Scroll untuk baca artikel
Blog

Dampak Perubahan Iklim, Penyangkalan, dan Politisi yang Abai Edukasi

Redaksi
×

Dampak Perubahan Iklim, Penyangkalan, dan Politisi yang Abai Edukasi

Sebarkan artikel ini
Anatasia Wahyudi
Redaktur Barisan.co

Dikutip dari PBB, Rabu (1/9/2021), Organisasi Meteorologi Dunia dan Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana menyampaikan perubahan iklim dan peristiwa cuaca yang semakin ekstrem telah menyebabkan lonjakan bencana alam selama 50 tahun terakhir berdampak pada negara-negara miskin secara tidak proporsianal.

Atlas of Mortality and Economic Losses from Weather, Climate and Water Extremes menuturkan sejak tahun 1970 hingga 2019, risiko alam tersebut menyumbang 50 persen dari semua bencana, 45 persen dari seluruh kematian yang dilaporkan, dan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 74 persen dari semua yang dilaporkan.  Ditambah ada lebih dari 11.000 bencana dikaitkan dengan risiko ini secara global dengan lebih dari dua juta kematian dan kerugian mencapai US$3,64 triliun dan lebih dari 91 persen kematian terjadi di negara berkembang.

Meski begitu, menurut Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia, Petteri Taalas, peningkatan sistem peringatan dini multi bahaya telah menurunkan angka kematian yang signifikan. Sehingga, dengan adanya sistem peringatan itu upaya menyelamatkan nyawa akan lebih baik dibanding sebelumnya.

Di benua Asia, tercatat ada tiga bencana dengan 975.622 korban meninggal dan kerusakan ekonomi yang dilaporkan mencapai US$2 triliun. Asia menjadi penyumbang hmpir dari sepertiga dari cuaca, iklim, dan bencana terkait air secara global. Adapun 45 persen dari bencana yang terjadi terkait dengan banjir dan 36 persennya badai. Badai telah merenggut 72 persen korban jiwa sementara banjir menyebabkan kelumpuhan ekonomi sebanyak 57 persen.

Berdasarkan Indeks Performance Perubahan Iklim 2021, Indonesia berada berada di urutan 24. Namun demikian, Indonesia masih kurang upayanya dalam mengatasi perubahan iklim. Dari tinjauan global, survei YouGov menyebut jika Indonesia termasuk negara yang paling sedikit menaruh perhatian terhadap perubahan iklim walaupun tergolong yang paling memedulikan stabilitas ekonomi. Sayangnya, seperti kebanyakan laporan mengenai perubahan iklim, tanpa adanya perbaikan, ekonomi akan ikut goyang.

Pada survei lainnya, Yougov-Cambridge Globalism menemukan Indonesia menjadi pemimpin dalam jumlah penyangkal perubahan iklim terbesar di dunia. Secara rinci, sekitar delapan belas persen tidak percaya aktivitas manusia menjadi penyebab perubahan iklim, enam persennya percaya jika iklim akan tetap stabil, dan delapan persen lainnya menilai pemanasan global yang disebabkan oleh manusia merupakan penipuan dan unsur teori konspirasi.

Kenyataannya, perubahan iklim bukan sekadar mitos apalagi konspirasi. Minimnya pengetahuan serta pendidikan mengenai dampak perbahan iklim di ranah publik membuat fenomena penyangkalan semakin memburuk dengan meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia.

Politisi seharusnya ikut andil dalam mengedukasi masyarakat khususnya dengan kemudahan teknologi melalui media sosial. Sayangnya, politisi di tanah air belum menganggap serius isu perubahan iklim ini. Padahal Indonesia masuk ke daerah paling berisiko, namun para politisi cenderung tidak menjadikan isu perubahan iklim sebagai arus perhatian utama.

Hal itu sepertinya tidak mengagetkan terutama sebuah penelitian dari Cornell University menemukan ketika pemilih menunjukkan sedikit minat, politisi cenderung mengabaikan masalah yang akan terjadi akibat perubahan iklim.

Jika melihat media sosial terutama twitter, para politisi cenderung lebih tertarik dengan membahas isu lain dibanding masalah ini.  Pada dasarnya penelitian itu menganggap opini publik akan berubah di saat cuaca sangat buruk terjadi nantinya. Perlu penantian panjang dan melihat dampak yang akan dihadapi tentunya akan lebih mengerikan jika tidak diatasi sejak dini. [ysn]