Sering memicu rasa takut saat hujan badai, inilah penjelasan medis dan ilmiah di balik efek kilatan petir terhadap kesehatan penglihatan mata kita.
BARISAN.CO – Kilatan petir kerap menjadi pemandangan yang mengundang decak kagum sekaligus rasa takut, terutama ketika hujan deras disertai suara gemuruh. Cahaya putih terang yang muncul sesaat di langit terkadang begitu menyilaukan hingga membuat mata seolah kehilangan penglihatan selama beberapa detik.
Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: benarkah kilatan petir dapat membutakan mata?
Petir atau halilintar merupakan gejala alam berupa pelepasan muatan listrik di atmosfer. Fenomena ini ditandai dengan munculnya kilatan cahaya yang disebut kilat, kemudian disusul suara menggelegar yang dikenal sebagai guruh atau guntur. Dalam bahasa Jawa, suara tersebut sering disebut geledek.
Kilat dan guntur sebenarnya terjadi sebagai bagian dari fenomena yang sama. Perbedaan waktu antara keduanya disebabkan oleh perbedaan kecepatan rambat cahaya dan suara.
Cahaya merambat dengan kecepatan sekitar 299.792 kilometer per detik. Sementara itu, suara merambat di udara dengan kecepatan sekitar 343 meter per detik pada suhu 20 derajat Celsius. Kecepatan suara dapat berubah mengikuti kondisi suhu dan karakteristik udara.
Karena cahaya jauh lebih cepat daripada suara, kilatan petir terlihat terlebih dahulu, sedangkan suara guntur baru terdengar beberapa saat kemudian.
Bagaimana Petir Terbentuk?
Untuk memahami kekuatan kilatan petir, kita perlu mengetahui bagaimana fenomena tersebut terbentuk.
Menurut National Weather Service Amerika Serikat, petir merupakan percikan listrik raksasa di atmosfer yang terjadi akibat perbedaan muatan listrik. Proses ini dapat berlangsung di dalam satu awan, antara dua awan, maupun antara awan dan permukaan bumi.
Di dalam awan badai, terutama awan cumulonimbus, terdapat pergerakan udara yang sangat kuat. Arus udara naik dan turun menyebabkan partikel air, kristal es, serta butiran es saling bertumbukan.
Interaksi tersebut berperan dalam memisahkan muatan listrik. Secara umum, bagian tengah hingga bawah awan badai cenderung mengumpulkan muatan negatif, sedangkan bagian atasnya lebih banyak mengandung muatan positif. Namun, distribusi muatan dalam awan tidak selalu sesederhana itu.
Ketika perbedaan muatan listrik semakin besar, medan listrik di antara wilayah-wilayah tersebut meningkat. Jika kekuatannya melampaui kemampuan udara untuk bertindak sebagai isolator, udara mengalami proses ionisasi sehingga terbentuk jalur penghantar listrik. Pelepasan muatan inilah yang kita kenal sebagai petir.
Dalam kondisi tertentu, pelepasan listrik terjadi antara awan dan bumi. Ada pula petir yang berlangsung di dalam awan maupun di antara awan yang berbeda.
Petir lebih sering ditemukan dalam sistem cuaca badai yang umumnya berkembang pada musim hujan di Indonesia. Meski demikian, petir tidak hanya terjadi ketika hujan deras. Aktivitas petir dapat berlangsung selama badai petir, termasuk ketika hujan belum mencapai lokasi pengamat.
Seberapa Besar Energi dan Suhu Petir?
Petir bukan sekadar kilatan cahaya biasa. Di balik kemunculannya yang singkat, terdapat pelepasan energi listrik yang sangat besar.
National Weather Service menyebutkan bahwa sambaran petir pada umumnya dapat memiliki tegangan sekitar 300 juta volt dan arus listrik sekitar 30.000 ampere. Angka tersebut merupakan gambaran tipikal, bukan nilai tetap untuk setiap sambaran.
Selain menghasilkan arus listrik yang sangat besar, petir juga menimbulkan panas ekstrem.
Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), suhu udara di sepanjang saluran petir dapat mencapai sekitar 30.000 derajat Celsius. Angka ini bahkan sekitar lima kali lebih tinggi daripada suhu permukaan Matahari yang berkisar 5.500 derajat Celsius.
Panas tersebut terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Udara di sekitar jalur petir mengalami pemanasan mendadak, kemudian mengembang dengan sangat cepat.
Pemuaian eksplosif inilah yang menghasilkan gelombang kejut dan kemudian terdengar sebagai suara guntur.
Dengan demikian, suara guntur bukanlah ledakan listrik seperti yang terjadi pada benda elektronik, melainkan respons atmosfer terhadap pemanasan udara yang sangat cepat akibat sambaran petir.
Benarkah Kilatan Petir Bisa Membutakan Mata?
Kembali pada pertanyaan utama, apakah melihat kilatan petir dapat menyebabkan kebutaan?
Jawabannya perlu dibedakan antara efek silau sesaat dan kerusakan mata secara medis.
Kilatan petir memiliki intensitas cahaya yang sangat tinggi. Ketika muncul dalam kondisi langit gelap, perubahan pencahayaan yang mendadak dapat membuat mata mengalami silau. Seseorang mungkin melihat bercak cahaya atau mengalami bayangan visual sementara setelah kilatan menghilang.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta berarti retina mengalami kerusakan. Silau sesaat akibat melihat kilatan petir juga tidak dapat disamakan dengan kebutaan permanen.
Sampai saat ini, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap orang yang melihat kilatan petir dari kejauhan berisiko mengalami kebutaan.
Meski demikian, bukan berarti petir sama sekali tidak dapat menyebabkan cedera mata. Risiko kerusakan penglihatan dapat terjadi apabila seseorang benar-benar tersambar petir atau mengalami paparan listrik secara langsung maupun tidak langsung.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menjelaskan bahwa korban sambaran petir dapat mengalami berbagai cedera, termasuk gangguan pada mata. Salah satu dampaknya adalah katarak yang dapat muncul setelah kejadian, bahkan dalam rentang waktu tertentu setelah cedera.
Kerusakan tersebut berkaitan dengan trauma listrik dan dampak fisik sambaran petir terhadap tubuh, bukan sekadar karena seseorang melihat cahaya kilat.
Artinya, ada perbedaan mendasar antara mata yang silau karena melihat kilatan petir dan mata yang mengalami cedera akibat sambaran listrik.
Mengapa Cahaya Las Dapat Merusak Mata?
Sebagai perbandingan, kita dapat melihat risiko paparan cahaya dari aktivitas pengelasan atau pengelasan listrik.
Para pekerja las diwajibkan menggunakan pelindung mata khusus karena busur listrik yang terbentuk selama proses pengelasan memancarkan radiasi ultraviolet (UV), cahaya tampak yang intens, serta radiasi inframerah.
Paparan ultraviolet dari busur las dapat menyebabkan photokeratitis, yaitu peradangan atau cedera pada kornea akibat radiasi UV. Kondisi ini sering disebut welder’s flash atau arc eye.
Gejalanya antara lain mata terasa perih, nyeri, berair, merah, sensitif terhadap cahaya, dan penglihatan menjadi kabur. Keluhan biasanya tidak langsung muncul, melainkan dapat dirasakan beberapa jam setelah paparan.
American Academy of Ophthalmology menjelaskan bahwa photokeratitis merupakan cedera akibat radiasi ultraviolet yang merusak lapisan permukaan kornea.
Di sinilah letak perbedaan penting antara paparan cahaya las dan kilatan petir. Keduanya memang dapat menghasilkan cahaya yang sangat terang, tetapi karakteristik radiasi, durasi paparan, serta mekanisme kerusakan mata tidak sama.
Pada pengelasan, paparan radiasi UV dapat berlangsung selama proses pekerjaan. Sementara itu, kilatan petir merupakan peristiwa yang berlangsung sangat singkat.
Oleh karena itu, risiko kerusakan mata akibat paparan busur las tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa melihat satu kilatan petir dari kejauhan akan menyebabkan kebutaan.
Jika setelah terpapar cahaya sangat terang seseorang mengalami nyeri mata, penglihatan kabur yang menetap, munculnya bayangan gelap, atau gangguan penglihatan lainnya, pemeriksaan oleh dokter mata perlu dilakukan.
Cara Melindungi Diri Ketika Terjadi Petir
Terlepas dari risiko terhadap penglihatan, bahaya utama petir justru terletak pada sambaran listriknya. Arus listrik dapat menyebabkan henti jantung, luka bakar, gangguan saraf, cedera otot, hingga kematian.
Karena itu, ketika melihat kilatan petir atau mendengar suara guntur, sebaiknya segera mencari tempat berlindung di dalam bangunan tertutup yang aman.
CDC menyarankan agar masyarakat tidak menunggu hujan turun untuk berlindung. Jika suara guntur sudah terdengar, berarti petir berada cukup dekat untuk menimbulkan bahaya.
Selama badai petir berlangsung, hindari berada di lapangan terbuka, berteduh di bawah pohon yang berdiri sendiri, atau berada dekat benda-benda tinggi yang berpotensi menjadi titik sambaran.
Ketika berada di dalam rumah, hindari penggunaan air mengalir, seperti mandi atau mencuci piring, serta jangan menyentuh perangkat yang terhubung dengan kabel listrik selama badai berlangsung.
Dengan memahami karakteristik petir dan cara kerjanya, masyarakat dapat membedakan antara efek cahaya yang menyilaukan dan bahaya listrik yang sesungguhnya.
Jadi, benarkah kilatan petir dapat membutakan mata? Kilatan petir memang dapat menyebabkan silau dan gangguan penglihatan sementara, tetapi melihat kilatan dari kejauhan tidak otomatis menyebabkan kebutaan. Cedera mata yang lebih serius dapat terjadi pada korban yang mengalami sambaran petir.
Fenomena alam ini bukan hanya memperlihatkan dahsyatnya energi listrik di atmosfer, tetapi juga mengingatkan kita bahwa keselamatan harus menjadi prioritas setiap kali badai petir terjadi. []
Sumber Referensi
- National Weather Service (NOAA), Understanding Lightning Science.
- National Weather Service (NOAA), How Powerful Is Lightning?.
- National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), The Sound of Thunder.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Frequently Asked Questions About Lightning.
- American Academy of Ophthalmology (AAO), What Is Photokeratitis?.
- College of Optometrists, Photokeratitis: Ultraviolet (UV) Burn, Arc Eye, Snow Blindness.









