Scroll untuk baca artikel
Olahraga

False Nine, Bukan Posisi Melainkan Peran

Redaksi
×

False Nine, Bukan Posisi Melainkan Peran

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO False nine, sebuah istilah yang tak cukup asing di telinga para penggemar sepak bola. Istilah tersebut tidaklah disandangkan pada posisi tetapi lebih kepada peran (role). Itu karenanya, peran false nine itu tidak pada siapa pemainnya, melainkan bagaimana ia memainkannya.

Peran false nine sebetulnya bukanlah hal baru. Justru, sejak tahun 1930an, istilah tersebut sudah muncul untuk pertama kalinya. Disebutkan dalam buku “Inverting the Pyramid: the history of football tactics”, nomor punggung 9 yang waktu itu identik sebagai penyerang tengah ditarik agak mundur di belakang garis gelandang serang.

Dengan begitu, tentu peran pemain tersebut dalam skema itu menjadi berubah. Dimana penyerang nomor punggung 9 klasik biasanya bermain merangsek ke kotak penalti, menyambut umpan-umpan terobosan, dan mengeksekusi umpan-umpan silang.

Berbeda dengan false nine, ia justru lebih sering beroperasi di luar kotak penalti (drop deeper) untuk membagi bola serta membuka ruang untuk penyerang lainnya masuk ke dalam pertahanan lawan.

Perkembangan False Nine

Seiring berjalannya waktu, false nine pun berevolusi. Sempat menghilang, peran false nine mencuat kembali di Eropa pada 2006/2007, saat Luciano Spalletti menggawangi AS Roma. Ia berhasil menggebrak dengan mengubah gaya bermain Francesco Totti dalam formasi 4-1-4-1, dimana sebelumnya ia bermain sebagai gelandang serang pengatur serangan kemudian berubah menjadi penyerang.

Kendati begitu, Roma tetap bermain tanpa penyerang. Sebab, Totti tetap bermain sebagaimana gelandang serang walaupun secara posisi ia menempati posisi penyerang tunggal. Tak main-main, eksperimen false nine Spalletti itu justru menyuburkan torehan gol Totti sehingga ia merengkuh gelar sepatu emas Serie A.

False nine racikan Spalletti itu berhasil membuat pola serangan menjadi sangat cair (fluid) tidak hanya datang dari satu sisi. Tentunya, dengan pola demikian kesempatan dapat dieksekusi oleh semua pemain depan. Dan, dari sisi lawan, mereka akan kewalahan ketika digempur dari berbagai sisi. Tercatat, di musim itu, Mancini dan Perotta yang berposisi sebagai gelandang serang dan sayap justru masing-masing mampu mengemas 13 gol.

Sayangnya kejayaan false nine di AS Roma berakhir seiring dengan bertambahnya usia Totti dan juga gagalnya Spalletti mereplika permainan Totti pada pemain lain. Itu sebabnya, di 2009, ia memutuskan mundur dari kursi kepelatihan.

Inspirasi False Nine

False nine tak lantas punah seiring dengan mundurnya Spalletti. Di saat yang sama, Pep Guardiola melahirkan kembali false nine pada permainan Barcelona. Di dalam skemanya, ia berhasil mengorbitkan bintang muda Barca, Lionel Messi berperan sebagai false nine.

Berhasil dengan peran itu, false nine pun melekat pada sosok Messi. Bahkan, pola bermain tanpa striker atau false nine selalu Pep terapkan ke klub yang ia asuh, seperti Bayern Munich dan sekarang Manchester City. Di City, misalnya, ia memainkan Bernardo Silva dan Kevin De Brunei sebagai false nine. Hasilnya, The Citizens- Sebutan Manchester City, menjadi klub tersubur sekaligus pemuncak klasemen Liga Inggris.

Di dalam sepak bola modern, false nine kini sudah lazim digunakan oleh banyak klub. Seperti Chelsea di bawah asuhan Thomas Tuchel, misalnya, yang justru berhasil menjadi jawara Liga Champions musim lalu tanpa penyerang dalam skuatnya.

Alhasil, untuk peran false nine bukan sekedar melihat posisi dalam formasi saja. Tapi lebih kepada bagaimana cara bermain pemain tersebut.

Dan, uniknya, tidak semua orang dapat memainkan peran tersebut dengan apik. Karena memang, seorang false nine lebih seperti gelandang serang yang memiliki umpan dan dribel yang bagus, kreasi serangan yang variatif, dan daya jelajah yang luas, sehingga tak semua pemain dapat mengemban peran tersebut. [rif]