Mengubah kebiasaan internet harian melalui langkah kecil seperti mematikan kamera saat panggilan video hingga membersihkan kotak masuk email dapat membantu menekan lonjakan emisi karbon global.
BARISAN.CO – Aktivitas manusia sehari-hari meninggalkan jejak karbon yang ikut memengaruhi kondisi lingkungan. Pembakaran bahan bakar fosil, transportasi, pemanasan, hingga fast fashion menjadi beberapa sumbernya.
Jejak karbon menunjukkan jumlah emisi gas rumah kaca dari berbagai aktivitas manusia. Satuan tersebut biasanya dinyatakan dalam karbon dioksida ekuivalen atau CO2e.
Kini, jejak karbon juga muncul dari aktivitas digital yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menonton video, melakukan rapat virtual, menyimpan file, hingga menggunakan kecerdasan buatan membutuhkan energi.
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI membuat aktivitas digital menjadi semakin intensif. Chatbot, pembuat gambar, generator video, hingga aplikasi desain AI kini digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Seseorang dapat membuat gambar hanya melalui beberapa kalimat perintah atau prompt. Video pendek, ilustrasi, presentasi, suara, hingga desain visual juga dapat dibuat menggunakan layanan berbasis AI.
Kemudahan tersebut tentu membawa perubahan besar dalam cara manusia bekerja dan berkreasi. Namun, setiap permintaan kepada AI tetap membutuhkan proses komputasi di pusat data.
International Energy Agency atau IEA mencatat pusat data menggunakan sekitar 1,5 persen listrik dunia pada 2024. Konsumsi tersebut diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan AI dan layanan digital lainnya.
IEA juga memperkirakan konsumsi listrik pusat data dapat meningkat hingga sekitar 945 TWh pada 2030. Pertumbuhan tersebut terutama didorong penggunaan server berperforma tinggi untuk AI.
Pada pembaruan 2026, IEA mencatat konsumsi listrik pusat data meningkat 17 persen sepanjang 2025. Konsumsi pusat data yang berfokus pada AI bahkan meningkat sekitar 50 persen pada periode tersebut.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan inovasi teknologi. Pertumbuhan AI juga membawa kebutuhan energi yang perlu diperhatikan bersama.
Meski begitu, konsumsi energi setiap aktivitas AI tidak selalu sama. Tugas sederhana berbasis teks umumnya membutuhkan energi lebih rendah dibandingkan tugas AI yang kompleks.
IEA menyebut penggunaan seperti pembuatan video, penalaran kompleks, dan tugas agen AI dapat membutuhkan energi jauh lebih besar. Beberapa tugas tersebut bahkan dapat menggunakan energi ratusan hingga ribuan kali dibandingkan pembuatan teks sederhana.
Perbedaan tersebut penting dipahami ketika AI semakin sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Membuat satu gambar, misalnya, berbeda kebutuhan komputasinya dengan membuat video menggunakan AI.
Sebuah penelitian yang menguji 17 model pembuat gambar AI menemukan perbedaan konsumsi energi yang sangat besar. Penelitian tersebut menemukan selisih konsumsi energi hingga 46 kali antar-model yang diuji.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa peningkatan resolusi dapat meningkatkan konsumsi energi pada sejumlah model. Besarnya peningkatan tersebut bervariasi, tergantung model dan karakteristik sistem yang digunakan.
Artinya, membuat gambar AI berkali-kali untuk mencari hasil paling cocok juga memiliki konsekuensi energi. Kebiasaan membuat puluhan variasi hanya untuk memilih satu gambar dapat meningkatkan penggunaan komputasi.
Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang membuat video menggunakan AI. Proses pembuatan video biasanya membutuhkan komputasi lebih berat dibandingkan menghasilkan teks sederhana.
Penggunaan AI memang tidak harus dihentikan untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Yang lebih penting adalah menggunakan teknologi tersebut secara sadar dan sesuai kebutuhan.
Lalu, bagaimana cara sederhana mengurangi jejak karbon ketika menggunakan internet dan AI?
Gunakan AI Sesuai Kebutuhan
Kecerdasan buatan telah menjadi alat bantu untuk berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari mencari ide, merangkum dokumen, membuat tulisan, hingga membantu pekerjaan profesional.
Pengguna sering memberikan banyak prompt untuk mendapatkan jawaban yang dianggap paling sempurna. Padahal, tidak semua permintaan membutuhkan proses berulang hingga puluhan kali.
Prompt yang lebih jelas dapat membantu pengguna memperoleh hasil sesuai kebutuhan sejak awal. Dengan begitu, proses mencoba ulang dapat dikurangi tanpa mengorbankan kualitas hasil.
Kebiasaan tersebut juga dapat membuat penggunaan AI menjadi lebih efisien. Pengguna tidak hanya menghemat waktu, tetapi juga mengurangi jumlah proses komputasi yang tidak diperlukan.
Jangan Membuat Gambar AI Secara Berlebihan
Generator gambar AI membuat proses kreatif menjadi jauh lebih cepat. Dalam hitungan detik, pengguna dapat menghasilkan ilustrasi berdasarkan deskripsi yang diberikan.
Kemudahan tersebut sering membuat pengguna menghasilkan banyak gambar tanpa tujuan yang jelas. Puluhan variasi dapat dibuat hanya karena pengguna ingin membandingkan perbedaan kecil.
Penelitian mengenai konsumsi energi generator gambar menunjukkan adanya perbedaan besar antar-model AI. Studi tersebut menemukan selisih konsumsi energi hingga 46 kali pada model yang diuji.
Karena itu, pengguna dapat membuat prompt lebih spesifik sejak awal. Cara tersebut dapat mengurangi kebutuhan menghasilkan terlalu banyak variasi gambar.
Pengguna juga dapat menghindari pembuatan gambar beresolusi tinggi ketika gambar tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan sederhana. Resolusi dapat ditingkatkan ketika hasil akhir memang membutuhkan kualitas lebih tinggi.
Bijak Menggunakan Video AI
Pembuatan video menggunakan AI menjadi salah satu perkembangan yang semakin populer. Video promosi, konten media sosial, animasi, hingga visual sinematik kini dapat dibuat melalui prompt.
Namun, video membutuhkan proses komputasi yang lebih kompleks dibandingkan teks. Setiap frame harus diproses agar gerakan, objek, pencahayaan, dan elemen visual dapat terlihat konsisten.
IEA menyebut video generation sebagai salah satu penggunaan AI yang lebih intensif energi. Kebutuhan energinya dapat jauh lebih tinggi dibandingkan tugas AI berbasis teks sederhana.
Karena itu, pengguna sebaiknya menentukan konsep video sebelum memulai proses generasi. Storyboard sederhana dapat membantu mengurangi percobaan yang tidak diperlukan.
Tidak semua bagian video juga harus dibuat menggunakan AI generatif. Pengguna dapat menggabungkan elemen sederhana dengan hasil AI agar prosesnya lebih efisien.
Kurangi Kebiasaan Regenerasi Tanpa Tujuan
Tombol regenerate atau generate again memang membuat proses menggunakan AI terasa menyenangkan. Pengguna dapat terus mencoba hingga mendapatkan hasil yang dianggap paling menarik.
Namun, setiap proses regenerasi tetap membutuhkan komputasi. Semakin banyak hasil yang dibuat, semakin banyak pula pekerjaan komputasi yang harus dilakukan sistem.
Kebiasaan tersebut terutama perlu diperhatikan ketika menggunakan generator gambar dan video. Kedua aktivitas tersebut dapat membutuhkan sumber daya komputasi lebih besar dibandingkan tugas teks sederhana.
Sebelum menekan tombol generate, pengguna dapat memperbaiki prompt terlebih dahulu. Detail seperti gaya, ukuran, komposisi, warna, objek, dan suasana dapat ditentukan sejak awal.
Cara tersebut dapat mengurangi percobaan yang sebenarnya tidak diperlukan. Hasilnya, penggunaan AI menjadi lebih terarah sekaligus lebih hemat sumber daya.
Pilih Resolusi Sesuai Kebutuhan
Resolusi tinggi memang menghasilkan gambar dan video yang lebih detail. Namun, kualitas maksimal tidak selalu diperlukan untuk setiap kebutuhan.
Konten yang hanya digunakan sebagai konsep atau draft tidak membutuhkan resolusi akhir. Pengguna dapat membuat versi sederhana terlebih dahulu sebelum menghasilkan hasil final.
Cara tersebut juga dapat diterapkan pada desain berbasis AI. Konsep poster, logo, ilustrasi, dan layout dapat dibuat dalam kualitas yang lebih rendah pada tahap awal.
Ketika konsep sudah sesuai, pengguna baru dapat membuat versi final dengan kualitas lebih tinggi. Strategi tersebut dapat mengurangi proses berulang yang tidak memberikan manfaat besar.
Gunakan AI untuk Pekerjaan yang Memang Membutuhkan AI
Tidak semua pekerjaan harus diserahkan kepada kecerdasan buatan. Beberapa tugas sederhana masih dapat diselesaikan dengan perangkat lunak biasa tanpa proses generatif.
Contohnya, mengubah ukuran gambar tidak selalu membutuhkan generator gambar AI. Pemotongan foto sederhana juga dapat dilakukan menggunakan aplikasi pengolah gambar biasa.
Begitu pula dengan desain sederhana yang hanya membutuhkan teks dan bentuk dasar. Menggunakan perangkat lunak desain konvensional dapat menjadi pilihan yang lebih efisien.
AI sebaiknya digunakan ketika kemampuannya benar-benar memberikan nilai tambah. Dengan begitu, teknologi digunakan sebagai alat bantu, bukan sekadar digunakan karena sedang populer.
Bersihkan File AI yang Tidak Terpakai
Penggunaan AI sering menghasilkan banyak file percobaan. Gambar, video, audio, desain, dan berbagai hasil regenerasi dapat menumpuk di perangkat.
File tersebut kemudian dapat dipindahkan ke penyimpanan cloud. Jika tidak dibersihkan, data yang tidak diperlukan akan terus memenuhi ruang penyimpanan.
Pusat data membutuhkan listrik untuk menjalankan server, sistem penyimpanan, jaringan, dan pendingin. Karena itu, menyimpan data yang benar-benar tidak diperlukan bukanlah kebiasaan digital yang efisien.
Pengguna dapat menghapus hasil percobaan setelah memilih versi terbaik. File penting dapat tetap disimpan, sedangkan hasil yang tidak digunakan dapat dibuang.
Bersihkan Penyimpanan Cloud
Layanan cloud memudahkan pengguna menyimpan berbagai hasil kerja AI. Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat pengguna menyimpan terlalu banyak file.
Gambar dengan variasi berbeda sering tersimpan tanpa pernah digunakan kembali. Video hasil percobaan juga dapat menghabiskan ruang penyimpanan dalam jumlah besar.
Pengguna dapat melakukan pemeriksaan penyimpanan secara rutin. File duplikat dan hasil eksperimen yang sudah tidak diperlukan dapat dihapus.
Kebiasaan tersebut membuat ruang penyimpanan menjadi lebih teratur. Pengguna juga lebih mudah menemukan file yang benar-benar dibutuhkan.
Matikan Kamera Saat Panggilan Video
Jejak karbon digital tidak hanya berasal dari AI generatif. Panggilan video juga membutuhkan data lebih besar dibandingkan komunikasi suara biasa.
Kolaborasi penelitian Universitas Purdue, Universitas Yale, dan MIT menemukan dampak besar dari penggunaan video. Mematikan kamera selama panggilan video disebut dapat mengurangi jejak karbon hingga 96 persen.
Sementara itu, mematikan kamera ketika streaming dapat mengurangi jejak karbon hingga 86 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengurangan data visual dapat memberikan dampak cukup besar.
Kaveh Madani, salah satu peneliti, menjelaskan hubungan penggunaan data dengan dampak lingkungan. Menurutnya, cara data digunakan dan ditransfer berkaitan dengan jejak lingkungan aktivitas digital.
Karena itu, kamera tidak harus selalu menyala sepanjang rapat virtual. Kamera dapat digunakan ketika komunikasi visual memang diperlukan.
Bersihkan Email Secara Berkala
Email juga menjadi bagian dari aktivitas digital yang menghasilkan jejak lingkungan. Pesan yang tidak diperlukan dapat terus tersimpan dan membutuhkan ruang pada pusat data.
Sebuah studi dari OVO Energy pada 2019 menemukan dampak menarik dari kebiasaan mengirim email. Pengurangan satu email ucapan terima kasih setiap hari berpotensi menghemat 16.500 ton CO2 setiap tahun di Inggris.
Cleanfox juga menemukan banyak email langganan yang sebenarnya tidak dibutuhkan pengguna. Rata-rata pengguna disebut menerima sekitar 2.850 email langganan yang tidak diinginkan setiap tahun.
Menurut Cleanfox, jumlah tersebut dapat menghasilkan sekitar 28,5 kilogram CO2 per pengguna. Temuan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas digital sederhana tetap memiliki konsekuensi lingkungan.
Pengguna dapat menghapus email lama yang sudah tidak diperlukan. Berhenti berlangganan newsletter juga dapat mengurangi pesan yang masuk setiap hari.
Blokir Video Autoplay
Video yang diputar otomatis sering muncul ketika pengguna membuka media sosial. Padahal, pengguna belum tentu ingin menonton setiap video yang muncul.
Video tersebut tetap menggunakan data ketika diputar. Penggunaan data yang tidak diperlukan akhirnya meningkatkan kebutuhan energi dalam proses pengiriman.
Pengguna dapat menonaktifkan autoplay melalui pengaturan aplikasi. Beberapa platform juga menyediakan pengaturan untuk membatasi video ketika menggunakan jaringan seluler.
Cara tersebut membantu mengurangi konsumsi data tanpa menghilangkan akses terhadap video. Pengguna tetap dapat menonton konten yang memang ingin dinikmati.
Unduh Konten yang Sering Ditonton
Streaming menjadi bagian dari kebiasaan digital masyarakat modern. Musik, film, podcast, dan video dapat dinikmati kapan saja melalui jaringan internet.
Namun, konten yang sama membutuhkan data setiap kali diputar melalui streaming. Mengunduh konten tertentu dapat menjadi pilihan jika pengguna sering menikmatinya.
Cara tersebut terutama berguna untuk musik, podcast, atau video yang sering diputar ulang. Setelah tersimpan pada perangkat, konten dapat dinikmati tanpa terus mengambil data dari server.
Pengguna tetap perlu mempertimbangkan kapasitas penyimpanan perangkat. File yang sudah tidak diperlukan dapat dihapus setelah selesai digunakan.
Kurangi Resolusi Streaming
Tidak semua video harus ditonton dalam resolusi tertinggi. Layar ponsel berukuran kecil sering tidak membutuhkan kualitas gambar setinggi televisi berukuran besar.
Pengguna dapat menyesuaikan resolusi berdasarkan perangkat yang digunakan. Cara tersebut dapat membantu mengurangi konsumsi data selama aktivitas streaming.
Kebiasaan tersebut juga berguna ketika menggunakan jaringan seluler. Penggunaan resolusi lebih rendah dapat membantu menghemat kuota sekaligus mengurangi lalu lintas data.
Gunakan Perangkat Lebih Lama
Jejak karbon digital tidak hanya berasal dari aktivitas internet. Produksi ponsel, laptop, tablet, dan perangkat elektronik juga membutuhkan energi serta bahan mentah.
Menggunakan perangkat lebih lama dapat mengurangi kebutuhan membeli perangkat baru. Langkah tersebut juga dapat membantu mengurangi pertumbuhan limbah elektronik.
Kerusakan kecil tidak selalu berarti perangkat harus langsung diganti. Perbaikan baterai, layar, atau komponen tertentu dapat memperpanjang masa penggunaan.
Pengguna juga dapat mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli perangkat baru. Spesifikasi tinggi tidak selalu diperlukan untuk pekerjaan digital sederhana.
Jangan Takut Menggunakan AI, Tetapi Gunakan Secukupnya
Perkembangan AI tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap lingkungan semata. Teknologi tersebut juga memiliki potensi membantu efisiensi energi dan berbagai sektor kehidupan.
IEA mencatat AI dapat digunakan untuk membantu sistem energi menjadi lebih efisien. Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengelolaan jaringan, pemeliharaan, serta berbagai proses energi lainnya.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar menggunakan atau meninggalkan AI. Tantangannya adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan secara lebih efisien dan bertanggung jawab.
Pengguna dapat memulai dari kebiasaan sederhana ketika menggunakan layanan AI. Membuat prompt lebih jelas, mengurangi regenerasi, dan menghapus file tidak terpakai dapat menjadi langkah awal.
Perusahaan teknologi juga memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar. Efisiensi model, perangkat keras, pusat data, dan penggunaan energi terbarukan perlu terus dikembangkan.
IEA memperkirakan energi terbarukan akan memenuhi hampir setengah kebutuhan tambahan listrik pusat data hingga 2030. Namun, bahan bakar fosil masih berperan dalam memenuhi peningkatan kebutuhan energi tersebut.
Artinya, pilihan energi di balik perkembangan AI tetap menjadi persoalan penting. Semakin bersih sumber listriknya, semakin kecil pula potensi emisi dari penggunaan komputasi.
Pada akhirnya, AI merupakan bagian baru dari jejak digital manusia. Kehadirannya membuat aktivitas online semakin canggih, tetapi juga membuat kebutuhan komputasi semakin besar.
Membuat satu gambar AI mungkin terasa seperti aktivitas kecil. Membuat ribuan gambar dan video secara massal tentu memberikan kebutuhan komputasi yang jauh lebih besar.
Karena itu, kesadaran dapat dimulai dari cara sederhana ketika menggunakan teknologi. Gunakan AI ketika memang diperlukan, bukan sekadar karena proses membuatnya terasa menyenangkan.
Tidak perlu berhenti membuat gambar AI, video AI, atau desain menggunakan kecerdasan buatan. Kita hanya perlu lebih sadar bahwa setiap hasil digital memiliki proses komputasi di belakangnya.
Ketika jutaan pengguna mulai menggunakan AI secara lebih bijak, kebiasaan tersebut dapat memberikan dampak kolektif. Teknologi tetap berkembang, sementara penggunaan energinya dapat diarahkan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Mengurangi jejak karbon digital bukan berarti kembali meninggalkan teknologi. Langkah tersebut berarti menggunakan teknologi dengan lebih sadar terhadap energi dan lingkungan. []









