ujarnya.
Hasanuddin kemudian membandingkan pola komunikasi dan koordinasi NU dengan institusi lain, termasuk kepolisian. Ia menilai organisasi lain memiliki mata rantai komunikasi yang lebih jelas ketika pimpinan mengeluarkan sebuah perintah.
“Lho masa kalah lo polisi itu ada telegram ya, Pak BBG ya? Ada telegram, ada mata rantai grup WA dan sebagainya. Perintah dari pimpinan tertingginya apa, ke bawahnya telegram,” katanya.
Menurut Hasanuddin, pola tersebut belum terlihat dalam struktur NU. Ia mempertanyakan ketika PBNU mengeluarkan sebuah keputusan atau arahan, apakah keputusan tersebut otomatis diterjemahkan oleh pengurus NU hingga tingkat cabang dan ranting.
“Kan ketika PBNU bilang A mestinya di cabang kan A, kan? Enggak, mereka nanya kok. Nanya ke BKP, nanya ke polisi, nanya ke bandar,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut berkaitan dengan adanya pihak-pihak di luar struktur NU yang menurutnya memiliki pengaruh terhadap pengurus di tingkat bawah.
“Karena mereka yang menghidupi di bawah ya BKP, ya Gerindra, ya Polisi. Mohon maaf. Apa itu yang namanya barisan? Menurut saya enggak. Menurut saya itu kerumunan,” kata Hasanuddin.
Hasanuddin menegaskan perbedaan antara kerumunan dan barisan terletak pada adanya garis koordinasi serta kesamaan arah organisasi. Menurutnya, apabila pimpinan NU telah mengambil suatu sikap, struktur di bawahnya semestinya memiliki arah yang sama.
“Kalau barisan itu PBNU-nya bilang A, Rais Am-nya bilang A, di bawah itu mestinya A. Lho ini enggak kok,” ujarnya.
Pernyataan Hasanuddin tersebut kemudian mendapat respons dari Fathurrahman Jr. melalui kolom komentar pada unggahan Facebook yang sama. Fathurrahman menilai istilah “organisasi kerumunan” tidak selalu menjadi persoalan bagi NU.
“NU sebagai organisasi kerumunan itu tidak ada soal dan tidak masalah. Istighotsahan, ratiban, info awal bulan itu tradisi yang harus tetap dipelihara dengan baik,” tulis Fathurrahman.
Menurut Fathurrahman, persoalan yang perlu dikritisi bukan aktivitas berkumpulnya warga NU, melainkan apabila ruang tersebut hanya digunakan untuk membahas persoalan politik internal, pembagian kekuasaan, atau upaya saling menjatuhkan sesama Nahdliyin.
“Yang menjadi soal dan masalah itu adalah ketika berkerumun lalu topik pembahasannya hanya soal gibah politik, bagi-bagi kekuasaan tanpa melihat apakah ini bermanfaat untuk umat atau tidak, atau sarasehan semacam ngolah-ngolah isu untuk saling menjatuhkan antar sesama nahdliyin,” tulisnya.
Ia menilai kritik Hasanuddin memiliki tujuan yang baik, tetapi pengelolaan organisasi NU menurutnya juga harus melihat realitas kehidupan warga Nahdliyin.
“Kang Hasan tujuan kritiknya baik, cuma tidak cukup organisasi itu diurus dengan idealitas, namun membutuhkan realitas,” tulis Fathurrahman.
Fathurrahman menambahkan, agenda berkumpul dalam tradisi NU tetap memiliki fungsi sosial sebagai ruang pertemuan warga. Terlebih, di tengah perkembangan komunikasi digital, pertemuan langsung dinilai semakin memiliki arti penting.
“Realitasnya bahwa warga NU menjadikan agenda kerumunan sebagai ruang pertemuan suasana baik yang dimana di tengah keterbukaan media komunikasi digital berkerumun menjadi sesuatu yang sangat langka,” tulisnya. []









