Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

10 Solusi Apa Bila Terjangkit dan Mencegah Leptospirosis

×

10 Solusi Apa Bila Terjangkit dan Mencegah Leptospirosis

Sebarkan artikel ini
mencegah leptospirosis
Ilustrasi

Waspadai leptospirosis dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan tikus, dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala setelah terpapar lingkungan berisiko.

BARISAN.CO – Mencegah leptospirosis sejak dini sangat penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir, rob, atau lingkungan dengan banyak tikus. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius jika penderita terlambat mendapat pertolongan.

Menurut data Kementerian Kesehatan yang dikutip dalam bahan ini, angka kematian akibat leptospirosis mencapai 2,5 hingga 16,45 persen atau rata-rata 7,1 persen.

Risiko tersebut semakin besar pada penderita berusia di atas 50 tahun. Pada kelompok tersebut, risiko kematian bahkan dapat mencapai 56 persen.

Kerusakan hati juga dapat memperburuk kondisi penderita. Salah satu tandanya terlihat dari perubahan warna selaput mata menjadi kuning. Karena itu, masyarakat perlu mengenali risiko leptospirosis dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin.

Leptospirosis muncul akibat infeksi bakteri Leptospira. Tikus menjadi salah satu sumber utama penularan karena bakteri tersebut dapat keluar melalui urine tikus dan mencemari lingkungan.

Seseorang kemudian dapat terinfeksi ketika kulit atau bagian tubuhnya bersentuhan dengan air, tanah, lumpur, atau permukaan yang tercemar.

Menurut Tri Umar Dhani, S.K.H., masyarakat dapat mengantisipasi leptospirosis dengan menjaga sanitasi lingkungan rumah dan kantor serta menerapkan pola hidup sehat.

Tips Mencegah Leptospirosis

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu keluarga mengurangi risiko leptospirosis. Berikut langkah yang perlu mendapat perhatian:

1. Terapkan pola hidup sehat dan jaga kebersihan lingkungan.

Biasakan seluruh anggota keluarga menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan. Bersihkan rumah secara rutin, buang sampah pada tempatnya, dan jangan biarkan lingkungan menjadi tempat tikus mencari makanan atau bersarang.

2. Simpan makanan dan minuman dengan baik.

Tutup makanan dan minuman dengan rapat agar tikus tidak mudah menjangkaunya. Gunakan wadah tertutup untuk menyimpan bahan makanan dan segera bersihkan sisa makanan setelah makan.

3. Cuci tangan dengan sabun sebelum makan.

Cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan atau menyentuh makanan. Kebiasaan tersebut membantu membersihkan kotoran dan berbagai mikroorganisme yang mungkin menempel pada tangan.

4. Bersihkan tubuh setelah beraktivitas di lingkungan berisiko.

Setelah bekerja di sawah, kebun, selokan, tempat sampah, atau area lain yang berpotensi tercemar, segera cuci tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya dengan sabun. Perhatikan juga luka atau goresan pada kulit karena kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko masuknya bakteri.

5. Gunakan sepatu bot dan sarung tangan saat bekerja.

Pekerja yang menghadapi risiko tinggi, seperti petugas kebersihan dan petugas pemotong daging, perlu melindungi tubuh saat bekerja. Gunakan sepatu karet tinggi dan sarung tangan karet, terutama ketika menghadapi air, lumpur, sampah, atau lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus.

Masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir dan rob juga perlu meningkatkan perlindungan ketika beraktivitas di luar rumah.

6. Jaga kebersihan lingkungan.

Bersihkan halaman, gudang, dapur, saluran air, dan tempat lain yang sering menjadi lokasi tikus mencari makanan. Rapikan barang-barang yang menumpuk agar tikus tidak mendapatkan tempat untuk bersembunyi.

7. Bersihkan tempat air dan kolam renang.

Jaga kebersihan tempat penampungan air, kolam, dan area lain yang sering bersentuhan dengan manusia. Hindari kontak langsung dengan air yang tampak kotor atau berasal dari lingkungan yang memiliki banyak tikus.

8. Kendalikan tikus di rumah dan kantor.

Jangan biarkan populasi tikus berkembang. Gunakan perangkap dan tutup celah yang menjadi jalan masuk tikus. Simpan makanan dengan aman dan bersihkan sisa makanan agar tikus tidak mudah mendapatkan sumber makanan.

9. Bersihkan area yang terkena urine tikus.

Ketika menemukan bagian rumah, kantor, atau gudang yang kemungkinan terkena urine tikus, segera bersihkan area tersebut. Gunakan cairan disinfektan dan perlengkapan pelindung saat membersihkannya. Hindari kontak langsung dengan urine, kotoran, atau benda yang kemungkinan telah tercemar.

10. Tangani bangkai tikus dengan hati-hati.

Bangkai tikus tetap memerlukan penanganan yang aman karena bakteri Leptospira dapat bertahan pada kondisi tertentu. Jangan menyentuh bangkai dengan tangan kosong. Gunakan sarung tangan, masukkan bangkai ke wadah atau kantong yang sesuai, lalu bersihkan area tersebut dengan disinfektan.

Bahan ini menyebut pembakaran atau kremasi sebagai cara menangani bangkai tikus karena panas dapat membunuh bakteri. Namun, masyarakat sebaiknya tidak membakar bangkai tikus secara sembarangan karena tindakan tersebut dapat menimbulkan risiko lain bagi kesehatan dan lingkungan.

Cara Mengusir Tikus yang Jitu

Mengendalikan tikus menjadi bagian penting dalam mencegah leptospirosis. Selain menjaga kebersihan rumah, masyarakat dapat menutup lubang atau celah yang menjadi akses tikus, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta menggunakan perangkap.

Bahan ini juga menyebut cara tradisional berupa pemasangan “klintingan” pada tikus yang tertangkap. Caranya, seseorang menangkap tikus, memasang klintingan pada salah satu telinganya, lalu melepaskannya kembali agar suara klintingan mengganggu tikus lain di sarangnya.

Namun, cara tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang kuat sebagai metode pengendalian tikus. Selain itu, menangkap dan memegang tikus dapat meningkatkan risiko kontak dengan hewan yang membawa bakteri.

Karena itu, masyarakat sebaiknya memilih cara yang lebih aman, seperti menggunakan perangkap dan menutup akses tikus ke dalam rumah.

Kenali Gejala dan Segera Berobat

Selain mengendalikan tikus, masyarakat perlu mengenali gejala leptospirosis. Penderita dapat mengalami demam, sakit kepala, lemas, nyeri otot, mata merah, mual, dan muntah. Nyeri pada betis juga sering muncul pada penderita. Dalam kondisi tertentu, infeksi dapat menyebabkan kulit atau mata berubah menjadi kuning.

Masyarakat perlu lebih waspada ketika gejala tersebut muncul setelah seseorang bersentuhan dengan air banjir, lumpur, sawah, selokan, sampah, atau lingkungan yang banyak tikus.

dr. M. Sugiarto, Sp. PD., dalam bahan ini menjelaskan bahwa pengobatan dini dapat membantu penderita. Dokter dapat memberikan antibiotik untuk menangani infeksi Leptospira.

Beberapa antibiotik, seperti penisilin dan turunannya, termasuk amoksisilin, serta antibiotik lain seperti streptomisin, tetrasiklin, atau eritromisin, tercantum dalam bahan sebagai contoh obat yang pernah digunakan untuk menangani leptospirosis.

Namun, penderita tidak boleh memilih atau mengonsumsi antibiotik sendiri. Dokter perlu menentukan obat berdasarkan kondisi dan tingkat keparahan infeksi. Ketika pasien mengalami komplikasi, risiko kematian dapat meningkat dan pasien mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Karena itu, segera temui dokter atau fasilitas kesehatan ketika muncul gejala yang mengarah pada leptospirosis, terutama setelah seseorang mengalami paparan lingkungan berisiko. Jangan menunggu kondisi semakin parah sebelum mencari pertolongan.

Masyarakat juga perlu menjadikan kebersihan lingkungan sebagai kebiasaan sehari-hari. Dengan menjaga sanitasi, menyimpan makanan dengan baik, melindungi tubuh saat bekerja, dan mengendalikan populasi tikus, keluarga dapat mengurangi risiko paparan bakteri Leptospira.

Pencegahan sejak awal tetap menjadi langkah utama. Semakin cepat masyarakat mengenali risiko dan mengambil tindakan, semakin besar peluang untuk mencegah leptospirosis berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. []