Scroll untuk baca artikel
Daerah

Khataman Kitab Idzatun Nasyi’in di Semarang, KH Ubaidullah Shodaqoh Ajak Generasi Muda Bangun Akhlak Bangsa

×

Khataman Kitab Idzatun Nasyi’in di Semarang, KH Ubaidullah Shodaqoh Ajak Generasi Muda Bangun Akhlak Bangsa

Sebarkan artikel ini
Khataman kitab Idzatun Nasyi’in
KH Ubaidullah Shodaqoh saat menjadi pemantik diskusi dalam acara khataman kitab Idzatun Nasyi’in di Dusun Gundi, Desa Suruh, Kabupaten Semarang, Sabtu (31/10) malam.

KH Ubaidullah Shodaqoh memberikan pemantik diskusi dalam acara khataman kitab Idzatun Nasyi’in di Dusun Gundi, Kabupaten Semarang, yang mengangkat relevansi pemikiran Syekh Musthafa al-Ghalayaini bagi pembentukan karakter generasi muda.

BARISAN.CO, SEMARANG – Khataman kitab Idzatun Nasyi’in karya ulama dan pemikir asal Lebanon, Syekh Musthafa al-Ghalayaini, menjadi momentum untuk kembali membicarakan pentingnya akhlak, pendidikan karakter, dan tanggung jawab generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Dalam forum tersebut, KH Ubaidullah Shodaqoh mengingatkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak cukup hanya ditopang kekayaan alam, kecanggihan teknologi, dan kekuatan institusi, tetapi juga membutuhkan kualitas moral manusia yang membangunnya.

Pesan tersebut mengemuka dalam acara khataman kitab Idzatun Nasyi’in yang digelar di sebuah joglo di Dusun Gundi, Desa Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Sabtu (31/10) malam.

Sekitar seratus orang dari kalangan mahasiswa, masyarakat, dan pemuda setempat mengikuti kegiatan yang sekaligus dirangkai dengan syukuran atas kelulusan 23 anggota jamaah pengajian dari perguruan tinggi.

KH Ubaidullah Shodaqoh, pengasuh Pondok Pesantren Al Itqon Semarang yang hadir sebagai pemantik diskusi, mengatakan keistimewaan Idzatun Nasyi’in terletak pada kekuatan bahasa dan kedalaman pesan yang disampaikan penulisnya.

Kitab tersebut tidak sekadar menyajikan nasihat keagamaan, tetapi juga mengajak pembacanya berhadapan dengan berbagai persoalan sosial.

“Kalimat-kalimatnya tidak berhenti sebagai petuah moral, tetapi kerap membawa pembaca berhadapan dengan kenyataan sosial,” ujar Mbah Ubaid, sapaan akrab KH Ubaidullah Shodaqoh.

Menurut dia, akhlak sebagaimana tercermin dalam pemikiran Syekh Musthafa al-Ghalayaini bukanlah persoalan yang hanya selesai di ruang ibadah. Nilai-nilai moral harus hadir dan memiliki konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam ruang publik dan penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat.

Kejujuran, misalnya, bukan sekadar sifat baik yang ditunjukkan dalam hubungan pribadi, melainkan prinsip yang menentukan kualitas kehidupan publik.

Demikian pula keberanian, yang diperlukan seseorang ketika harus mengambil sikap di hadapan ketidakadilan. Keikhlasan menjadi dasar pengabdian, sedangkan persatuan merupakan modal penting bagi masyarakat untuk menghadapi persoalan bersama.

Mbah Ubaid menekankan bahwa kualitas sebuah bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, kemajuan teknologi, ataupun kekuatan militernya.

Faktor yang lebih mendasar adalah kualitas manusia, terutama karakter dan tanggung jawab moral orang-orang yang mengelola serta membangun kehidupan bangsa.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam menyelami pemikiran Syekh Musthafa al-Ghalayaini melalui kitab Idzatun Nasyi’in.

Karya yang lahir lebih dari satu abad lalu itu dinilai masih memiliki relevansi kuat untuk membaca berbagai persoalan masyarakat modern, termasuk tantangan yang dihadapi generasi muda Indonesia.

Khataman kitab ini merupakan hasil perjalanan pengajian rutin yang telah berlangsung sekitar lima tahun. KH Ahmad Dimyati, pengasuh jamaah pengajian tersebut, menjelaskan bahwa proses pembacaan kitab dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru.

“Kami mengajinya pelan-pelan, tidak ngoyo, kadang dalam satu pertemuan cuma membahas satu paragraf,” tuturnya.

Menurut Ahmad Dimyati, metode tersebut sengaja dipilih agar jamaah tidak hanya mengejar penyelesaian bacaan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memahami kandungan pemikiran yang terdapat dalam setiap bagian kitab. P

engajian yang berlangsung seminggu sekali itu diharapkan menjadi ruang belajar yang memungkinkan peserta mendalami teks sekaligus menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan, pilihan jamaah yang mayoritas masih berstatus mahasiswa juga memiliki pertimbangan tersendiri. Anak-anak muda tersebut dinilai masih memiliki perjalanan panjang dalam kehidupan akademik, sosial, maupun pengabdian kepada masyarakat.

Dengan bekal pengetahuan dan nilai yang diperoleh dari pengajian, mereka diharapkan dapat meneruskan pemahaman tersebut di lingkungan masing-masing.

Sebelum khataman dimulai, Ahmad Dimyati membacakan nama-nama anggota jamaah yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana.

Sebanyak 23 orang dinyatakan lulus dari perguruan tinggi dalam kurun waktu yang berdekatan. Capaian tersebut kemudian disyukuri bersama dalam suasana kekeluargaan.

Prosesi khataman dilanjutkan dengan pembacaan bagian akhir kitab Idzatun Nasyi’in oleh Faiz Alfa, S.Hum., dan Ulil Albab, S.Sos. Pembacaan dilakukan menggunakan metode yang lazim dijumpai di lingkungan pesantren, yakni membaca teks Arab yang ditulis

dengan aksara pegon, kemudian menerjemahkannya kata demi kata menggunakan bahasa Jawa.

Tradisi tersebut bukan hanya menjadi bagian dari tata cara menyelesaikan pembacaan kitab, tetapi juga memperlihatkan bagaimana metode pembelajaran pesantren tetap dipertahankan di tengah lingkungan masyarakat yang sebagian besar anggotanya berasal dari dunia perguruan tinggi.

Jamaah yang hadir berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan sosial. Di antaranya mahasiswa UIN Salatiga, STIE AMA, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Universitas Diponegoro (Undip). Mereka juga berbaur dengan anggota karang taruna serta warga sekitar.

Joglo yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus ruang pengajian KH Ahmad Dimyati menjadi titik pertemuan berbagai kalangan tersebut.

Di tempat sederhana itu, tradisi membaca kitab, memahami persoalan kehidupan, dan mendiskusikan perkembangan zaman berjalan beriringan.

Sementara itu, Dr. Ahmad Agus Suedi, dosen UIN Salatiga, dalam diskusi tersebut menggarisbawahi pentingnya pesan Idzatun Nasyi’in bagi generasi muda, khususnya mahasiswa.

Menurut dia, pemuda menempati posisi strategis dalam perjalanan masyarakat karena memiliki energi, kesempatan, dan kemampuan untuk membawa perubahan.

Namun, potensi tersebut membutuhkan arah dan landasan moral. Pengetahuan yang tidak disertai tanggung jawab dapat kehilangan makna sosialnya. Bahkan, kecerdasan tanpa kejujuran berpotensi digunakan untuk memperbesar kerusakan.

“Pemuda berada pada persimpangan penting perjalanan masyarakat. Mereka memiliki tenaga, kesempatan, dan kemampuan untuk membawa perubahan. Namun, energi itu membutuhkan arah. Pengetahuan tanpa tanggung jawab moral dapat kehilangan makna sosialnya. Kecerdasan tanpa kejujuran bahkan bisa menjadi alat untuk memperbesar kerusakan,” ujar Agus.

Ia menilai pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada kemampuan akademik, penguasaan teknologi, atau pencapaian gelar.

Pendidikan juga harus membentuk manusia yang memiliki keberanian membela kebenaran, bersedia mengakui kesalahan, serta mampu menempatkan kepentingan bersama di atas ambisi pribadi.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang berlangsung cepat. Kemajuan teknologi informasi, misalnya, tidak serta-merta menjadikan manusia lebih jujur dan bijaksana.

Media sosial yang membuka ruang komunikasi semakin luas juga dapat menjadi sarana penyebaran kebencian, hasutan, dan pertengkaran yang tidak produktif.

Di tengah perkembangan tersebut, pesan-pesan moral dalam Idzatun Nasyi’in dinilai tetap relevan. Kitab ini mengingatkan bahwa perubahan zaman tidak otomatis menghilangkan persoalan karakter manusia.

Hasud, kemunafikan, adu domba, dan ketidakjujuran dapat terus muncul dalam berbagai bentuk, bahkan ketika masyarakat telah memiliki pendidikan tinggi dan akses informasi yang semakin mudah.

Menurut Ahmad Dimyati, pengajian kitab tersebut memiliki dua misi. Pertama, menengok kembali pemikiran masa lalu untuk memahami gagasan dan nilai-nilai luhur yang pernah dirumuskan para ulama. Kedua, menemukan kembali relevansi nilai-nilai tersebut agar dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat masa kini.

Syekh Musthafa al-Ghalayaini sendiri merupakan ulama, sastrawan, sekaligus pemikir asal Beirut, Lebanon. Ia lahir pada 1886 dan wafat pada 1944. Ia hidup ketika dunia Arab menghadapi pergolakan politik, kolonialisme, dan perubahan sosial yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Pengalaman historis tersebut memberikan warna tersendiri pada Idzatun Nasyi’in. Selain mengajarkan kesalehan dan pembentukan akhlak pribadi, kitab ini juga memuat perhatian terhadap kondisi masyarakat, bangsa, pendidikan, serta masa depan generasi muda.

Salah satu kekuatan pemikiran al-Ghalayaini adalah kemampuannya menyampaikan gagasan melalui bahasa Arab yang indah, puitis, sekaligus tajam. Pesan-pesan yang disampaikan tidak berhenti sebagai ajaran normatif, tetapi mengandung kritik dan refleksi terhadap kehidupan sosial.

Dalam konteks Indonesia saat ini, pemikiran tersebut dapat dibaca sebagai pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan fisik dan kelembagaan.

Gedung-gedung tinggi, universitas ternama, teknologi mutakhir, dan berbagai capaian pembangunan akan kehilangan makna apabila tidak disertai kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian sosial.

Karena itu, pertemuan tradisi keilmuan Islam klasik dengan dunia akademik modern dalam pengajian di Dusun Gundi menjadi ruang dialog yang menarik.

Mahasiswa yang sehari-hari berhadapan dengan teori, penelitian, dan perkembangan ilmu pengetahuan diajak kembali menyelami pemikiran ulama klasik untuk membaca persoalan kehidupan yang terus berkembang.

Diskusi malam itu juga berkembang ke berbagai fenomena gerakan sosial-politik dan demokrasi di sejumlah negara, termasuk Prancis dan Amerika Serikat. Para peserta bertukar pandangan mengenai dinamika masyarakat, perubahan politik, serta tantangan demokrasi di berbagai belahan dunia.

Rangkaian kegiatan khataman kitab Idzatun Nasyi’in tersebut kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu “Darah Juang” secara bersama-sama.

Penutupan itu sekaligus menegaskan bahwa forum pengajian tidak hanya menjadi ruang untuk memperdalam pengetahuan keagamaan, tetapi juga tempat membangun kesadaran sosial, kebangsaan, dan tanggung jawab generasi muda. []