Scroll untuk baca artikel
Edukasi

Belajar Akhlakul Karimah Kepada Sesama Melalui Kitab Nasohiul Ibad

Redaksi
×

Belajar Akhlakul Karimah Kepada Sesama Melalui Kitab Nasohiul Ibad

Sebarkan artikel ini
akhlakuk karimah Nasohiul Ibad
Ilustrasi foto/Pexels.com

“Bila dia orang yang lebih tua hendaklah engkau mengatakan dalam hati: Orang ini telah dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.” (Syekh Abdul Qodir Jaelani)

BARISAN.CO – Akhlakul Karimah merupakan kewajiban bagi semua orang dalam bersosial, di semua agama di ajarkan tentang akhlakul karimah.

Tidak lain di Islam mengajarkan bagaimana cara mensikapi orang yang lebih tua ,orang yang lebih muda,orang yang lebih pintar maupun bodoh.

Seseorang yang buruk akhlaknya dalam hukum sosial pasti tidak disukai oleh banyak orang secara otomatis tanpa disuruh akan pergi menjauhinya.

Begitu pentingnya berakhlakul karimah di tanamkan di semua instansi pendidikan dari dasar baik SD, SMP, SMA/SMK maupun di perguruan tinggi untuk menjamin akhlak anak bangsa sebagai generasi masa depan yang cerah.

Di pondok pesantren sudah banyak yang menekankan akhlakul karimah disamping belajar ilmu lainnya.

Belajar berakhak pun tidak boleh asal dalam menanamkan di dunia pendidikan harus ada dasar baik dalil aqli maupun naqli.

Di sini saya akan membahas cara berakhlakul karimah melalui kitab Nasohiul Ibad tentang bagaimana cara mensikapi anak yang lebih kecil atau pun lebih tua

Sebelumya saya kenalkan apa itu kitab nasohiul Ibad dan siapa pengarangnya. Jadi kitab nasohiul Ibad adalah kitab yang menerangkan tentang nasihat-nasihat yang sangat bijaksana di ambil dari hadis dan atsar(perkataan sahabat atau tabi’in).

Pengarangnya yaitu syekh Nawawi asal Banten murid dari Ibnu Hajar Al-Asqolani.

Berikut penjelasan dari kitab Nasohiul Ibad bagaimana cara bersikap yang mulia terhadap anak yang lebih muda dan lebih tua maupun orang bodoh dan pintar

Syekh Abdul Qadir Jailani berkata:

Bila kamu bertemu dengan orang yang lebih kecil dan lebih muda darimu,maka ucapkanlah dalam hati:orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah karna potensi berbuat dosanya lebih minim dan umurnya belum tua,sedangkan aku adalah orang yang sudah banyak berbuat dosa,tidak diragukan lagi kalau derajat saya lebih rendah.”

Bila dia orang yang lebih tua hendaklah engkau mengatakan dalam hati: Orang ini telah dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku.

Bila dia orang yang alim,maka katakanlah dalam hatimu: Orang ini telah diberi Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih,telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui,dan telah mengamalkan ilmunya.”

Dan bila dia orang yang bodoh,maka katakanlah dalam hatimu: Orang itu durhaka kepada Allah karna kebodohannya,sedangkan aku durhaka kepada Allah padahal aku mengetahui bahwa yang saya lakukan itu salah.”

Demikian penjelasan singkat yang diambil dari maqalah kitab Nasohiul Ibad tentang bagaimana cara kita bersikap kepada orang yang lebih kecil dan lebih tua maupun orang yang lebih pintar dan bodoh dari kita.[]

Oleh: Anjab Falikhul Baidho
(UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan)