Scroll untuk baca artikel
Blog

Duduk Perkara Perobohan Rumah Singgah Bung Karno di Padang

Redaksi
×

Duduk Perkara Perobohan Rumah Singgah Bung Karno di Padang

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Bangunan cagar budaya yang menjadi tempat singgah Bung Karno di Padang, Sumatra Barat, dirobohkan. Sang pemilik tanah mengaku tidak tahu kalau bangunan itu adalah cagar budaya.

Pemilik bangunan mengaku akan mendirikan restoran di tempat itu, dan tidak tahu kalau bangunan yang dikenal dengan nama Rumah Ema Idham itu telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Penetapan itu sendiri dilakukan melalui Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Padang Nomor 3 Tahun 1998 tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah di Kotamadya Padang.

“Saya tidak tahu. Benar-benar tidak tahu,” kata Soehinto Sadikin, pemilik bangunan kepada wartawan.

Soehinto membeli rumah tersebut pada tahun 2017 lalu dari Andreas Sopandi, pengusaha Tionghoa Padang yang juga Ketua Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Padang.

Sebelum Andreas, rumah itu dimiliki oleh Fauzi Bahar, mantan Wali Kota Padang periode 2004-2014.

Nilai Historis Rumah Ema Idham

Bangunan rumah Ema Idham pernah dipergunakan sebagai rumah tinggal sementara oleh Bung Karno selama tiga bulan pada tahun 1942.

Melansir laman Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, disebutkan bahwa rumah Ema Idham digunakan sebagai tempat menginap bagi Sukarno ketika Jepang masuk ke Indonesia.

Ketika itu, Sukarno masih menjadi tahanan Belanda dan ditahan di Bengkulu. Masuknya Jepang ke Indonesia, membuat Bung Karno diungsikan oleh Belanda ke Kota Cane, Aceh.

Namun, ketika dalam perjalanan menuju Aceh, tentara jepang sudah masuk ke wilayah Sumatera Barat terlebih dahulu.

Saat itu, rombongan pasukan Belanda baru sampai di Painan, tetapi pasukan Jepang sudah sampai di Bukittingi. Oleh karena itu, Belanda mengubah rencana semula dengan mengungsikan Sukarno ke Barus serta meninggalkan Sukarno di Painan.

Sukarno yang ditinggal di Painan dijemput oleh Hizbul Wathan dan dibawa ke Padang menggunakan pedati.

Mengutip buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949 di Kota Padang dan Sekitar, disebutkan bahwa setelah sampai di Padang, Sukarno bersama Inggit, menginap di rumah Egon Hakim. Kemudian, Bung Karno pindah ke rumah kawan lamanya asal Manado, Waworuntu.

Keberadaan Rumah Ema Idham Penting bagi Sejarah

Sukarno memanfaatkan Rumah Ema Idham tersebut untuk menghimpun dan mengonsolidasikan kekuatan untuk melawan penjajah.

Sejarawan Fikrul Hanif Sofyan menilai, keberadaan Sukarno di Sumatra Barat pada saat itu, meski singkat, memiliki “peran signifikan” sebagai pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Namun dari sisi Dai Nippon, Sukarno pun dianggap berperan besar dalam program-program kekuasaannya karena dekat dengan masyarakat melalui pidato-pidatonya yang memukau masyarakat.

“Jadi kalau kembali ke persoalan rumah singgah itu, rumah ini menjadi bagian penting dalam persoalan nasionalisme. Dan bagaimana langkah-langkah proses kemerdekaan Indonesia itu sudah dimulai ketika Bung Karno berbicara dengan petinggi militer Jepang di Bukittinggi,” kata Fikrul dikutip dari BBC.

“Keberadaan rumah itu menjadi benang merah bahwa Bung Karno itu pernah berdiam di sana. Pernah menggelontorkan ide-ide tentang persoalan nasionalisme, Komite Rakyat yang menjadi pemerintahan sementara. Hingga bagaimana Bung Karno mengajukan syarat ke Kolonel Fujiayama asalkan Jepang mau membantu kemerdekaan Indonesia,” sambung dia.

Pada masa-masa itulah hubungan hangat Sukarno dengan masyarakat Minang terukir sampai era 1950-an. Meski hubungan itu berujung luka ketika Sukarno melancarkan operasi militer untuk menumpas Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada akhir 1950-an.

Bakal Dibangun Kembali

Pemerintah Kota (Pemkot) Padang berencana membangun kembali, sekaligus merevitalisasi bangunan cagar budaya tersebut.