Scroll untuk baca artikel
Ragam

Mengenal Crab Mentality: Perilaku Suka Menjatuhkan Orang Lain dan Cara Mengatasinya

×

Mengenal Crab Mentality: Perilaku Suka Menjatuhkan Orang Lain dan Cara Mengatasinya

Sebarkan artikel ini
Crab Mentality
Ilustrasi

Crab mentality merupakan fenomena psikologis saat seseorang berusaha menjatuhkan dan menghalangi kesuksesan orang lain agar tidak melebihi dirinya.

BARISAN.CO – Crab mentality atau mentalitas kepiting kini menjadi istilah yang kian familiar di telinga masyarakat. Istilah ini lahir dari pengamatan sederhana terhadap perilaku kepiting saat ditempatkan di dalam ember nelayan yang terbuka.

Ketika seekor kepiting berusaha memanjat keluar untuk membebaskan diri, kepiting-kepiting lain di bawahnya bukannya membantu, melainkan justru menarik dan membatalkan usaha tersebut. Kepiting yang terus-menerus digagalkan lama-kelamaan akan bergerak lambat, menyerah, dan akhirnya terjebak di dalam ember selamanya.

Dari fenomena alam inilah, crab mentality dipakai untuk menggambarkan paradigma berpikir seseorang yang sempit dan egois. Disadur dari penelitian berjudul “The Crabs in a Bucket Mentality in Healthcare Personnel: A Phenomenological Study”, secara ilmiah mentalitas kepiting didefinisikan sebagai watak atau kecenderungan seseorang untuk menghalang-halangi pencapaian orang lain agar tidak bisa lebih sukses darinya.

Mentalitas ini bisa diidap oleh siapa saja di sekitar kita. Umumnya, orang yang memiliki crab mentality dapat dikenali dari kebiasaan buruknya, seperti:

  • Suka meremehkan kemampuan dan pencapaian orang lain.
  • Sering melakukan manipulasi psikologis.
  • Suka mengambinghitamkan orang lain atas kegagalan sendiri.
  • Merasa terancam ketika melihat teman atau rekan kerjanya berkembang.

Apesnya, siapa pun bisa terjebak di dalam “ember” berisi orang-orang bermentalitas seperti ini. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Dilansir dari mybestlife.co.uk, berikut beberapa tips untuk meloloskan diri dan membentengi diri dari gangguan orang-orang bermentalitas kepiting:

  1. Berpikir Positif dan Yakin dengan Kemampuan Diri SendiriSelalu optimis dan percaya pada potensi diri adalah kunci utama menjadi pribadi yang tangguh serta tidak mudah terpengaruh oleh gangguan eksternal. Bangun visi yang jelas ke depan dan motivasi diri untuk terus berkembang. Jangan sampai kita sendiri yang menjadi “kepiting” bagi potensi diri kita sendiri.
  2. Segera Move On dari KesalahanSetiap orang pasti pernah berbuat salah dan itu adalah hal yang wajar serta manusiawi. Jadikan kesalahan sebagai proses belajar agar tidak terulang di masa depan. Jangan larut dalam penyesalan terlalu lama; lekaslah berbenah selagi ada kesempatan dan jangan biarkan rasa bersalah melempar Anda kembali ke dalam ember kepiting.
  3. Bentuk Lingkungan Pergaulan (Circle) yang PositifKita memegang kendali penuh atas diri sendiri untuk memilih dengan siapa kita bergaul. Jauhilah orang-orang yang menunjukkan sinyal mentalitas kepiting dan mulailah membangun circle pertemanan yang saling mendukung serta memotivasi untuk maju bersama.

Memang benar, mentalitas kepiting bersumber dari sifat egois dan rasa iri. Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, ada satu sisi positif yang bisa dipetik, yaitu dorongan jiwa kompetitif yang tinggi dan pantang menyerah.

Meski begitu, menyalurkan jiwa kompetitif secara merusak tentu bukan pilihan yang bijak. Daripada menjadi kepiting yang saling menjatuhkan di dalam ember, jauh lebih baik menjadi pribadi yang saling merangkul dan membantu sesama agar bisa berhasil keluar dari keterbatasan bersama-sama. [rif]