Scroll untuk baca artikel
Opini

Anies di Pusaran Akrobat Politik Risma

Redaksi
×

Anies di Pusaran Akrobat Politik Risma

Sebarkan artikel ini

Oleh: Achmad Fachrudin*

Barisan.co – Hari pertama masa tugasnya sebagai Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini atau biasa disapa Risma melakukan blusukan ke  kawasan kumuh dan banyak dihuni gelandangan di Fly Over Pramuka, Jalan Pramuka Sari II, pada Senin (28/12/2020). Tidak sekadar blusukan, Risma mengajak para gelandangan untuk bersedia direlokasi ke pemukiman lebih layak. Bagi Risma, langkah semacam itu biasa saja karena acapkali dilakukan ketika menjabat Walikota Surabaya. Namun karena dilakukan di Jakarta dan dalam posisinya sebagai Mensos, langkah tersebut dianggap kurang lajim.

Sebagian kalangan memberikan apresiasi terhadap Risma. Seraya menganggap, sebagai bukti, Risma pejabat publik yang tidak saja bekerja diatas meja melainkan juga turun ke bawah untuk melihat realitas empirik masalah yang terjadi. Tetapi sebagian lain menilai, langkah Risma tersebut tidak tepat. Sebagai Mensos, sebaiknya prioritas kerja Risma mewujudkan keadilan sosial dan ketimpangan sosial. Dimulai dengan mengevaluasi dan membenahi distribusi bantuan sosial  yang selama ini sering diterpa kasus  korupsi. Terakhir dialami oleh Mensos Juliari Batubara yang kemudian dicokok KPK.

Pengamat, atau warganet boleh saja berkomentar dengan gaya (style) kepemimpinan Risma. Selebihnya tentu menjadi hak Risma untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang diinginkan, termasuk bagaimana cara mengekpressikannya. Yang jelas, saat menjadi walikota Surabaya, Risma memiliki style kepemimpinan agak tegas, ekspressif dan melankolis. Sekali waktu bisa meluapkan kemarahannya. Lain kali bisa berlaku lebai (berlebihan). Seperti melakukan sujud syukur saat PT Astra Internasional Tbk bersedia menjalin kerja sama dengan Pemkot Surabaya, Januari 2020.

Dalam kontek Surabaya, barangkali gaya atau karakter kepemimpinan Risma sangat cocok, dan tidak menimbulkan tanggapan beragam dari masyarakatnya. Apapun langkah dan cara Risma dalam mengekspressikan kepemimpinannya akan  lebih banyak yang mendukung daripada yang menolak. Salah satu penyebabnya adalah kultur atau etnis Surabaya yang relatif homogen. Hal ini berbeda dengan Jakarta, yang komposisi penduduknya sangat heterogen dan plural.

Spekulasi Risma

Manakala Risma tetap mempertahankan style dan metode kepemimpinan sebagaimana dilakukan ketika memimpin Surabaya atau seperti dilakukan saat melakoni tugas pertamanya sebagai Mensos dengan melakukan blusukan ke kawasan kumis di Jakarta, diperkirakan akan banyak menimbulkan beragam respon, kontroversi dan pro kontra dari berbagai elemen dan komponen masyarakat, baik melalui media konvensional maupun non konvensional, terutama media sosial.

Lebih dari itu, manuver Risma tersebut berpotensi menaikkan suhu politik lokal dan nasional, secara khusus pada relasinya antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, terutama dengan Gubernur DKI Anies Baswedan. Bahkan bisa menimbulkan benturan komunikasi yang secara head to head menghadapkan Risma versus Anies, dan bisa saja melibatkan kalangan pendukungnya.

Dalam perspektif politik, gaya kepemimpinan Risma cocok dengan kategori apa yang oleh Indonesianis asal Amerika Serikat Herbert Feit disebut dengan solidarity maker. Bisa jadi kepemimpinan tersebut lebih merefleksikan motivasi dan komitmen kuat Risma untuk membangun ikatan solidaritas primordial  guna menyelesaikan problem yang terjadi. Tetapi bisa saja langkah Risma dilakukan secara by design untuk sekaligus menggerogoti popularitas dan elektabilitas Anies yang banyak digadang-gadang berbagai lembaga suvei, potensial maju di Pemilu Serentak 2024.