Biografi Abbas Ibnu Firnas merupakan ilmuwan muslim penemu parasut dan teori pesawat. Ibnu Firnas orang pertama di dunia yang melakukan uji coba penerbangan terkendali.
BARISAN.CO – Parasut merupakan alat keselamatan yang biasa disediakan sebagai pelengkap penerbangan untuk mengantisipasi ketika terjadi kecelakaan. Selain sebagai alat keselamatan, zaman modern sekarang ini parasut juga sebagai sarana olah raga. Bahkan dilombakan seperti lomba terbang layang dan lomba terjun payung.
Lantas apakah parasut itu? Kata parasut berasal dari kata bahasa Perancis “para” (melindungi) dan “chute” (jatuh). Secara istilah parasut berarti “perlindungan waktu jatuh“. Orang yang melakukan penerjunan dengan parasut sering diistilahkan dengan “penerjun“.
Parasut adalah perangkat dari tekstil lembut yang digunakan untuk memperlambat gerakan suatu objek di atmosfer dengan menciptakan seretan (drag). Pada umumnya digunakan untuk memperlambat gerak turun seseorang atau suatu objek ke bumi.
Parasut drogue (drogue parachute) atau parasut pendaratan pesawat juga dirancang untuk membantu penurunan percepatan horizontal sewaktu akan mendarat atau drag racer. Parasut modern dikembangkan dalam bentuk semi sayap atau bahkan bersayap yang berguna untuk bermanuver dan dapat diterbangkan sebagai glider.
Dulu, parasut terbuat dari sutra, tapi kini hampir selalu dibuat dari tekstil nilon. Terkadang juga dilapisi silikon yang berfungsi untuk meningkatkan kinerja dan konsistensi. Awalnya, sutra digunakan untuk tali parasut, tapi kemudian digantikan oleh nilon pada Perang Dunia II.
Mulailah dikenal parasut model persegi, para produsen berganti ke bahan beregangan rendah seperti dacron atau bahan tanpa regangan seperti spectra, kevlar, dan vectran.
Klaim barat
Dunia barat mengklaim bahwa André Jacques Garnerin (lahir di Paris, 31 Januari 1769 – meninggal di Paris, 18 Agustus 1823 pada umur 54 tahun) sebagai penemu. parasut. Ia melakukan penerjunan pertama dengan parasut sutra dari sebuah balon udara panas di Parc Monceau, Paris, pada 22 Oktober 1797.
Percobaan awal André Jacques Garnerin didasarkan pada payung berbentuk perangkat. Parasut pertama Garnerin menyerupai payung tertutup sebelum ia naik. Dengan tiang mengalir di tengahnya dan tali berjalan melalui tabung dalam kutub, yang terhubung ke balon.
Namun tahukah anda bahwa jauh sebelum Andre Jacques Garnerin mengklaim dirinya sebagai penemu pertama parasut. Ternyata di dunia Islam, ada ilmuwan Muslim abad pertengahan yang pertama kali mengawali percobaan parasut.
Pada abad pertengahan ini memang, satu satu periode yang tidak banyak diketahui oleh para pelajar muslim di tanah air. Sebab pada periode abad pertengahan merupakan periode kemajuan sains Islam dari abad VII sampai abad XIV.
Pada saat itu para penguasa muslim membuka berbagai pusat kegiatan keilmuan mulai dari Baghdad, Mesir, sampai ke Andalusia Spanyol. Baghdad menjadi kiblat ilmu pengetahun bagi ilmuan-ilmuan di Asia dan Cordoba yang memainkan peranan penting sebagai pusat intelektual di Eropa.
Di masa abad pertengahan ini ilmuwan Islam yakni Ibnu Firnas telah menemukan teori-teori sederhana tentang teknik penerbangan. Langkah-langkah nyata untuk menguji alat terbang pun telah dilakukan pada masa itu.
Jika di barat dikenal tokoh seperti, Sir George cayley, Otto Lilienthal dan Wright bersaudara yang telah berjasa merintis ilmu penerbangan menjadi industri modern. Sepertinya bukan hal yang berlebihan jika mengenal juga ilmuan-ilmuan muslim. Justru ilmuan Islam atau muslin ini telah melakukan eksperimen terbang 1.000 tahun mendahului Wright Bersaudara maupun André Jacques Garnerin.
Sosok Ibnu Firnas
Memiliki nama lengkap Abbas Qasim Ibnu Firnas. Di dunia barat lebih dikenal dengan nama Armen Firman. Ia dilahirkan pada tahun 810 M di Korah takrna, Izn-Rand Onda, Al-Andalus (kini Ronda, Spanyol) dari orang tuanya yang keturunan Maroko.
Ibnu Firnas lahir pada masa pemerintahan dinasti Umayyah. Antara lain Hakam, anakknya Abdulrahman II dan Muhammad I atau yang dijuluki dengan Amir Muhammad Amir Bin Abdulrahman.
Ribuan tahun sebelum masa kejayaan dunia Barat melalui Wright bersaudara, teknisi muslim bernama Abbas Ibnu Firnas telah membuat percobaan mesin terbang. Pada tahun 852, dia melompat dari menara Masjid Agung di Cordoba dengan menggunakan mantel/jubah longgar yang dikeraskan dengan kayu penopang.
Dia berharap dapat meluncur seperti burung, tapi ternyata tidak. Jubah yang ia pakai memperlambat dia jatuh, sehingga Ibnu Firnas mengalami sedikit luka. Dari lambat jatuh jubah tersebut, menjadi ide lahirnya parasut.
Pada tahun 875 saat usia 70 tahun, dengan menggunakan bulu-bulu elang dan sutera yang sudah disempurnakan. Ia mencoba lagi, melompat dari sebuah gunung. Abbas Ibnu Firnas berhasil terbang pada ketinggian dan bertahan di udara selama sekitar 10 menit. Akan tetapi ia mengalami kecelakaan sewaktu mendarat. Hal ini disebabkan dia tidak melengkapi peralatannya dengan ekor sehingga tidak dapat berhenti ketika mendarat.
Fakta ini juga diakui oleh ilmuan barat tentang cikal bakal lahirnya parasut. Yang telah ditemukan ilmuwan Muslim yakni Abbas Ibnu Firnas pada abad ke-9 M.
John H Lienhard dalam bukunya berjudul The Engines of Our Ingenuity menggambarkan uji coba terbang pertama dalam sejarah peradaban manusia yang terjadi pada tahun 852 M.
”Seorang lelaki bernama Armen Firman (Ibnu Firnas) memutuskan untuk terjun dari sebuah menara Masjid Agung Cordova,” tutur Lienhard.
Uji coba penerbangan
Sejarah juga mencatat Abbas Ibnu Firnas sebagai orang pertama di dunia yang melakukan uji coba penerbangan terkendali. Dengan semacam alat kendali terbang yang digunakan pada dua set sayap, Ibnu Firnas bisa mengontrol serta mengatur ketinggian terbangnya.
Selain itu, dia juga bisa mengubah arah terbang. Hal itu dibuktikan dengan keberhasilannya kembali ke arah di mana ia meluncur. Meski begitu, dia mengalami luka-luka saat mendarat.
Sayap buatan pun pertama kali diperkenalkan oleh Peradaban Islam. Ibnu Firnas yang kali pertama membuat dan mencoba sayap buatan itu. Meski tak terlalu berhasil, inovasi yang digulirkannya menjadi inspirasi bagi ilmuwan dan penerbang di abad berikutnya.
Seorang penjelajah di abad ke-17 M, Evliya Celebi menyebutkan Hezarfen Ahmet Celebi adalah penerbang pertama yang sukses melakukan penerbangan dengan menggunakan sayap buatan pada tahun 1630 M – 1632 M.
Itulah cikal bakal penemuan parasut yang selanjutnya dikembangkan oleh beberapa ilmuan barat hingga menjadi parasut saat ini. Bahkan dari teori dasar itu juga terjadi penyempurnaan untuk terciptanya pesawat terbang, maka Abbas Ibnu Firnas pun juga dikenal sebagai bapak penerbangan atau bapak kedirgantaraan.
Para ahli penerbangan dan sejarah Barat mengakui pencapaian peradaban Islam dalam dunia penerbangan yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.
”Ibnu Firnas adalah manusia pertama dalam sejarah yang melakukan percobaan ilmiah untuk melakukan penerbangan,” ujar Sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam bukunya yang bertajuk History of the Arabs.
Pencapaian yang berhasil ditorehkan ilmuwan Muslim di era kejayaan Kekhalifahan Islam di Andalusia itu juga mendapat pengakuan dari pakar kedirgantaraan Amerika Serikat (AS), Richard P Hallion.
“Sejarah penerbangan dunia tak boleh melupakan pencapaian Ibnu Firnas,” ucap Hallion. (Luk)



