Scroll untuk baca artikel
Cerpen

Dipecat – Cerpen Noerjoso

Redaksi
×

Dipecat – Cerpen Noerjoso

Sebarkan artikel ini

MENYENGAJA menahan lapar dan dahaga sambil telah berniat sekaligus merencanakan berbuka dengan apa, itulah puasa Saya.  Tentu saja tak ada istimewanya sama sekali.  Toh hanya di bulan Ramadhan saja. 

Menahan lapar dan dahaga karena dipaksa oleh keadaan tanpa mampu berniat berbuka itulah puasa mereka.  Mereka berpuasa setiap saat tak peduli Ramadhan, Syawal atau bulan-bulan apapun juga.  Memberi hidangan berbuka kepada golongan mana boleh jadi dapat menjadi tanda kedalaman atas keimanan seseorang.

“Pokoknya Ustad Kandar harus dipecat!  Titik!  Tak ada tapi-tapian lagi,” tukas Japar dengan penuh emosi.

“Setuju!  Menurutku Ustad Kandar sudah menjadi agen kaum liberal dan sesat!” sambung Sodik tak kalah serunya.

“Betul!  Hlawong memberi makan untuk berbuka pada orang yang berpuasa itu besar pahalanya kok malah dilarang!  Apalagi itu kan sudah menjadi tradisi di masjid kita ini sejak jaman Nabi Adam dahulu!” sela Bariyah sambil menggerak-gerakkan tangannya sehingga gelang-gelang yang dipakainya saling beradu dan menimbulkan suara gemerincing yang sangat nyaring. 

Faisal yang pensiunan pegawai kementrian agama itu hanya terlihat manggut-manggut saja mendengar pengaduan jamaah dan pengurus takmir masjid yang sore itu datang mengadu ke rumahnya.  Beberapa kali ia menggaruk kepalanya yang botak meski tidak terasa gatal.

“apakah benar begitu?  Benarkah Ustad Kandar melarang menghidangkan makanan untuk berbuka saat Ramadhan nanti?” tanya Faisal setelah mendengarkan aduan tamu-tamunya. Lelaki tua berpandangan kolot dan merasa sebagai penjaga aqidah itu sepertinya sudah sampai pada tittik kesimpulan tertentu.

“Bnar!  Kata ustad Kandar lebih baik uang untuk menyediakan hidangan berbuka itu dikumpulkan lalu digunakan untuk menjatah makan Mbok Jebrak, Pak Yos yang nasrani itu serta Jimin dan Sabri yang tak pernah sholat apalagi puasa,” jawab Sukur berapi-api.

“Ustad keblinger!  Orang kafir semacam itu kok malah hendak dikasihani dan diperhatikan!  Biarkan saja kelaparan!” jawab Nabila menimpali.  Perempuan bercadar itupun ikut-ikutan emosi.  Apalagi Nabila dan suaminya sering ketitipan donatur dari luar negeri yang akadnya habis atau tidak habis pokoknya harus habis digunakan untuk menjatah buka puasa.  Dan dana itu tidak boleh untuk selain memberi makan orang yang berbuka puasa.

“Kalau menjatah makan Daldiri yang tukang sapu masjid itu Saya masih terima.  Daldiri rajin jamaah,” tambah Bariyah masih dengan gaya menggerak-gerakkan tangannya seperti sebelumnya.

“Ustad Kandar bahkan telah mengambil sebagian uang infak masjid untuk merealisasikan ide gilanya tersebut.  Bukan hanya orang-orang itu saja yang ia sedekahi  tetapi Ia bahkan telah keliling di kampung-kampung sebelah untuk menjatah makan orang-orang yang menurut saya tidak jelas agamanya itu!” sambung sukur lagi.

“Betul begitu tho saudara-saudara?” tukas Sukur lagi sambil memandangi kawan-kawannya satu-per satu seolah-olah hendak mencari dukungan.  Mereka yang hadir kompak menjawab dengan anggukan kepala.

“Menurutku ini sudah keterlaluan.  Harus diadakan sidang untuk meminta pertanggungjawaban.  Tetapi kita harus melayangkan surat peringatan terlebih dahulu,” saran Faisal sambil mengangkat cangkir minum kopinya yang lalu disusul juga oleh tamu-tamunya.

“Surat peringatan itu sudah disampaikan sebanyak 3 kali oleh dewan pengawas takmir Pak!” jawab Usman yang sedari tadi hanya diam membisu mendengarkan arah pembicaraan kawan-kawannya.