Cemburu adalah emosi yang muncul ketika seseorang merasa terancam akan kehilangan kasih sayang, perhatian, atau kedekatan dengan orang lain
BARISAN.CO – Arti cemburu menurut masyarakat awam secara umum maupun KBBI berbeda dengan pandangan Islam. Dalam perspektif syariat cemburu adalah suatu akhlak yang terpuji, karena kesemuanya merujuk kepada aturan Allah.
Misalnya, cemburunya seorang lelaki terhadap istri maupun wanita mahram, berupa penjagaannya dari kehormatan dan sikap tidak merasa malu ketika bercampur dengan lelaki.
Segala hal yang diharamkan, dicela, dicaci dan diaibkan, berusaha agar tidak ada seorangpun melecehkannya. Sikap cemburu inilah yang disukai Allah sebagaimana dalam sabdanya :
“Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan agamanya, maka ia mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan nyawanya, maka ia mati syahid. Barangsiapa terbunuh karena mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid. Dan barangsiapa terbunuh karena mempertahankan keluarganya, maka ia mati syahid.” (HR. Abu Dawud).
Cemburu yang demikian ini merupakan sutau penggambaran pentingnya menjaga kehormatan. Termasuk juga perilaku seksual yang mengandung makna keutamaan seksual dan penjagaan orang Mukmin, dengan cemburu terhadap kehormatannya.
Cemburu : Ruh Iman
Hakikat cemburu dalam Islam menunjukkan kondisi iman seseorang, sebagaimana yang dijelaskan Syekh Ibrahim bin Muhammad al-Haqil dalam kitabnya al-Ghirah Baina as-Syar’i wa al-Waqi’,
“Cemburu dalam Islam sama sekali bersih dan terjauh dari birahi dan nafsu duniawi. Seorang mukmin akan cemburu, tak nyaman, hatinya tergugah dan berontak, ketika menyaksikan sendi-sendi dan ajaran agama dilecehkan dan tidak diindahkan, larangan-laranganNya banyak dilanggar. Inilah hakikat cemburu. Minimnya rasa cemburu ini dari seorang mukmin menunjukkan lemahnya frekuensi iman yang dimiliki. Hal ini ditegaskan Rasul SAW dalam sabdanya : Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Allah akan “cemburu”, demikian pula seyogianya seorang mukmin. “Kecemburuan” Allah itu tatkala larangan-larangan-Nya diabaikan,” (HR Bukhari Muslim)
Ancaman Bagi Mereka yang Tidak Punya Cemburu
Ada dua macam golongan yang tidak memiliki rasa cemburu. Yaitu suami yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istri dan keluarganya, dan seorang mukmin yang tidak memiliki rasa ghiroh ketika tersebar maksiat, Islam dihina atau syariat dilecehkan.
Suami yang tidak memiliki rasa cemburu adalah tercela dan disebut dayyuts.” Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar (minuman keras), orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya.” (HR. Ahmad)
Dayyuts adalah suami yang tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu, membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan.
Ia juga membiarkan istrinya menarik perhatian dari laki-laki lain atau bahkan digoda oleh laki-laki lain.
Sedangkan seseorang yang tidak memiliki ghiroh ketika kemunkaran di depan mata, agama dilecehkan, Allah dan RasulNya dihina, maka ia menapat ancaman siksa.
Dalam hal ini Nabi Saw bersabda : “Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi)
Syaikh Al-Utsaimin dalam kitab Syarh Riyaadhish Shalihin 1/512 mengatakan, “Jika seorang mukmin menyaksikan kezhaliman dan kesesatan namun tidak ada rasa cemburu (ghiroh) untuk menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua.”
Yaitu menimpa pelaku kemungkaran dan orang yang lalai untuk mencegah orang dari kemunkaran. Kesesatan di sini jika mereka melihat orang sesat (atau berbuat maksiat), namun tidak mengajaknya kepada kebaikan (jalan lurus) dan melarangnya dari kemungkaran.
Ta’rif Cemburu Secara Makna
Secara ta’rif, cemburu merupakan suatu sikap yang mendatangkan kebaikan dan menghalangi keburukan.
Serta mencegah pelanggaran perintah Allah di masyarakat, merasa tidak tega, ingin marah dan tidak terima melihat larangan Allah tak lagi diindahkan serta kemaksiatan bertebaran.
Selanjutnya melakukan tindakan nyata dengan berbagai tahapannya, seperti dakwah dengan lisan, keteladanan, atau upaya persuasif lainnya. Bila perlu represif, dengan menjunjung tinggi aturan dan norma hukum yang berlaku di masyarakat
Macam-Macam Cemburu
Cemburu syar’i yaitu suatu pembelaan seorang mukmin terhadap agamanya ketika dilanggar, dilecehkan atau pun dihina dengan beebrapa tahapan cara sesuai kemampuan.
Besarnya rasa cemburu ini menunjukkan kuatnya frekuensi iman yang dimilikinya, sebagaimana yang disabdakan Nabi Saw : Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Allah akan “cemburu”, demikian pula seyogianya seorang mukmin. “Kecemburuan” Allah itu tatkala larangan-larangan-Nya diabaikan,” (HR Bukhari Muslim)
Cemburu ghairu Syar’i adalah perasaan cemburu yang dilandasi kekhawatiran kehilangan dalam urusan dunia tanpa terkait agama.
Sikap ini merupakan tabiat manusia saat merasa khawatir atau takut kehilangan sesuatu yang disukainya. Misalnya cemburunya seorang istri karena takut kehilangan suami yang dilandasi nafsu dan bukan karena Allah.
Khulasah
Setelah melihat perbedaan kedua macam cemburu bisa disimpulkan, bahwa cemburu syar’i lebih mulia dan bernilai. Hal itu merupakan sesuatu yang bersifat kerohanian (transendental) yang menunjukkan rasa keimanan kepada Allah.
Sedangkan cemburu thabi’i hanyalah salah satu tabiat atau sifat manusia yang muncul karena dilandasi nafsu atau urusan dunia. (I@m)***









