Scroll untuk baca artikel
Ragam

Perbedaan Bioteknologi Konvensional dan Modern: Pengertian, Contoh, serta Dampaknya di Kehidupan Sehari-hari

×

Perbedaan Bioteknologi Konvensional dan Modern: Pengertian, Contoh, serta Dampaknya di Kehidupan Sehari-hari

Sebarkan artikel ini
perbedaan bioteknologi konvensional dan modern
Ilustrasi Ai

Perbedaan bioteknologi konvensional dan modern terletak pada penggunaan teknologi fermentasi alami dan rekayasa genetika modern.

BARISAN.CO – Bioteknologi merupakan ilmu yang memanfaatkan makhluk hidup atau bagian dari makhluk hidup untuk menghasilkan produk dan jasa yang bermanfaat bagi manusia.

Sejak zaman dahulu, manusia sebenarnya telah menerapkan konsep bioteknologi meskipun belum memahami ilmu mikrobiologi secara mendalam.

Dalam perkembangannya, bioteknologi dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu bioteknologi konvensional dan bioteknologi modern.

Perbedaan bioteknologi konvensional dan modern terletak pada teknik, proses, teknologi yang digunakan, serta tingkat manipulasi terhadap organisme hidup.

Kedua jenis bioteknologi ini memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, namun keduanya sama-sama berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama di bidang pangan, kesehatan, pertanian, hingga lingkungan.

Bioteknologi konvensional merupakan bentuk bioteknologi yang memanfaatkan mikroorganisme secara alami melalui proses fermentasi.

Teknologi ini sudah digunakan manusia sejak ribuan tahun lalu untuk menghasilkan makanan dan minuman tertentu.

Salah satu contoh paling terkenal adalah pembuatan roti yang telah berkembang sejak 10.000 tahun lalu di wilayah Mesopotamia dan Mesir.

Dalam perkembangannya, bangsa Mesir mulai menggunakan ragi sebagai bahan fermentasi untuk menghasilkan berbagai jenis roti.

Selain itu, di Indonesia, teknologi fermentasi berkembang melalui produk khas seperti tempe yang berasal dari Jawa Tengah sejak tahun 1700-an.

Tempe menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia telah mengenal penerapan bioteknologi konvensional melalui fermentasi kedelai menggunakan mikroorganisme tertentu.

Pada bioteknologi konvensional, proses produksi masih memanfaatkan kemampuan alami mikroorganisme tanpa adanya manipulasi genetik.

Prinsip utamanya adalah melakukan seleksi bahan, mikroorganisme, dan kondisi lingkungan agar diperoleh produk terbaik.

Oleh karena itu, teknologi ini masih berada pada tingkat sel dan belum menyentuh manipulasi DNA atau gen.

Produk yang dihasilkan umumnya berupa makanan fermentasi seperti tempe, yoghurt, keju, kecap, tauco, mentega, dan asinan.

Mikroorganisme yang digunakan antara lain Rhizopus oligosporus pada tempe, Lactobacillus pada yoghurt dan keju, serta Aspergillus pada kecap dan tauco.

Sementara itu, bioteknologi modern berkembang pesat setelah ditemukannya struktur DNA oleh James Watson dan Francis Crick pada tahun 1953.

Perkembangan ini semakin maju dengan hadirnya teknologi DNA rekombinan, Polymerase Chain Reaction (PCR), hingga Human Genome Project.

Berbeda dengan bioteknologi konvensional, bioteknologi modern sudah melibatkan manipulasi materi genetik pada tingkat DNA dan RNA.

Teknologi ini memungkinkan ilmuwan menyisipkan gen tertentu ke organisme lain untuk menghasilkan sifat unggul sesuai kebutuhan manusia.

Perbedaan bioteknologi konvensional dan modern dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari sisi teknologi, bioteknologi konvensional menggunakan metode sederhana dan alami seperti fermentasi, sedangkan bioteknologi modern menggunakan teknologi canggih seperti rekayasa genetika, kloning, kultur jaringan, dan DNA rekombinan.

Dari sisi proses, bioteknologi konvensional memanfaatkan seluruh organisme hidup tanpa mengubah susunan genetiknya. Sebaliknya, bioteknologi modern secara langsung memodifikasi gen agar organisme memiliki sifat tertentu yang diinginkan.

Selain itu, perbedaan juga terlihat dari tingkat ketepatan hasil. Pada bioteknologi konvensional, hasil yang diperoleh sering kali tidak dapat diprediksi secara pasti karena prosesnya sangat dipengaruhi kondisi lingkungan dan aktivitas mikroorganisme alami.

Sebaliknya, bioteknologi modern mampu menghasilkan produk yang lebih terarah karena dilakukan manipulasi genetik secara spesifik.

Contohnya adalah tanaman transgenik tahan hama, produksi insulin melalui bakteri rekayasa genetika, hingga pengembangan vaksin modern.

Dari segi biaya dan teknologi, bioteknologi konvensional relatif lebih murah karena menggunakan peralatan sederhana dan proses alami.

Teknologi ini juga lebih mudah diterapkan oleh masyarakat umum. Namun, kekurangannya adalah proses berlangsung lebih lama dan hasilnya kurang maksimal.

Sebaliknya, bioteknologi modern membutuhkan biaya besar, laboratorium canggih, serta tenaga ahli karena melibatkan teknik molekuler yang kompleks.

Meski demikian, hasil yang diperoleh lebih cepat, akurat, dan mampu menciptakan organisme baru dengan sifat unggul yang sebelumnya tidak ada di alam.

Contoh penerapan bioteknologi modern dapat ditemukan dalam berbagai bidang. Dalam bidang kesehatan, teknologi DNA rekombinan digunakan untuk memproduksi hormon insulin bagi penderita diabetes.

Dalam bidang pertanian, rekayasa genetika menghasilkan tanaman tahan hama dan tahan kekeringan. Sementara di bidang peternakan, teknologi kloning memungkinkan penciptaan hewan dengan sifat genetik identik seperti domba Dolly yang terkenal di dunia.

Teknologi PCR juga menjadi salah satu inovasi penting karena mampu memperbanyak DNA dalam waktu singkat untuk keperluan penelitian dan diagnosis penyakit.

Walaupun bioteknologi modern menawarkan banyak manfaat, perkembangan teknologi ini juga memunculkan berbagai perdebatan etika dan dampak lingkungan.

Rekayasa genetika dianggap dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem dan menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pangan transgenik.

Oleh sebab itu, penggunaan bioteknologi modern harus dilakukan secara bijak dan disertai pengawasan yang ketat. Sementara itu, bioteknologi konvensional cenderung lebih diterima masyarakat karena prosesnya alami dan telah digunakan turun-temurun.

Secara keseluruhan, perbedaan bioteknologi konvensional dan modern terletak pada metode, tingkat teknologi, serta manipulasi organisme yang digunakan.

Bioteknologi konvensional lebih sederhana dan memanfaatkan proses alami seperti fermentasi, sedangkan bioteknologi modern menggunakan teknik rekayasa genetika untuk menghasilkan produk dengan sifat tertentu.

Kedua jenis bioteknologi ini memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan manusia di berbagai bidang.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat, bioteknologi modern diprediksi akan terus berkembang dan menjadi solusi berbagai tantangan global di masa depan, mulai dari ketahanan pangan, kesehatan, hingga pelestarian lingkungan. []

Sumber: Buku Ajar Bioteknologi karya Dr. Endah Rita Sulistyo Dewi, Dyah Ayu Widyastuti, dan Atip