“Alkhamdulillah!” sahut Mak Darsem lega. Mendadak wajah perempuan tua itu berbinar-binar ketika mendengar bahwa anaknya sudah boleh pulang. Itu berarti Hansip Diran sudah dinyatakan sehat.
“Kalau boleh Saya tahu, bagaimana awal mula kejadiannya Pak?” tanya dokter Budiman dengan senyumnya yang ramah sekali.
Melihat dokter Budiman hendak berbincang-bincang dengan pasiennya, perawat yang sedari tadi sibuk memeriksa lembar kontrol pasien segera menyeret sebuah kursi ke samping dipan Hansip Diran agar dokter Budiman dapat duduk dengan santai. Berkali-kali terlihat Hansip Diran menghela nafas panjang. Mungkin ia tidak tahu harus dari mana memulai ceritanya.
“Sudah dua tahun ini saya bekerja sebagai petugas keamanan kantor desa,” ucap Hansip Diran memulai ceritanya.
Wajah dokter Budiman terlihat serius mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Hansip Diran. Tampaknya dokter itu tidak hanya heran tapi juga takjub bercampur bingung menyimak seluruh cerita Hansip Diran. Mungkin bagi dokter Budiman, cerita Hansip Diran tersebut lebih mirip dengan cerita film horor yang biasa ia lihat di televisi.
“Jangan-jangan kini Saya juga terlihat seperti Buto Genthong?” sahut dokter Budiman sesaat setelah mendengar cerita Hansip Diran. Nadanya yang terdengar berkelakar itu spontan membuat semua penghuni ruang rawat inap puskesmas itu tertawa terbahak-bahak tak terkecuali dengan Hansip Diran.
“Lalu siapa saja yang tiba-tiba terlihat seperti Buto Genthong itu Pak?” tanya dokter Budiman sambil mematikan Hpnya.
Dokter yang juga pengusaha itu tampaknya semakin penasaran saja dengan cerita yang keluar dari mulut Hansip Diran. Detik selanjutnya dokter Budiman terlihat telah memberi isyarat kepada perawat yang membersamainya. Rupanya dokter Budiman tak ingin pembicaraannya dengan Hansip Diran didengar oleh orang lain. Sejurus kemudian perawat itupun telah lenyap ditelan kelokan lorong puskesmas.
Lama Hansip Diran tak segera menjawab pertanyaan dokter Budiman. Ia seperti ragu-ragu untuk menjawab pertanyaannya. Lelaki itu terus terang takut karrena dari perkataannya nanti,pastilah ia dapat dituduh telah mencemarkan nama baik seseorang.
“Bapak tidak perlu takut. Saya akan menjaga kerahasiaan ini,” ucap dokter Budiman seolah tahu keraguan yang mendera batin Hansip Diran. Namun begitu Hansip Diran masih saja terdiam seribu bahasa. Ia tak yakin jika dokter Budiman akan sanggup merahasiakan seluruh omongannya nanti.
“Baiklah kalau Bapak tak mau mengatakannya,” kata dokter Budiman sambil matanya melirik ke arah arloji yang dipakainya. Rupanya pancingan dokter Budiman berhasil. Terlihat Hansip Diran menghela nafasnya. Sepertinya ia tengah mengambil ancang-ancang untuk memulai ceritanya kembali.