Scroll untuk baca artikel
Kolom

Belajar Ekonomi Radikal di Masa Lalu

Redaksi
×

Belajar Ekonomi Radikal di Masa Lalu

Sebarkan artikel ini

SETELAH dua semester mengikuti perkuliahan fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1984, aku mulai merasa bosan. Sebagai mahasiswa dari luar Jawa yang doyan baca, aku berharap banyak atas materi pengajaran. Timbul kecurigaan pada kampus yang kuanggap hanya mengajarkan aliran atau mazhab tertentu saja.

Rasa itu memuncak pada semester ketiga (1985), yang membuatku tidak pernah lagi mengikuti sesi perkuliahan dosen, meski secara resmi tetap mengambilnya. Hanya mencari informasi dari kawan yang satu mata kuliah. Mencatat buku ajar yang dipakai, memfotocopy catatan jika merasa perlu, dan ikut ujian.

Kebosanan sedikit teratasi kesukaan membaca dan meminjam buku dari perpustakaan fakultas dan universitas. Ditambah pergaulan dengan beberapa aktifis mahasiswa senior, memberi kesempatan ikut berdiskusi dan memfotocopy berbagai bahan bacaan. Kebanyakan bahan bernuansa pikiran nonmaintreams atau dikenal lebih berperspektif “kiri” saat itu.

Sebagian bacaan bisa kumengerti, sebagian lainnya tidak. Baik karena faktor bahasa ataupun konten. Terbesit ide mengajak kawan untuk belajar bersama melalui kelompok diskusi, agar bisa saling bantu memahami. Saat itu telah ada beberapa kelompok diskusi mahasiswa di lingkungan UGM, fakultas lain dan lintas fakultas. Belum ada yang khusus mahasiswa FE atau membahas topik ekonomi.

Kudekati satu dua kakak kelas dan yang seangkatan. Melalui beberapa kali perbincangan ringan dan uji coba diskusi di ruang kecil yang difungsikan sebagai musholla FE UGM, disepakati terbentuknya suatu kelompok studi mahasiswa. Tidak ada kepengurusan formal, hanya aku berinisiatif menjadi semacam koordinator.

“Timbang” dipilih sebagai nama kelompok studi tersebut. Merupakan padanan kata neraca yang dinilai sudah terlampau banyak dipakai untuk berbagai hal. Nama Timbang menegaskan tekad kami belajar berbagai mazhab dan sudut pandang dalam ilmu ekonomi.

Semula diskusi hanya dihadiri sekitar 5-7 orang dan berlangsung seminggu sekali. Ternyata, dalam tempo singkat menarik banyak kawan mahasiswa FE UGM, khususnya yang jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Ada tiga angkatan mahasiswa yang sering berpartisipasi, tahun 1983-1985. Aku sendiri mahasiswa Angkatan tahun 1984.

Diskusi pun berpindah ke selasar gedung pusat UGM yang sangat luas, sehingga bisa mengambil pojok manapun yang sedang lowong. Intensitas diskusi meningkat menjadi dua kali seminggu, meski beberapa kawan hanya hadir sekali seminggu. Kelompok studi bersifat cair, tidak mensyaratkan keanggotaan dan tidak beriuran. Mereka yang ikutan sesekali pun tidak diperlakukan sebagai pihak luar.

Aku sendiri selalu hadir karena berperan menjadi moderator atau semacam host. Tiap diskusi, satu atau dua peserta menjadi pemantik diskusi dengan kesempatan memberi paparan terlebih dahulu. Topik diskusi diinformasikan secara lisan dan ketuk tular, sedangkan jadwal relatif tetap.

Ironisnya, aku tidak pernah lagi masuk kelas perkuliahan. Secara resmi, aku tetap mengambil mata kuliah dan hanya masuk ketika ujian midsemester dan semester. Secara umum, kuliahku masih lancar dengan indeks prestasi yang cukup tinggi dalam ukuran waktu itu. Kala itu, kebanyakan dosen tidak memakai absensi sebagai pertimbangan nilai.

Berjalan satu dua tahun, peserta diskusi menjadi terlampau banyak. Kadang melebihi 30 orang saat berlangsung. Tampak pula perbedaan “level pengetahuan” mulai menjadi kendala. Diputuskan, Timbang dipecah menjadi 3 kelompok. Kelompok satu yang merupakan pelopor terdiri dari angkatan tahun 1983-1985. Kelompok dua terdiri dari angkatan tahun 1986, dan kelompok tiga terdiri dari Angkatan tahun 1987.

Tentu saja tidak ada larangan untuk mengikuti diskusi kelompok lainnya. Ada diskusi yang disebut seminar bulanan untuk semua kelompok dengan topik yang disepakati. Tiga sesi seminar diwakili oleh pembicara dari masing-masing kelompok. Lokasi biasanya meminjam ruang sekolah di sekitar kampus UGM dan IKIP. Belakangan diperbolehkan meminjam ruangan kampus FE UGM.

Pada tahun 1989, aku disibukkan kegiatan lain diluar FE UGM, bahkan tidak berbasis diskusi topik ekonomi. Timbang kemudian dikelola oleh beberapa kawan. Khusus diskusi kelompok empat yang terdiri dari angkatan tahun 1988-89 pun hanya sempat sesekali kuhadiri.

Topik diskusi Timbang secara umum masih berdasar bahan perkuliahan dan perkembangan ekonomi termutakhir. Namun, porsi mempelajari topik dan perspektif yang berbeda dengan kelas perkuliahan nyaris sama besarnya. Bahkan, cenderung lebih diminati. Salah satu aliran yang antusias dikaji adalah teori ketergantungan (dependecy theory). Bahkan, sempat diskusi pemikiran yang lebih radikal.

Manfaat yang langsung dirasakan peserta aktif berupa gairah belajar bahan perkuliahan. Dampak menggemari sudut pandang kritis antara lain terpaksa harus berupaya keras untuk lebih memahami yang dikritisi. Secara lebih khusus terhadap materi perkuliahan ekonomi makro, ekonomi internasional, ekonomi pembangunan, sejarah perekonomian, sejarah pemikiran ekonomi, keuangan negara, ekonomi industri, dan ekonomi Indonesia.  

Selain mencoba belajar melalui diskusi, sebagian besar dari kami terdorong belajar menulis. Banyak yang kemudian mampu menulis di media masa. Hal itu pula yang menjadi pendorong sebagian kami menjadi pelopor dihidupkannya kembali “Equilibrium” majalah mahasiswa FE UGM yang sempat vakum hampir 5 tahun. Aku sendiri nantinya sempat menjadi pemimpin redaksi.

Salah satu pelopor Timbang, Nasyith kemudian mampu membuat jurnal mahasiwa jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP). Dikelola dengan dana swadaya beberapa mahasiswa FE UGM Angkatan 1983. Jurnal bernama “Pangsa” ini tersaji layaknya jurnal ilmiah akademis, yang biasa dikelola secara resmi oleh suatu Perguruan Tinggi atau lembaga ilmiah. Pangsa ini nantinya setelah sekian lama diserahkan menjadi jurnal resmi pihak kampus. Aku pun sempat menjadi pemimpin redaksi di sana. 

Majalah “Equilibrium” dan jurnal “Pangsa” kala itu didominasi oleh tulisan ataupun sudut pandang yang berkembang dalam kelompok diskusi Timbang. Para dosen yang menulis ataupun diwawancarai tampak “dipaksa” untuk terlibat dalam wacana yang lebih dinamis.

Dampak kelompok diskusi Timbang terlihat pula dalam banyaknya ucapan terima kasih mahasiswa dalam skripsi akhir tahun 80-an hingga pertengahan 90-an. Tentu saja lebih tampak pada judul dan konten dari skripsi-skripsi tersebut. Bertahun-tahun kemudiannya tersirat dari capaian beberapa kawan dalam profesinya sebagai jurnalis, akademisi, dan tenaga ahli.  

Bagiku pengalaman ini memberi pesan perlunya belajar sudut pandang atau perspektif yang bukan merupakan arus utama dalam suatu ilmu. Mendalami pemikiran radikal mensyaratkan penguasaan yang baik atas ilmu yang dikritisinya. [rif]