Kalangan akademikus menganggap mikroekspresi sebagai ilmu pseudosains.
BARISAN.CO – Mungkinkah hanya dengan melihat perubahan air muka seseorang dalam waktu sepersekian detik, kita bisa tahu bahwa dia sedang berbohong, si anu punya tabiat buruk, atau si itu sedang menyembunyikan sesuatu?
Mari berkenalan dengan ilmu mikroekspresi. Para pakar di bidang ini, beberapa tahun belakangan, sering lalu-lalang di layar televisi dan pemberitaan media. Nama-nama seperti Poppy Amalya, Kirdi Putra, Monica Kumalasari, adalah beberapa untuk disebutkan.
Tak ada yang bisa luput dari analisis pakar mikroekspresi. Entah politikus, artis, pelaku kejahatan, atau figur yang sedang viral; selama wajah mereka tersorot kamera, maka pakar-pakar mikroekspresi siap menggali kebenaran yang bersembunyi di balik wajah mereka.
Secara unik, analisis pakar mikroekspresi selalu terasa nyaris mendekati keajaiban. Ada kesan bahwa wajah seseorang adalah sumber kebenaran yang tertutup awan mendung kepalsuan sikap. Di tangan orang-orang terlatih seperti mereka, awan mendung bisa disingkirkan dan kebenaran bisa diurai kepada khalayak.
Bagaimana Pakar Mikroekspresi Bekerja?
Media dan televisi telah melibatkan pembacaan ekspresi mikro di hampir semua isu yang viral. Beberapa isu terakhir mulai dari kasus Ferdy Sambo, pilpres 2024, sampai dengan penganiayaan oleh anak pejabat pajak, pun dihiasi dengan tafsir-tafsir mikroekspresi.
Di televisi, kita bisa melihat metode pembacaan ekspresi mikro hampir serupa satu dengan yang lain.
Mula-mula, reporter televisi memutar video singkat atau gambar seseorang sebagai subjek pembahasan. Lalu reporter bertanya kepada pakar mikroekspresi. Lalu sang pakar menafsirkan. Sesederhana itu.
Beberapa reporter yang kritis kadang-kadang tidak menerima tafsiran pakar mikroekspresi begitu saja. Mereka akan bertanya bagaimana sang pakar bisa tahu, atau metode apa yang pakar ini gunakan untuk meraih kesimpulan.
“Bagaimana Anda tahu dia sedang berbohong?” tanya reporter.
“Lihat dan perhatikan. Tangannya tiba-tiba menggaruk hidung,” jawab sang pakar mikroekspresi.
Bagi pakar mikroekspresi, jika seseorang menunjukkan ekspresi X maka artinya adalah Y. Titik. Umumnya kalau sudah begini, reporter akan segera menyudahi pertanyaannya. Selain karena mustahil dibantah, tentu saja reporter kesulitan memverifikasi penjelasan semacam ini.
Mikroekspresi Pseudosains?
Dalam jagat saintifik, akurasi analisa mikroekspresi sudah sering dipertanyakan. Banyak akademikus menilai ilmu mikroekspresi sebagai pseudosains yang ‘berbahaya’ bagi publik.
Ya, sulit untuk menyangkal unsur pseudosains dalam ilmu mikroekspresi. Pseudosains, Anda tahu, adalah klaim yang disajikan sebagai ilmu pengetahuan, tetapi tidak berdasarkan metode ilmiah yang benar, dan membuat orang merasa yakin informasi tersebut dapat diandalkan, padahal tidak.
Jurnal sains kenamaan, Nature, pernah menguliti mikroekpresi habis-habisan. Kasarannya, ilmu mikroekspresi yang dipopulerkan Paul Ekman sejak tahun 70-an ini disebut semata ilmu spekulatif. Tak peduli Anda seorang pakar atau bukan, kemungkinan benarnya sebuah tafsir mikroekspresi akan sama besarnya dengan kemungkinan salahnya.
Nature juga mengkritik kegagalan metode mikroekspresi yang pernah secara resmi diterapkan di seluruh bandara Amerika Serikat pada tahun 2006 hingga 2009. Saat itu, menggunakan kerangka ilmu mikroekspresi, petugas bandara AS dilatih untuk curiga terhadap penumpang yang ditengarai sebagai teroris.
Dalam kurun 3 tahun selama metode analisis itu diterapkan, petugas bandara telah menggiring 232.000 orang untuk diperiksa, digeledah, dan kemudian dilakukan uji bahan peledak. Dari jumlah itu, petugas menangkap 1.710 orang.
Namun masalahnya, hampir tak satupun dari mereka yang ditangkap terkait dengan terorisme, alih-alih merupakan kriminal biasa ataupun orang-orang yang sebelumnya memang sudah masuk daftar DPO.
Akibat akurasinya nyaris nol, analisis mikroekspresi lantas diganti dengan Future Attribute Screening Technology (FAST). FAST ini semacam alat sensor pernapasan dan denyut jantung yang cara kerjanya mirip lie detector—alat ini dinilai lebih efektif sehingga mendapat pendanaan pemerintah sebesar US$10 juta per tahun sampai sekarang.
Melepas Candu Tafsir Mikroekspresi
Meskipun ilmu mikroekspresi sudah banyak diragukan secara keilmuan, agaknya sulit melepas ‘kecanduan’ media kita terhadap tafsir mikroekspresi.
Lebih-lebih, pakar di bidang ini punya kemampuan menyediakan jawaban secara cepat dan pasti (dua hal yang paling dicari media), yang tidak bisa didapatkan dari semisal pakar ekonomi atau pakar hukum tata negara.
Soal apakah benar Jokowi ingin 3 periode? Pakar ekonomi terlalu lama menjawab karena memperhitungkan banyak hal. Pakar hukum tata negara bertele-tele sebab sibuk menjelaskan undang-undang terlebih dahulu. Pakar mikroekpresi hanya butuh potongan video 10 detik untuk langsung menyimpulkan bahwa, benar, Jokowi ingin 3 periode.
Belum terang apa yang akan terjadi jika pakar mikroekspresi terus-terusan diberi panggung. Belum jelas pula apakah publik memang membutuhkan informasi dari mereka. Yang jelas, media dan televisi telah ikut menyumbang ambiguitas di tengah banjir informasi ngawur di internet.
Di luar itu, sependek pengamatan, masih ada beberapa media—kecil maupun besar—yang cukup konsisten dengan tidak pernah meminta pendapat pakar mikroekspresi dalam pemberitaannya. Diperhatikan sekilas, media-media ini punya satu kemiripan yakni newsroom yang kuat.
Newsroom di media-media tersebut benar-benar bekerja. Boleh jadi mereka mengerti bahwa soal-soal seperti ekspresi mikro cenderung bersifat artifisial atau dibuat-buat, sehingga analisis atasnya dianggap omong kosong dan buang waktu.
Namun, sekali lagi, agaknya mustahil melepas media dari tafsir mikroekspresi. Apalagi, konon jumlah peminat informasi semacam ini sama besarnya dengan peminat horoskop. Bisa dikata, jumlah orang yang percaya bahwa menggaruk hidung menandakan seseorang sedang berbohong sama besarnya dengan orang yang percaya perempuan berzodiak Gemini tidak bisa diandalkan. [dmr]









