Scroll untuk baca artikel
Terkini

Belajarlah Sampai ke Negeri China … dan India

Redaksi
×

Belajarlah Sampai ke Negeri China … dan India

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – “Belajarlah sampai ke negeri China,” barangkali adalah petitih lama yang mulai terdengar usang. Sebab, tren terbaru menunjukkan, selain China, kita juga perlu belajar sejauh negeri India yang hari ini sedang kewalahan mengatasi pandemi Covid-19.

Saking parahnya penyebaran virus Corona, otoritas New delhi menyebutnya sebagai gelombang tsunami Covid-19. Sampai berita ini diturunkan, kasus Covid-19 di negeri Bollywood itu mencapai 20,3 juta dengan total kematian 222 ribu jiwa.

Banyak media internasional maupun nasional melaporkan kekacauan yang terjadi di sana. Dari banyaknya warga yang mengantre di rumah sakit, kekurangan oksigen, hingga penuhnya krematorium untuk kremasi jenazah.

Rumah sakit tampaknya kewalahan menangani pasien. Ruangan yang tersedia tak mampu menampung semua pasien yang datang. Akibatnya, banyak pasien yang rela tidur di lorong-lorong rumah sakit, ambulans dan pelataran.

Mereka yang mengalami sesak napas sangat membutuhkan oksigen, tapi pihak rumah sakit tak mampu memberikannya. India mengalami kelangkaan pasokan oksigen, hingga memaksa rumah sakit meminta bantuan melalui media sosial.

Ranjang beroda berisi jenazah Covid-19 hilir mudik di pintu IGD. Para jenazah akan dibawa ke krematorium, juga ke pemakaman bagi warga India beragama Islam. Ratusan kayu dibakar, asap pekat mengepul di langit India setiap harinya.

Ganasnya Covid-19 di India, membuat pemerintah mengizinkan kremasi dilakukan di taman–taman. Pemerintah juga membolehkan warga menebang kayu di taman-taman itu, karena India mengalami kekurangan kayu.

Begitulah tsunami Covid-19 telah mengubah wajah India menjadi sangat mencekam. Padahal beberapa bulan lalu, India berhasil menurunkan kasus Covid-19 secara signifikan. Program vaksinasi juga berjalan sangat masif. Sekitar 17,7 juta orang telah divaksinasi.

Ironi memang, mengingat India merupakan negara produsen vaksin terbesar di dunia. Banyak negara yang bergantung nasibnya kepada vaksin AstraZeneca buatan India ini, termasuk Indonesia.

Penyebab Tsunami Covid-19

Pada awal pandemi, pemerintah India pernah kewalahan menangani kasus Covid-19 di negaranya. Namun Juni 2020, kasus Covid-19 di India menurun secara tajam.

Sejak Maret 2020, pemerintah India memberlakukan lockdown ketat dan menghentikan penerbangan internasional. Pembatasan kemudian dikurangi secara bertahap, namun kasusnya tetap menurun.

Dunia dibuat takjub. Pasalnya, India merupakan negara yang luas dengan padat penduduk dan sanitasi yang buruk. Mustahil jika bisa menurunkan kasus Covid-19 dengan mudah. Nyatanya, mereka bisa membuktikannya.

Keberhasilan itu membuat Presiden Joko Widodo meniru cara India. Ia menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro.

Tapi hari ini, agaknya Jokowi perlu memikirkan kembali strategi tepat untuk mengatasi Covid-19 di Indonesia. Sebab, situasi di India kini benar-benar di luar nalar.

Para ahli menduga kenaikan kasus Covid-19 disebabkan festival keagamaan Kumbh Mela di Haridwar pada pertengahan April lalu. Festival tersebut dihadiri sekitar 5 juta penziarah Hindu yang datang dari berbagai daerah. Mereka berkerumun, mandi dan berenang di Sungai Gangga tanpa mengenakan masker.

Tak lama dari itu, India panen Covid-19.

Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan meledaknya kasus Covid-19 di India tidak disebabkan satu faktor, melainkan multi faktor.

Jadi, bukan karena festival keagamaan Kumbh Mela saja, tapi karena hal lain.

Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Masyarakat (WHO) itu menyebutkan lima hal penyebabnya. Pertama, kendornya penerapan protokol kesehatan. Banyak masyarakat yang turun ke jalan dan berkerumun, tanpa memakai masker.

Kedua, acara-acara besar yang dilakukan sejak Desember. Mulai dari Pilkada, acara keagamaan dan budaya, hingga pernikahan. Seperti yang digambarkan dalam film-film Bollywood pada umumnya, pesta pernikahan selalu dihadiri banyak masyarakat.

Ketiga, jumlah tes menurun. Dari data yang ada menunjukkan, India melakukan 1 juta test pada Oktober. Tapi sejak Februari, tes menurun di bawah 1 juta, bahkan pernah 700 ribu. “Jika tes menurun, kemampuan menemukan orang sakit juga menurun,” katanya.

Keempat, adanya mutasi virus Corona. Semua jenis Corona mutasi ada di India. Di India sendiri, ada juga virus varian baru dengan kode B1617, yang katanya membawa beberapa mutasi. Virus ini kemudian dijuluki “mutan ganda”.

“Mutasi virus itu mudah menular dan menghindar dari antibodi,” ucap Prof. Tjandra.

Kelima, vaksinasi membuat masyarakat lalai. Mereka merasa cukup kebal, sehingga beraktivitas secara normal.

Pelajaran Berharga

Kasus tsunami Covid-19 di India tentu saja memberi pelajaran bagi sejumlah negara. Meski vaksinasi sudah ada, bukan berarti Covid-19 sudah bisa dikendalikan.

Masyarakat dunia harus tetap mematuhi protokol kesehatan dan menjaga imunitas.

Di Indonesia, meledaknya Covid-19 di India menjadi warning bagi pemerintah untuk memperketat keluar masuknya Warga Negara Asing (WNA) di pintu-pintu kedatangan. Terlebih bagi mereka yang baru saja melakukan perjalanan atau transit di India.

Pada 24 April, pemerintah melarang warga negara India masuk ke Indonesia. Bagi yang sudah terlanjur masuk harus melakukan karantina terlebih dahulu.

Pemerintah juga secara tegas melarang mudik lebaran tahun ini. Awalnya larangan mudik berlaku pada 6–17 Mei 2021, namun pemerintah mengubah kebijakan dengan memperketat larangan mudik sejak 22 April hingga 24 Mei 2021.

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia peraturan ini tentu membuat sedih. Tapi, bukankah lebih baik dilanda tsunami rindu daripada tsunami Covid-19?

Tsunami rindu hanya menahan kita bertemu orang-orang yang kita sayang untuk sementara, sedangkan tsunami rindu bisa jadi untuk selamanya. []