Kondisi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 memperlihatkan tantangan pemulihan ekonomi tahun 2022 akan masih cukup berat
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia selama tahun 2021 sebesar 3,69% bukan merupakan capaian yang terbilang baik. Kualitasnya pun masih rendah, yang terindikasi dari kondisi berbagai komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB). Baik dari sisi sektoral lapangan usaha maupun dari sisi komponen pengeluaran.
Capaian tingkat pertumbuhan memang jauh lebih baik dari tahun 2020 yang alami kontraksi atau tumbuh minus 2,07%. Namun, dengan low baseline demikian, maka untuk bisa disebut relatif pulih justru harus tumbuh di atas 7%. Perlu diingat bahwa rata-rata pertumbuhan era tahun 2015-2019 sebesar 5,03%, dan era tahun 2004-2014 sebesar 5,72%. Bahkan, pada era tahun 1969-1997 mencapai 6,77%.
Target atau asumsi dasar APBN 2021 yang hanya sebesar 5% pun tidak dapat dicapai. Pemerintah menurunkan targetnya menjadi sebesar 3,7-4,5% ketika APBN 2022 ditetapkan beberapa bulan lalu. Batas atas merupakan target jika reformasi kebijakan ekonomi berjalan, dan batas bawah jika tanpa reformasi (as usual). Ternyata, realisasinya memang hanya di batas bawah.
Dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) menurut lapangan usaha, 10 sektor tumbuh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Dua diantaranya justeru yang berporsi terbesar dalam total PDB. Sektor industri pengolahan yang tumbuh 3,39% memiliki porsi 19,25%. Dan sektor pertanian yang hanya tumbuh 1,84% memiliki porsi 13,28%.
Sektor industri pengolahan memang selalu tumbuh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi sejak tahun 2012. Selama era tahun 2011-2019, rata-rata tumbuh sebesar 4,65%, padahal pertumbuhan ekonomi mencapai 5,33%. Bahkan, khusus era tahun 2015-2019, rata-rata hanya tumbuh 4,19% ketika ekonomi tumbuh 5,03%.
Kontribusi industri pengolahan sebagai sumber ekonomi hanya sebesar 0,70% pada tahun 2021. Lebih rendah dari sumbangan rata-ratanya di kisaran 1,00% pada era tahun 2011-2019 atau sebelum pandemi.
Meski masih yang terbesar, porsi industri pengolahan dalam PDB cenderung menurun. Porsinya masih sebesar 22,04% pada tahun 2010, kemudian turun menjadi 21,08% pada tahun 2014. Dan hanya sebesar 19,25% pada tahun 2021. Fenomena ini menandakan tren deindustrialisasi masih berlanjut.
Sementara itu, sektor pertanian juga cenderung tumbuh melambat. Pertumbuhan sebesar 1,84% pada tahun 2021 jauh di bawah rata-rata tahun 2011-2019 yang mencapai 3,95%. Kontibusinya pada pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 0,24%, di bawah rata-ratanya sekitar 0,50%.
LAJU PERTUMBUHAN
Sumber data: BPS, diolah
Kedua sektor itu juga berperan sangat penting dalam menciptakan lapangan kerja. Sektor pertanian menyerap 37,13 juta orang atau 28,33% dari dari total pekerja pada Agustus 2021. Dan sektor industri pengolahan menyerap 18,69 juta orang atau 14,27%. Kinerja pertumbuhan keduanya yang kurang tinggi berdampak buruk pada nilai tambah per pekerja ataupun tingkat pendapatan mereka.
Sektor lain yang tercatat tumbuh lebih tinggi dari rata-rata adalah Pertambangan dan Penggalian yang mencapai 4,00% pada tahun 2021. Kontribusinya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi pun cukup signifikan, yaitu sebesar 0,30%. Padahal, rata-rata pertumbuhannya pada era tahun 2015-2019 hanya sebesar 0,31%, serta kontribusinya sangat kecil pada pertumbuhan ekonomi.
Porsi sektor pertambangan dan penggalian dalam PDB atas dasar harga berlaku tahun 2021 masih terbilang besar, mencapai 8,98%. Namun hanya menyerap 1,44 juta orang atau 1,10% dari total pekerja pada Agustus 2021. Dengan kata lain, nilai tambah ataupun pendapatan per pekerja di sektor ini lebih tinggi dibanding sektor lainnya.
Berdasar data PDB menurut lapangan usaha tahun 2021, terdapat 10 sektor yang tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Tiga sektor yang tertinggi justeru tidak termasuk memiliki porsi besar dalam PDB ataupun dalam penyerapan tenaga kerja.
Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang tumbuh 10,46%, hanya berporsi 1,34% dari PDB dan menyerap 1,68% pekerja. Sektor Informasi dan Komunikasi yang tumbuh 6,81%, hanya berporsi dari 4,41% dari PDB dan menyerap 0,76% pekerja. Sektor Pengadaan Listrik dan Gas yang tumbuh 5,55%, hanya berporsi dari 1,12% dari PDB dan menyerap 0,22% pekerja.
Sementara itu, dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) menurut pengeluaran, konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh 2,02%. Artinya, komponen berporsi terbesar ini tumbuh lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Tingkat pertumbuhannya pun masih jauh dari rerata lintasan normalnya, era tahun 2011-2019, yang di kisaran 5%.
Bahkan, nilai riil konsumsi rumah tangga pada tahun 2021 hanya sebesar Rp5.896,7 triliun. Lebih rendah dibanding tahun 2019 yang sebesar Rp5.936,4 triliun. Sangat jelas konsumsi rumah tangga belum pulih. Apalagi jika diperhitungkan kondisi normalnya atau tumbuh sekitar 5% pada tahun 2020 dan 2021.
Komponen pengeluaran yang tercatat tumbuh luar biasa adalah ekspor barang dan jasa yang mencapai 24,04%. Padahal masih kontraksi atau tumbuh minus 8,14% pada tahun 2020. Bahkan sebelum pandemi, sempat alami kontraksi pada tahun 2015 (-3,42%) dan tahun 2019 (-0,48%).
PERTUMBUHAN BEBERAPA KOMPONEN PENGELUARAN
Sumber data: BPS, diolah
Fenomena pertumbuhan ekspor yang luar biasa pada tahun 2021 sangat terbantu oleh harga komoditas yang sangat tinggi. Dipengaruhi pula oleh kondisi beberapa negara yang masih cukup terkendala untuk ekspor, sehingga memberi kesempatan peningkatan ekspor bagi Indonesia.
Komponen pengeluaran yang tercatat tumbuh cukup tinggi adalah konsumsi pemerintah yang mencapai 4,17%. Namun karena porsinya hanya sekitar 9,14% dari PDB, maka kontribusinya sebagai sumber pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 0,34%.
Dengan kondisi pertumbuhan ekonomi tahun 2021 seperti yang dijelaskan di atas, maka tantangan pemulihan ekonomi tahun 2022 akan masih cukup berat. Pemulihan tidak hanya bergantung pada kebijakan otoritas ekonomi Indonesia, melainkan sangat dipengaruhi oleh dinamika perekonomian global. [rif]
