Scroll untuk baca artikel
Gaya Hidup

Bukan Cuma Knalpot, Keausan Ban Ternyata Jadi Sumber Polusi yang Makin Mengkhawatirkan

×

Bukan Cuma Knalpot, Keausan Ban Ternyata Jadi Sumber Polusi yang Makin Mengkhawatirkan

Sebarkan artikel ini
Ban Ternyata Jadi Sumber Polusi
Ilustrasi

Gesekan ban dengan jalan ternyata menghasilkan partikel polusi yang dapat mencemari udara, tanah, dan air.

BARISAN.CO – Selama ini, ketika membicarakan polusi kendaraan, perhatian sering tertuju pada asap yang keluar dari knalpot. Padahal, ada sumber polusi lain yang nyaris tidak terlihat, tetapi jumlahnya bisa jauh lebih besar: ban kendaraan.

Setiap kali mobil melaju, ban bergesekan dengan permukaan jalan. Gesekan tersebut perlahan mengikis permukaan ban dan melepaskan partikel-partikel kecil ke lingkungan.

Masalahnya, partikel yang selama ini dianggap sebagai konsekuensi biasa dari penggunaan kendaraan ternyata membawa sejumlah zat berbahaya.

Pengujian Emissions Analytics terhadap lebih dari 250 jenis ban menemukan bahwa ban dapat menghasilkan sekitar 36 miligram partikel per kilometer. Jumlah itu hampir 2.000 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata emisi partikel dari knalpot mobil modern yang berada di kisaran 0,02 miligram per kilometer.

Artinya, ketika teknologi kendaraan terus membuat gas buang semakin bersih, persoalan polusi justru bisa bergeser ke bagian kendaraan yang selama ini jarang diperhatikan.

Ketika Mobil Makin Canggih, Ban Justru Makin Banyak Mengikis

Ada paradoks dalam perkembangan kendaraan modern.

Mobil masa kini dirancang dengan standar emisi yang semakin ketat. Teknologi penyaringan gas buang juga terus berkembang sehingga jumlah polutan yang dilepaskan dari knalpot berhasil ditekan secara signifikan.

Namun, kendaraan juga menjadi semakin berat dan memiliki torsi yang lebih besar.

Kondisi tersebut membuat ban bekerja lebih keras. Akibatnya, keausan ban berpotensi meningkat dan lebih banyak partikel terlepas ke lingkungan.

Nick Molden dari Emissions Analytics bahkan menyebut ban dengan cepat menjadi sumber utama emisi kendaraan.

Persoalannya tidak berhenti di jumlah partikel. Ban pada umumnya menggunakan karet sintetis yang berasal dari bahan berbasis minyak mentah. Ketika terkikis, material tersebut dapat melepaskan berbagai senyawa organik beracun.

Beberapa di antaranya termasuk hidrokarbon poliaromatik dan benzotiazol, sementara partikel keausan juga dapat membawa logam berat seperti seng dan timah.

Dengan kata lain, setiap perjalanan kendaraan meninggalkan jejak yang tidak selalu terlihat oleh mata.

Partikel Ban Bisa Masuk ke Udara, Tanah, hingga Laut

Partikel hasil keausan ban memiliki ukuran yang beragam.

Sebagian partikel yang berukuran sangat kecil dapat melayang di udara dan terhirup manusia. Sekitar 11 persen massa emisi keausan ban disebut berukuran kurang dari 2,5 mikron.

Ukuran tersebut termasuk dalam kategori PM2.5, yaitu partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.

Partikel yang lebih besar memiliki perjalanan berbeda. Ketika hujan turun, misalnya, sisa keausan ban di jalan dapat terbawa aliran air menuju saluran drainase, sungai, dan akhirnya laut.

Karena itu, persoalan keausan ban bukan hanya tentang kualitas udara di jalan raya. Ia juga berkaitan dengan pencemaran tanah dan ekosistem perairan.

Laporan Imperial College London memperkirakan sekitar 6 juta ton partikel keausan ban dilepaskan ke lingkungan setiap tahun di seluruh dunia.

Di London saja, sekitar 2,6 juta kendaraan diperkirakan menghasilkan sekitar 9.000 ton partikel keausan ban setiap tahun.

Jumlah tersebut menunjukkan betapa besar persoalan yang muncul dari sesuatu yang sehari-hari terlihat sederhana: ban yang terus berputar.

Ancaman Kesehatan yang Tak Terlihat

Kekhawatiran ilmuwan tidak hanya berkaitan dengan lingkungan. Dampaknya terhadap kesehatan manusia juga mulai menjadi perhatian serius.

Partikel berukuran sangat kecil dapat terhirup hingga jauh ke dalam paru-paru. Sebagian partikel bahkan berpotensi masuk ke aliran darah.

Para ilmuwan Imperial College London menilai penelitian mengenai dampak keausan ban selama ini masih tertinggal dibandingkan penelitian tentang emisi bahan bakar.

Dr Zhengchu Tan dari Imperial mengatakan persoalan tersebut tidak otomatis hilang ketika kendaraan berbahan bakar fosil digantikan kendaraan listrik.

Sebab, kendaraan listrik pun tetap menggunakan ban.

“Bahkan jika semua kendaraan kita pada akhirnya menggunakan listrik alih-alih bahan bakar fosil, kita masih akan mengalami polusi berbahaya dari kendaraan karena keausan ban,” kata Tan.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa peralihan menuju kendaraan listrik memang dapat mengurangi sejumlah persoalan emisi, tetapi tidak serta-merta membuat transportasi bebas polusi.

Polusi Ban Mulai Mendapat Perhatian

Data pemerintah Inggris menunjukkan perubahan komposisi sumber polusi transportasi jalan raya.

Pada 2021, sekitar 52 persen polusi partikel kecil dari transportasi jalan raya berasal dari keausan ban dan rem. Sementara 24 persen berasal dari abrasi jalan dan marka jalan.

Emisi dari knalpot mobil menyumbang sekitar 15 persen dan sisanya berasal dari kendaraan van serta kendaraan berat.

Perubahan tersebut terjadi setelah emisi gas buang kendaraan berhasil ditekan. Di Inggris, emisi gas buang kendaraan dilaporkan turun sekitar 90 persen sejak 1996.

Kini, tantangannya adalah bagaimana menangani polusi yang muncul bukan dari proses pembakaran bahan bakar, melainkan dari gesekan kendaraan dengan jalan.

Sejumlah upaya mulai dikembangkan. Uji coba ban yang disponsori Transport for London, misalnya, menemukan bahwa jenis ban tertentu mampu menghasilkan emisi hingga 35 persen lebih rendah.

Uni Eropa juga mulai mengatur emisi ban, sementara California mengambil langkah terhadap bahan kimia tertentu yang digunakan dalam ban dan dikaitkan dengan kematian ikan salmon.

Kendaraan Bersih Tak Cukup Hanya dari Knalpot

Persoalan keausan ban menunjukkan bahwa konsep kendaraan ramah lingkungan perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

Selama ini, kendaraan rendah emisi sering dikaitkan dengan seberapa sedikit gas buang yang keluar dari knalpot. Padahal, perjalanan sebuah kendaraan menghasilkan lebih dari sekadar asap.

Ada ban yang terkikis, rem yang aus, permukaan jalan yang terabrasi, hingga partikel yang kemudian terbawa angin dan air.

Prof Terry Tetley dari Imperial’s National Heart and Lung Institute mengatakan masyarakat bahkan dapat terpapar partikel tersebut dalam aktivitas sehari-hari.

“Cukup berjalan di trotoar bisa membuat kita terkena polusi jenis ini,” ujarnya.

Para ilmuwan pun mendorong penelitian lebih besar mengenai keausan ban, termasuk pengembangan material ban yang menghasilkan lebih sedikit partikel, teknologi untuk menangkap partikel, serta kebijakan yang mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, bersepeda, dan berjalan kaki.

Sebab, mengurangi polusi kendaraan pada akhirnya bukan hanya soal membuat knalpot semakin bersih. Kita juga perlu memperhatikan apa yang tertinggal di jalan setiap kali sebuah kendaraan melintas. []