Bahwa sepenuhnya menghamba kepada Tuhan itu mesti memahami peta kemiskinan dan kesenjangan yang disebabkan oleh ketimpangan struktural. Berpangkal pada iman kudu berujung pada ihsan
Oleh: Ardi Kafha
(Pegiat Taman Baca)
DALAM Terjemah Al-Hikam, Maftuh Bastul birri menuturkan, “Enakkan jiwamu dari memikir usaha duniawi mencari rezeki, karena sesuatu yang telah dikerjakan Allah, kamu tidak usah ikut mengerjakannya.”
Tetapi yang demikian bertentangan dengan kenyataan. Lazimnya kita lebih bersemangat mengejar kekayaan dunia, dan begitu enteng berpaling dari tugas Ilahi yang dituntut di pundak kita.
Di jalan raya, tampak kendaraan berderet mengular tiada henti. Berangkat pagi dan pulang petang dengan menjadikan harta sebagai rayahan masal.
Suara Ibnu Athaillah yang mengingatkan berasa sepoi yang mudah menguap. Menurutnya rezeki adalah sesuatu yang telah dijamin pasti. Dan tanggung jawab kita, tinggal mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan.
Namun, ternyata tidaklah gampang untuk mengosongkan hati dan pikiran dari cita-cita meraih kekayaan, atau paling tidak merasa cukuplah, untuk tidak mengarah keberlimpahan.
Apalagi angan untuk menggapai kejayaan material itu seolah dipelihara oleh narasi-narasi pemuka agama. Bahwa Islam sedari awal menempatkan yang konkret itu di tangga yang mulia. Surah Al-Maun, salah satunya, jelas berisi di antaranya hukuman neraka bagi orang yang melupakan anak yatim, dan kaum miskin.
Artinya, pemeluk Islam seyogianya tidak menafikan kebutuhan yang beraroma duniawi. Lebih-lebih kenyataan bahwa umat yang berada di kelas bawah adalah mayoritas.
Tetapi, saya masih percaya bahwa ukuran kejayaan umat Islam bukan keadaan yang di permukaan. Ukurannya adalah yang tersembunyi di balik permukaan, yaitu rasa iman. Parameter keislaman adalah kesadaran yang bersemi di dalam, bukan sebab kepemilikan basis material.
Memang tak bisa dpungkiri, harta adalah sesuatu yang perlu, tetapi tetap saja ia tidak mencukupi. Basis material bukan suatu kondisi yang mencukupi, apalagi memuaskan dahaga kemanusiaan. Bahwa perubahan yang di luar tidak menjamin perubahan di dalam.
Nah, Ibnu Athaillah merilis panduan bahwa yang di dalam itulah identitas kita yang sejati. Bahwa keyakinan akan kehadiran Allah di balik setiap fenomena merupakan inti hidup. Kesadaran itulah yang esensial, bukan kondisi materialnya.
“Bukti atas rabunnya mata hatimu,” ungkap Ibnu Athaillah ketika menunjukkan ketidakyakinan kita akan Allah dan janji-Nya, akan jaminan yang diberikan-Nya. Kondisi material seperti rezeki, dan jodoh adalah sesuatu yang pasti dan sudah diatur oleh-Nya, usah kita mengurusinya, apalagi sampai mati-matian mengejarnya.
Cukuplah kita menekuni penghambaan kepada Allah sebagaimana termaktub dalam rukun Islam. Yaitu perkara menghadirkan hati dan perasaan menuju Tuhan. Kemudian meneruskan prinsip itu ke kancah masyarakat: menebar cinta dan kasih sayang.
Betapa hakikat rukun Islam adalah tanda kefakiran, kerendahan, dan rasa butuh kita kepada Allah. Rukun Islam adalah tujuan, sekaligus sarana. Rukun Islam menandai penghambaan, yang rindu untuk berdialog kepada junjungan.
Karena sebagai tujuan dan sarana sekaligus, maka harus dilaksanakan secarai benar dan baik. Benar berarti sesuai tuntunan, dan baik berarti terbebas dari bersitan kesombongan, dan lintasan riya.
Dari situlah, saya berkeyakinan bahwa kesadaran itu penentu. Keasadaran tidak ditentukan oleh kondisi material yang dipungut dari luar diri. Seorang akan beriman atau menentang Tuhan tidak ditentukan oleh melarat tidaknya. Bahwa kekafiran bukan sepenuhnya lantaran fakiran.
Terlebih kalau baca sirah, betapa Nabi Muhammad Saw. merasa belum melakukan kewajiban secara sempurna di hadapan-Nya. Ia paling merasa belum sanggup bersyukur. Ia salat malam, dan tidak pernah absen, karena menganggap diri belum sepenuhnya menunaikan hak-hak Allah.
Meski demikian, kehidupan material itu fitrah yang tak boleh diabaikan. Nabi Saw. keras melarang umatnya meninggalkan keluarga hanya karena hendak sepenuhnya beribadah kepada Tuhan. Bahwa kesempurnaan itu tidak berarti dengan meninggalkan rezeki dunia.
Bahkan dalam surah An-Nisa: 75, Tuhan mengkritik kenapa umat Islam tidak mau membela orang-orang yang lemah, orang-orang tertindas. Bahwa ada kesejajaran orientasi ke Tuhan dengan pemihakan kepada kaum terpinggirkan.
Maka, menyuarakan persoalan yang mengimpit kelas bawah, mengangkat isu-isu konkret seperti penggusuran, perbaikan jalan raya, pengusiran pedagang kakilima, penambangan semen yang sewenang-wenang, perusakan pesawahan, penggundulan lahan hutan, ketimpangan UMR, dst itu, tetap wajib kita jalankan.
Berarti?
Ya, kesadaran ketuhanan tetap harus bersambung dengan kemanusiaan. Bahwa sepenuhnya menghamba kepada Tuhan itu mesti memahami peta kemiskinan dan kesenjangan yang disebabkan oleh ketimpangan struktural. Berpangkal pada iman kudu berujung pada ihsan.
Jangan sampai terjadi, “sudah ngaji hikam, tapi berlagak buta terhadap aspal yang jebol di mana-mana.” [Luk]






