Ramainya Pasar Kliwon Gunungpati tak hanya dipenuhi pemburu sayur dan petai, tetapi juga ibu-ibu yang berburu bibit cabai, tomat, hingga tanaman hortikultura untuk ditanam di rumah.
BARISAN.CO – Pasar Gunungpati, Kota Semarang, kembali menjadi lautan manusia pada Minggu Kliwon, (20/9/2026). Pasaran Kliwon yang hanya datang setiap lima hari sekali ini memang menjadi hari paling ditunggu warga Semarang atas.
Jika hari biasa pasar hanya buka seadanya, maka setiap Kliwon, seluruh area pasar meluas hingga ke pelataran luar dan dipadati ribuan pedagang dan pembeli.
Sejak pukul 06.00 WIB pagi tadi, kepadatan sudah terlihat di pintu masuk. Warga dari Sekaran, Sadeng, Cepoko, Patemon, hingga dari luar Gunungpati tumpah ruah.
Suara tawar-menawar, deru motor yang membawa karungan sayur, dan embikan kambing berpadu menjadi orkestra khas pasar tradisional yang hidup dan penuh semangat.
Di lorong utama, lapak sayur mayur dan buah segar menjadi serbuan pertama para ibu. Tumpukan nangka muda yang baru dikupas, tomat merah segar, cabai rawit, daun bawang, dan semangka besar yang digelar di atas tampah bambu laris diborong.
Di musimnya seperti sekarang, petai menjadi primadona. Papan petai yang besar-besar, hijau mengkilap, dan isi yang montok digelar dengan harga miring, membuat banyak ibu yang langsung memborong lebih dari satu ikat.
Bergeser sedikit ke belakang, area pasar hewan tak kalah ramai. Puluhan kambing jenis Jawa dan etawa diikat berjejer di bawah tenda terpal.
Calon pembeli terlihat jongkok sambil memeriksa gigi dan kaki kambing, sementara peternak dan pembeli terlibat negosiasi alot yang terkadang diselingi tawa.
Di sampingnya, lapak bibit tanaman hortikultura seperti bibit cabai rawit, tomat, dan terong, serta lapak perkakas pertanian seperti arit, cangkul, dan golok juga terus dikerubuti warga yang ingin berkebun di musim penghujan ini.
Salah satu pengunjung yang sengaja datang dari jauh adalah Miswati bersama putrinya Kinanti. Mereka rela berangkat pagi buta hanya untuk merasakan kemeriahan Pasar Kliwon kali ini.
“Memang saya bela-belain datang jauh-jauh khusus Minggu Kliwon ini. Soalnya kalau bukan Kliwon tidak selengkap ini. Saya cari bibit cabai untuk ditanam di halaman rumah, terus sekalian cari petai karena di sini murah-murah dan segar,” ujar Miswati saat ditemui di sela keramaian, Minggu (20/9/2026).
Putrinya, Kinanti, yang ikut memegang belanjaan menambahkan, “Senang ikut Ibu ke sini, ramai banget. Tadi lihat kambing banyak, terus bisa beli petai dan bibit cabai. Pokoknya kalau Minggu Kliwon itu paling seru buat jalan-jalan.”
Namun, Pasar Gunungpati bukan hanya soal belanja sayur dan ternak. Setelah lelah berkeliling, warga langsung disambut dengan surga kuliner di area tengah pasar. Aroma kuah soto yang mengepul dan gulai kambing yang kental begitu menggoda.
Deretan warung soto ayam dan soto sapi dengan kuah kuning keemasan buka sejak pagi. Seporsi soto hangat dengan nasi, ditaburi seledri dan bawang goreng, dijual dengan harga yang sangat ramah di kantong, hanya sekitar Rp 7.000 per porsi.
Tak jauh dari situ, lapak gulai kambing dengan potongan daging yang besar dan kuah santan yang gurih juga menjadi buruan. Seporsi nasi gulai hangat sangat cocok disantap sambil beristirahat setelah berbelanja, dengan harga yang tidak kalah terjangkau, sekitar Rp 18.000.
Banyak pengunjung yang sengaja duduk lesehan di bangku-bangku kayu, menyeruput kuah soto sambil mengamati ramainya pasar.
Asap yang mengepul dari dandang soto berpadu dengan aroma gorengan hangat, seperti tempe mendoan dan bakwan, menambah lengkap suasana kuliner khas Gunungpati yang sederhana namun nikmat.
Hingga menjelang siang, aktivitas Pasar Gunungpati pada pasaran Minggu Kliwon ini masih terus ramai. Warga berharap tradisi pasaran Kliwon yang hanya ada lima hari sekali ini terus dijaga dan dilestarikan.
Sebab, selain menjadi tempat berburu barang murah dan lengkap, Pasar Gunungpati juga menjadi ruang silaturahmi, wisata kuliner murah meriah, dan penggerak utama ekonomi kerakyatan di wilayah Semarang atas. []









