Scroll untuk baca artikel
Blog

Aktivis Muda Anti Perbudakan Itu Bernama Iqbal Masih

Redaksi
×

Aktivis Muda Anti Perbudakan Itu Bernama Iqbal Masih

Sebarkan artikel ini

BARISAN.COMinggu Paskah menjadi mimpi buruk bagi seorang anak laki-laki di Pakistan. Ia mati ditembak saat bersepeda menuju rumahnya bersama dengan teman-temannya setelah menghadiri misa. Adalah Iqbal Masih, yang dinominasikan untuk penghargaan Penghapusan Pekerja Anak 2021 oleh Biro Urusan Perburuan Internasional Departemen Tenaga Kerja AS.

Ketika berusia empat tahun, Iqbal dijual oleh ayahnya kepada pemilik pabrik karpet untuk membayar utang keluarganya. Ia dipaksa bekerja lebih dari dua belas jam sehari dengan waktu istirahat selama setengah jam.

Selama bekerja, ia mengalami kekerasan secara verbal maupun non-verbal, dan tak mendapatkan makan seperti seharusnya. Setiap malam, ia dirantai pada sebuah alat tenun dengan posisi membungkuk sehingga tubuhnya berhenti mengalami pertumbuhan seperti anak-anak kebanyakan.

Sempat ia berusaha kabur dari siksaan. Tapi, pelariannya ke kantor polisi untuk meminta bantuan itu sia-sia. Polisi mengembalikannya kepada majikan Iqbal, Arshad, dan meminta uang sebagai balasan telah mengembalikan budak yang melarikan diri. Arshad pun geram dan memaksa Iqbal kembali bekerja dengan melakukan kekerasan serta tak memberikan makan.

Sebenarnya pemerintah Pakistan telah lama memiliki undang-undang pelarangan perbudakan. Sayang, banyak pengusaha yang mengabaikannya.

Iqbal tak lantas menyerah meski ia dikembalikan kepada Arshad. Ia kembali berjuang untuk membebaskan diri dan teman-teman sebayanya. Iqbal, pada suatu hari, memutuskan pergi untuk menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan Serikat Pekerja.

Dalam acara tersebut, dengan rasa percaya diri, Iqbal menceritakan kisahnya. Salah satu pemimpin serikat pekerja Ehsan Ullah Khan mengupayakan untuk dapat membebaskan Iqbal dari belenggu perbudakan Arshad. Setelah banyak tekanan yang diterima, Arshad membebaskan Iqbal dan beberapa budak anak masih di bawah umur lainnya.

Pada saat usianya 12 tahun, Iqbal menjadi pemimpin terkemuka anti-perbudakan di Pakistan. Ia bersekolah di Bonded Labour Liberation Front (BLLF) bagi mantan budak. Iqbal memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Kurikulum pendidikan yang seharusnya selesai dalam kurun waktu lima tahun, mampu ia selesaikan dalam waktu tiga tahun.

Ia bercita-cita menjadi seorang pengacara sehingga ia mulai memahami tentang hukum perburuhan dan Hak Asasi Manusia. Iqbal mengambil risiko dengan memutuskan untuk mengendap-endap masuk ke dalam pabrik, mengajukan pertanyaan kepada anak-anak tentang pengalaman dan apakah mereka menjadi budak.

Iqbal memberikan banyak keberanian kepada anak-anak untuk meninggalkan para pemiliknya. Karena dorongan dan keberaniannya, Iqbal membantu lebih dari 3.000 anak Pakistan yang menjadi pekerja paksa dan berpidato tentang pekerja anak di seluruh dunia.

Pada gilirannya, Iqbal pun mulai berkunjung ke Swedia dan Amerika Serikat untuk membagikan kisahnya dan mendorong orang lain untuk bergabung dalam perjuangan memberantas perbudakan anak.

Tahun 1994, Iqbal menerima Penghargaan Hak Asasi Manusia di Boston. Dalam pidatonya ia mengatakan bahwa ia adalah salah satu dari jutaan anak yang menderita di Pakistan akibat kerja paksa di bawah umur. “Saya ingin melakukan sebagaimana yang Abraham Lincoln lakukan terhadap para budak di Amerika Serikat. Saya ingin melakukannya di Pakistan,” katanya.

Sekembalinya dari Amerika, Iqbal ingin melanjutkan kehidupannya bersekolah dan mencapai cita-citanya sebagai pengacara. Nahas, senapan 12 gauge menembus punggungnya.

Kepolisian mengklaim penembakan tersebut dilakukan oleh seorang petani lokal bernama Ashraf Hero secara tidak sengaja. Namun, sebagian orang memercayai bahwa Iqbal dibunuh oleh mafia pabrik karpet yang memiliki pengaruh di kepolisian dan Ashraf hanyalah kambing hitam atas pembunuhan tersebut.