Terkini

Cegah Stunting, Menkes Sarankan Berhenti Belanja Rokok

Anatasia Wahyudi
×

Cegah Stunting, Menkes Sarankan Berhenti Belanja Rokok

Sebarkan artikel ini

Belanja rokok dalam rumah tangga dinilai menghambat tekan kasus stunting.

BARISAN.CO – Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Peringatan ini menjadi momentum penting oleh berbagai pihak dalam bahu membahu membangun gizi menuju bangsa yang sehat, termasuk dalam mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Salah satu permasalahan serius tentang gizi nasional yang masih harus mendapat perhatian khusus yaitu stunting karena akan memengaruhi tumbuh kembang anak.

Berdasarkan data Hasil Studi Status Gizi Indonesia (2022), angka prevalensi stunting di Indonesia sebesar 21,6 persen. Sementara, batas toleransi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yaitu 20% untuk stunting.

Pemerintah pun memiliki target RPJMN untuk penurunan stunting yaitu sebesar 14 persen pada tahun 2024.

Namun, menekan kasus stunting bukan persoalan mudah. Terlebih jika adanya belanja rokok dalam rumah tangga.

Dalam Talk Show “Protein Hewani Cegah Stunting: Isi Piringku, Alihkan Belanja Rokokmu!”, Ketua Pimpinan Pusat Fatayat NU (Nadhatul Ulama), Margaret Aliyatul Maimunah menyampaikan, mengalihkan dana belanja rokok sejalan dengan perlindungan dan pemenuhan hak anak dan perempuan.

“Situasi COVID-19 sudah bergeser ke arah yang lebih baik, tetapi upaya pencegahan stunting masih kita upayakan hingga saat ini. Permasalahan stunting ini tidak dapat diselesaikan sendiri, melainkan memerlukan keterlibatan berbagai macam sektor, termasuk pengendalian dari keluarga. Salah satu hal yang ikut andil kaitannya dengan stunting, yaitu pencegahan asap rokok dan lebih banyak pemenuhan konsumsi gizi bagi keluarga,” kata Margaret, Kamis (9/2/2022).

Sementara, Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI, dalam keynote speechnya memaparkan stunting harus memerhatikan seribu hari pertama kehidupan.

Menurutnya, determinan paling besar dari stunting yaitu pada saat hamil dan ketika anak selesai ASI (Air Susu Ibu) eksklusif selama 6 bulan.

Budi menekankan, jangan sampai bayi di dalam kandungan kurang gizi dan ibu juga kurang gizi serta anemia.

“Setelah bayi mencapai usia 6 bulan, ASI saja tidak cukup, tetapi juga harus ditambah protein hewani sebagai prioritas pencegahan stunting,” jelasnya.

Protein hewani untuk mencegah stunting ini terdapat dalam telur, susu, ikan, maupun daging, tambahnya.

“Apa hubungannya dengan rokok? Salah satu sumber protein hewani, yaitu telur misalnya sebanyak 16 butir dapat dibeli dengan harga sekitar Rp25.000. Kalau bapak-bapak merokok, ini akan menghilangkan kesempatan untuk membeli telur seharga Rp25.000 tersebut,” lanjutnya.

Dia menegaskan, apalagi penelitian menunjukkan bahwa uang yang dihabiskan keluarga untuk membeli tokok mencapai tiga bungkus dalam sehari yang seharusnya bisa untuk membeli telur.

“Oleh karena itu, saya mengingatkan kepada keluarga agar berhenti merokok dan membeli telur sebagai asupan nutrisi penting bagi anak,” tegasnya.