BARISAN.CO – Resmi, Selasa (2/11) lalu, Antonio Conte menandatangani kontrak berdurasi 18 bulan bersama Tottenham Hotspur. Di luar dugaan banyak pihak, ia akhirnya memilih menukangi The Lilywhites– sebutan Tottenham Hotspur. Maklum saja, sebelumnya, ia justru lebih santer dikaitkan dengan tim papan atas lainnya, seperti Arsenal, Manchester United, dan beberapa tim lainnya.
Namun, kesempatan untuk kembali ke Premier League malah datang dari penawaran Tottenham. Dan, kesempatan tersebut sayang untuk dia lewatkan. Tottenham yang sudah setengah abad lebih belum mereguk juara Premier League lagi tentu membutuhkan sosok pelatih seperti Conte. Terlebih, pelatih asal Italia itu memiliki segudang prestasi mentereng.
Di Premier League, ia pernah pernah mengangkat piala bersama Chelsea di musim 2016-2017. Musim lalu, bersama Inter Milan dia baru saja menggoyahkan dominasi Juventus yang telah memegang status juara bertahan 8 tahun beruntun.
Namun, agaknya masih terlalu berat di musim awalnya bersama Tottenham, Conte menargetkan gelar juara. Pasalnya, disamping performa yang tengah merosot, pesaing-pesaing mereka justru sedang tampil ciamik, seperti Chelsea, Manchester City, dan Liverpool. Walaupun, bukan tidak mungkin, Tottenham dibawah Conte dapat mampu keluar sebagai tim kuda hitam merebut juara. Toh, perjalanan Premier League masih panjang.
Di sisi lain, Tottenham sendiri juga bukan tim tanpa prestasi. Setidaknya di musim 2016-2017, mereka pernah menempati posisi runner-up mengganggu Chelsea sang juara. Terlebih, skuat mereka juga banyak dihuni pemain-pemain top, sekelas Harry Keane, Hugo Lloris, dan Son Heung-min. Maka itu dapat menjadi modal penting untuk Conte mengarungi Premier League ke depan dengan optimis. Walaupun, untuk saat ini, Tottenham masih terseok-seok di papan tengah klasemen.
Tangan Dingin Conte
Sejak berkarir sebagai pelatih klub elite, dari 2011, Conte sudah memenangi 5 piala liga, dari 7 musimnya mengasuh Juventus, Chelsea, dan Inter Milan. Ditambah, raihan 1 piala FA saat menangani Chelsea. Selain itu, selama menangani tiga klub itu juga, Conte mencatatkan persentase kemenangan diatas 60%. Dengan raihan poin per pertandingannya rata-rata diatas 2. Total kekalahannya pun tak lebih dari 20.
Catatan gemilang itu tentu tak lepas dari idealisme Conte yang kuat serta pakemnya yang jelas. Formasi andalannya 3-5-2 dan 3-4-3 terbukti jitu, dan sulit ditaklukan. Strateginya dengan formasi itu juga membuat timnya tajam sekaligus rapat. Bersama Inter Milan di musim 2020/2021, barisan pertahanannya sulit ditembus, dan 89 gol berhasil mereka ceploskan ke gawang lawan. Pun, bersama Chelsea, ia juga mampu mengoleksi 85 gol.
Tak hanya jago meracik strategi, Conte juga cukup jeli menyulap pemain-pemainnya ke performa terbaiknya. Sebut saja, Victor Moses yang berhasil ia plot sebagai wing-back yang mengerikan, dan Diego Costa yang mampu mencetak 22 gol dalam semusim. Bersamanya juga, Romelu Lukaku berhasil menemukan ketajamannya kembali, setelah gagal tampil apik bersama Manchester United sebelumnya.
Pada Piala Eropa 2016, ketika membesut timnas Italia dengan skuat yang tak banyak diisi pemain bintang, Conte berhasil memoles Giacherrini dan Pelle sehingga mampu tampil gacor selama gelaran kompetisi itu. Bahkan, melampaui ekspektasi banyak orang, dia berhasil mengantarkan Italia ke perempat final, sebelum akhirnya kalah lewat drama adu penalti.
Kabarnya, perencanaan belanja pemain yang jelas pada bursa transfer Januari 2022 adalah salah satu alasan Conte menerima tawaran Tottenham. Maka, dengan skuat yang ada dengan kelebihan dan kekurangannya menjadi tantangannya. Namun, melihat pengalamannya, biasanya dia mampu memaksimalkan skuad yang ada. Untungnya, Tottenham sepeninggal Nuno Espirito sejatinya banyak diisi talenta berbakat.
Bermental Juara
Berbekal taktik dan anggota tim saja tidak cukup untuk menjadi seorang juara. Melainkan, harus ditopang juga dengan mental yang kuat. Itulah yang menjadikan Conte mampu tampil sebagai pemenang. Cesc Fabregas, mantan anak asuhnya di Chelsea, di akun Twitter miliknya menuturkan bahwa Conte andal mengangkat mental pemainnya.
Hal senada juga diakui Bonucci saat diwawancarai The Athletic, “dia (Conte) telah mengubah karir saya, itu adalah mentalitas yang dia berikan kepada saya dan Juventus juga, (yakni) pengetahuan sepakbola yang dia berikan,” katanya. Itulah sebabnya, bagi Tottenham, Conte adalah pilihan yang tepat untuk mengangkat mental mereka yang sedang turun.
Di sisi lain, selama melatih, Conte terbilang ahli menjaga stabilitas ruang ganti. Ia mampu menempatkan diri dengan baik untuk disukai pemain yang memiliki pengaruh besar di klubnya, seperti Alessandro Del Piero dan John Terry. Namun, dia juga pelatih yang tegas, anak asuhnya yang banyak polah tidak segan-segania depak. Radja Nainggolan dan Mauro Icardi adalah beberapa pemainnya yang pernah disingkirkannya.
Satu lagi, Conte sebagai pelatih sangat mempedulikan kondisi pemain-pemainnya. Pernah, Mattia Destro ia beri sesi latihan khusus selama sehari setelah menikah. Tak ketinggalan, Lukaku juga pernah merasakan hal demikian, dimana menurut pengakuannya ia dilatih khusus hingga ke red zone. Bahkan, demi kembali ke berat badannya yang ideal, ia juga dipaksa diet khusus.
Berkaca pada kesuksesan klub-klub besutannya, nama Conte tidaklah dapat dipandang sebelah mata. Terkhusus, Premier League bukanlah kompetisi yang baru baginya. Bahkan, dulu, ia pernah mencicip gelar juara. Maka, liga yang tidak hanya bertabur para pemain bintang, tapi juga pelatih-pelatih jempolan ini akan makin ramai persaingannya dengan kehadiran Conte. Lantas, akankah ia mampu mengubah konstelasi persaingan? [rif]
