Scroll untuk baca artikel
Kesehatan

6 Cara Agar Anak Aman saat Belajar Tatap Muka

Redaksi
×

6 Cara Agar Anak Aman saat Belajar Tatap Muka

Sebarkan artikel ini

Barisan.co – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya membolehkan sekolah melaksanakan belajar tatap muka mulai tahun depan. Kebijakan tersebut menuai pro dan kontra. Banyak orang tua yang merasa khawatir karena kurva kasus Covid-19 di Indonesia belum melandai hingga sekarang.

Mendikbud Nadiem Kariem tidak mewajibkan kebijakan tersebut, karena pembelajaran tatap muka harus melalui persetujuan tiga pihak yakni orang tua, sekolah dan pemerintah daerah. Tentunya jika diberlakukan, sekolah harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Meski belum tahu apakah pemerintah daerah dan komite sekolah menyetujuinya, tidak ada salahnya para orang tua bersiap sejak sekarang. Berikut tips agar anak tetap aman saat belajar di sekolah.

1. Siapkan paket kesehatan

Menyiapkan paket kesehatan selama pandemi sudah menjadi kewajiban kita semua. Terutama para orang tua harus memastikan barang-barang seperti masker, hand sanitizer, sabun, vitamin, sarung tangan tisu basah dan kering, serta cairan disinfektan tersedia di rumah.

Saat anak hendak sekolah bekali anak beberapa masker, hand sanitizer, sarung tangan dan tisu. Anak-anak seringkali teledor seperti meninggalkan atau menghilangkan barang. Jika maskernya hilang, mereka bisa menggunakan masker cadangan.

Apalagi masker juga harus diganti per tiga jam sekali untuk menghindari berkembangnya virus dan bakteri di sekitar mulut.  Berikan masker yang sesuai dengan ukuran wajah anak. Para orang tua juga bisa memberikan face shield sebagai perlindungan pertambahan.

2. Beri asupan nutrisi yang baik

Asupan nutrisi yang baik bisa menjauhkan anak-anak terserang penyakit. Para orang tua bisa menggunakan panduan makan sehat Kementerian Kesehatan yakni “isi piringku”.

Artinya dalam satu piring nasi harus terdapat sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Sumber karbohidrat yang bisa dipilih adalah nasi, kentang, sagu, ubi, jagung, singkong, gandung, mi, dan sebagainya. Sumber protein berupa lauk pauk, bisa hewani maupun nabati. Sementara sumber vitamin dan mineral diperoleh dari sayur dan buah.

Takaran yang tepat adalah 2/3 bagian berisi karbohidrat, 1/3 bagian berisi lauk pauk, 2/3 bagian berisi sayuran, dan 1/3nya lagi berisi buah.

3. Ajak anak berolahraga rutin

Melakukan olahraga terbukti bisa meningkatkan imunitas. Olahraga dapat mengeluarkan hormon stres yang menjadi penyebab inflamasi, meningkatkan fungsi microbial killing, serta meningkatkan sitokin (produksi sel imunitas tubuh).  Untuk itu, ajak anak-anak untuk berolahraga rutin setiap minggunya.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan kita melakukan olahraga lima kali dalam seminggu. Tak perlu berolahraga yang berat, aktivitas ringan seperti jalan kaki dan senam selama 30 menit juga bisa diterapkan selama pandemi.

4. Edukasi anak untuk patuh protokol kesehatan

Jangan pernah lelah untuk mengingatkan anak untuk terus mematuhi protokol kesehatan. Anak-anak seringkali lupa jika keasyikan melakukan sesuatu. Sehingga orang tua harus sering  mengedukasi anak untuk mengikuti protokol kesehatan di setiap aktivitas.

5. Bekali anak makanan yang sehat

Para orang tua sebaiknya membekali anak makanan yang sehat hasil dari memasak di rumah. Masakan rumahan lebih bernutrisi karena kita tahu bahan-bahan apa yang digunakan dan bagaimana prosesnya.

Jangan biarkan anak jajan sembarangan, buat bekal makanan semenarik mungkin. Tentunya harus berisi karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Dengan membawa bekal sendiri, akan mengurangi kontak anak dengan orang lain seperti pedagang. Anak juga tidak perlu memegang uang yang berpotensi menularkan virus.