Sedotan plastik sekali pakai yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu jenis sampah yang berpotensi mencemari lingkungan dan laut.
BARISAN.CO – Sedotan plastik sekali pakai menjadi salah satu benda yang terlihat sepele dalam kehidupan sehari-hari. Ukurannya kecil, ringan, dan biasanya hanya digunakan beberapa menit sebelum dibuang. Namun, di balik penggunaannya yang singkat, sedotan plastik menjadi bagian dari persoalan sampah plastik yang mencemari lingkungan, termasuk laut.
Sedotan bahkan termasuk salah satu jenis sampah yang kerap ditemukan dalam kegiatan pembersihan pantai di berbagai negara. Ukurannya yang kecil membuat sedotan mudah terbawa aliran air menuju sungai dan laut, sementara bentuknya membuat benda ini sulit dikumpulkan kembali untuk didaur ulang.
Namun, jauh sebelum sedotan modern berbahan plastik dikenal luas, manusia telah menggunakan berbagai bentuk sedotan selama ribuan tahun.
Sedotan sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu
Sejarah penggunaan sedotan dapat ditelusuri hingga peradaban kuno. Arkeolog menemukan sedotan yang terbuat dari emas dan batu mulia lapis lazuli di reruntuhan kota serta makam bangsa Sumeria.
Artefak yang diperkirakan berasal dari sekitar 3000 SM tersebut menunjukkan bahwa manusia telah mengenal cara menikmati minuman menggunakan alat bantu berupa sedotan sejak ribuan tahun lalu.
Dilansir dari Beyond Green, masyarakat Sumeria diperkirakan menggunakan sedotan untuk meminum bir. Pada masa itu, bir dibuat dalam wadah fermentasi sederhana sehingga menyisakan endapan padat di bagian bawah. Sedotan memungkinkan cairan diminum dari bagian atas tanpa mengganggu endapan tersebut.
Sebelum penggunaan material mewah seperti emas dan lapis lazuli, sedotan kemungkinan dibuat dari bahan alami yang lebih sederhana, seperti kayu atau tanaman berongga.
Penggunaan sedotan juga berkembang di belahan dunia lain.
Di Argentina, masyarakat adat telah menggunakan alat sejenis sedotan selama ribuan tahun. Alat tersebut kemudian berkembang menjadi perangkat logam yang dikenal sebagai bombilla.
Berbeda dengan sedotan biasa, bombilla memiliki fungsi ganda. Selain digunakan untuk menyedot minuman, alat tersebut juga berfungsi sebagai penyaring ketika masyarakat menikmati teh.
Sedotan rumput gandum hingga lahirnya sedotan modern
Memasuki abad ke-19, sedotan berbahan rumput gandum sempat populer karena murah dan mudah dibuat.
Namun, material tersebut memiliki kelemahan. Ketika digunakan dalam waktu lama, rumput gandum akan menyerap air dan menjadi lunak hingga mudah hancur.
Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya inovasi baru.
Menurut Beyond Green, penemu asal Amerika Serikat, Marvin C. Stone, menciptakan prototipe sedotan modern pada 1888. Stone yang memiliki latar belakang industri pembuatan cerutu mendapatkan ide dengan melilitkan kertas pada pensil kemudian memberikan lapisan lem.
Inovasi tersebut menghasilkan sedotan yang lebih kuat dibandingkan sedotan rumput gandum.
Stone kemudian menyempurnakan proses produksinya menggunakan mesin sehingga sedotan dapat dibuat dalam jumlah besar dan memiliki daya tahan lebih baik, termasuk ketika digunakan pada minuman tertentu.
Inovasi sedotan terus berkembang. Pada 1937, Joseph Friedman memperkenalkan sedotan bengkok yang membuat penggunaan sedotan menjadi lebih praktis.
Desain tersebut memungkinkan pengguna minum dengan posisi yang lebih nyaman tanpa harus memiringkan wadah minuman secara berlebihan.
Plastik membuat sedotan diproduksi massal
Perubahan besar terjadi pada pertengahan abad ke-20 ketika plastik mulai digunakan secara luas dalam industri manufaktur.
Material plastik memungkinkan sedotan diproduksi dalam jumlah besar dengan biaya relatif murah. Bentuknya juga mudah disesuaikan dengan kebutuhan sehingga industri makanan dan minuman semakin banyak menggunakannya.
Pada era tersebut, bukan hanya sedotan yang mengalami perkembangan. Berbagai perlengkapan minuman berbahan plastik seperti tongkat pengaduk dan aksesori koktail ikut diproduksi secara massal.
Kemudahan produksi dan murahnya harga membuat sedotan plastik akhirnya menjadi bagian umum dari budaya konsumsi modern.
Masalahnya, usia penggunaan sedotan sangat singkat dibandingkan dengan masa keberadaannya sebagai sampah.
Satu sedotan mungkin hanya digunakan selama beberapa menit, tetapi ketika dibuang sembarangan, material plastiknya dapat bertahan sangat lama di lingkungan.
Sedotan plastik dan persoalan sampah laut
Penggunaan sedotan sekali pakai menjadi perhatian karena benda tersebut memiliki kemungkinan masuk ke lingkungan melalui berbagai jalur.
Sedotan yang dibuang sembarangan dapat terbawa angin, masuk ke saluran air, sungai, kemudian berakhir di laut. Karena ukurannya kecil, sedotan juga relatif sulit dikumpulkan dalam sistem pengelolaan sampah konvensional.
Dalam bahan yang dilansir Barisan.co dari Beyond Green, disebutkan bahwa masyarakat Amerika Serikat menggunakan lebih dari 500 juta sedotan setiap hari. Sementara itu, di Indonesia disebutkan terdapat sekitar 93 juta sedotan plastik yang digunakan setiap hari.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi timbulan sampah apabila sedotan sekali pakai tidak dikelola dengan baik.
Sedotan plastik juga disebut termasuk dalam 10 jenis sampah yang banyak ditemukan dalam kegiatan pembersihan pantai di dunia.
Laporan International Coastal Cleanup selama periode 1988-2017 menunjukkan bahwa sedotan plastik secara konsisten berada dalam daftar barang yang banyak ditemukan dalam kegiatan pembersihan pesisir.
Posisi tersebut memperlihatkan bahwa meski ukurannya kecil, sedotan menjadi bagian dari persoalan sampah plastik yang cukup terlihat di kawasan pesisir.
Mengapa sedotan plastik sulit didaur ulang?
Salah satu persoalan sedotan plastik adalah ukurannya yang kecil dan bentuknya yang ringan.
Dalam sistem pemilahan dan pengolahan sampah, benda-benda plastik berukuran sangat kecil dapat lebih sulit dipisahkan dibandingkan botol atau wadah plastik berukuran besar.
Akibatnya, sedotan yang sebenarnya terbuat dari plastik belum tentu masuk ke proses daur ulang.
Persoalan ini menjadi lebih kompleks karena sedotan umumnya merupakan produk sekali pakai. Setelah digunakan, benda tersebut sering langsung dibuang bersama sampah lainnya.
Pada akhirnya, sedotan dapat berakhir di tempat pembuangan sampah atau masuk ke lingkungan apabila sistem pengelolaan sampah tidak berjalan optimal.
Plastik dapat berubah menjadi mikroplastik
Persoalan sampah plastik tidak berhenti ketika benda tersebut tidak lagi terlihat dalam bentuk aslinya.
Paparan sinar matahari, panas, gesekan, gelombang, dan proses lingkungan lainnya dapat membuat plastik terfragmentasi menjadi potongan yang semakin kecil. Fragmen tersebut dapat menjadi mikroplastik.
Mikroplastik menjadi perhatian karena ukurannya memungkinkan partikel tersebut masuk ke berbagai bagian ekosistem.
Di laut, sampah plastik dapat tertelan oleh berbagai jenis hewan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan satwa dan ekosistem laut.
Bahan yang menjadi sumber artikel ini menyebut sekitar 71 persen burung laut dan 30 persen penyu menelan plastik. Angka tersebut perlu dilihat berdasarkan sumber dan periode penelitian masing-masing karena tingkat paparan plastik pada satwa laut dapat berbeda menurut lokasi dan spesies.
Sedotan dan ancaman bagi satwa laut
Sampah plastik di laut bukan hanya persoalan estetika.
Ketika sampah plastik berada di perairan, satwa dapat mengira benda tersebut sebagai makanan. Plastik yang tertelan dapat menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan, rasa kenyang palsu, hingga risiko cedera atau kematian pada kondisi tertentu.
Sedotan memiliki karakteristik yang membuatnya mudah ditemukan sebagai sampah laut: ringan, kecil, dan banyak digunakan dalam produk minuman sekali pakai.
Karena itu, pengurangan penggunaan sedotan sekali pakai menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi sumber sampah plastik, meskipun persoalan pencemaran plastik di laut tentu jauh lebih luas daripada hanya sedotan.
Alternatif sedotan mulai bermunculan
Meningkatnya perhatian terhadap sampah plastik mendorong munculnya berbagai alternatif sedotan.
Sedotan berbahan kertas, bambu, logam, kaca, hingga material yang dapat terurai secara biologis mulai digunakan sebagai pengganti sedotan plastik sekali pakai.
Namun, setiap alternatif juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Sedotan yang dapat digunakan berulang kali, misalnya, membutuhkan proses pencucian dan perawatan. Sementara sedotan berbahan sekali pakai tetap membutuhkan pengelolaan limbah yang tepat setelah digunakan.
Karena itu, persoalan sedotan tidak semata-mata mengenai mengganti satu material dengan material lainnya.
Pengurangan konsumsi barang sekali pakai, penggunaan kembali produk yang memungkinkan, serta sistem pengelolaan sampah yang lebih baik tetap menjadi bagian penting dalam mengurangi pencemaran.
Dari benda sederhana menjadi simbol persoalan plastik
Perjalanan sedotan menunjukkan bagaimana sebuah benda yang awalnya merupakan inovasi untuk membantu manusia menikmati minuman berkembang menjadi produk massal dalam industri modern.
Dari sedotan kuno yang dibuat menggunakan material berharga, rumput gandum, kertas, hingga plastik, desainnya terus mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Masalah muncul ketika kemudahan produksi tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Sedotan plastik hanya digunakan dalam waktu singkat, tetapi materialnya dapat bertahan jauh lebih lama di lingkungan. Karena itu, benda kecil tersebut kini menjadi salah satu simbol dari persoalan besar konsumsi plastik sekali pakai.
Data dan sejarah dalam artikel ini antara lain merujuk pada Beyond Green, sementara informasi mengenai sampah pesisir mengacu pada laporan International Coastal Cleanup yang disebutkan dalam bahan. Pembaca tetap perlu melihat sumber penelitian asli untuk konteks, periode, dan metodologi masing-masing angka. []
Sumber
- Beyond Green — The History and Evolution of Straws
- International Coastal Cleanup — laporan pembersihan pesisir yang disebut dalam bahan artikel.









