Politik & Hukum

Filisida Mengintai Anak

Anatasia Wahyudi
×

Filisida Mengintai Anak

Sebarkan artikel ini
Kasus filisida yaitu membunuh anak sendiri semakin marak. Ilustrasi: shutterstock.

BARISAN.CODesember tahun lalu, seorang Ibu membunuh tiga anak kandungnya di Nias Utara dikarenakan himpitan ekonomi. Sebelumnya, Ibu di Banten menganiaya anaknya hingga tewas karena kesulitan belajar daring.

Pada September tahun lalu, seorang ayah membunuh anak kandungnya saat mabuk. Kemudian, Oktober di tahun yang sama, ayah membunuh anak kandungnya karena halusinasi terpapar Covid-19.

Pertanyaan besar: kenapa orang-orang ini tega melakukan felicide (filisida—membunuh darah dagingnya sendiri)?

Belum ada data komprehensif mengenai kasus filisida di Indonesia hingga saat ini. Bahkan istilah filisida itu sendiri barangkali masih terdengar asing di telinga banyak orang.

Fenomena tersebut sebenarnya telah ada sejak zaman Yunani-Romawi di mana seorang ayah dibolehkan untuk membunuh anaknya sendiri tanpa hukuman. Seterusnya di zaman Arab jahiliyah, ada banyak pula kasus anak perempuan dibunuh setelah lahir karena anak perempuan dimengerti sebagai aib bagi keluarga.

Mengutip dari CNN, sebuah jurnal Forensic Science International mengamati kasus filisida antara 1976 hingga 2007, dan terdapat 500 kasus selama setahun di Amerika Serikat. Hampir 72 persen yang dibunuh oleh orangtuanya berusia 6 tahun atau lebih muda. Dan satu dari 3 korban merupakan bayi di bawah satu tahun.

Akan tetapi, lebih dari 13 persen korban sudah dewasa, antara usia 18 hingga 40 tahun. Sehingga dapat dikatakan, meski usia anak sudah cukup dewasa pun, bukan berarti ancaman filisida itu hilang.

Dari data yang ada, lebih dari 40 persen pelaku pembunuhan ini ialah ibu, sedangkan membunuh anak bersama ayahnya mencapai 57 persen.

Lebih mengejutkan ialah 90 persen korban merupakan anak biologis dan 10 persen sisanya dibunuh oleh orangtua tiri. Orangtua umumnya menggunakan cara memukul, mencekik, atau menenggelamkan anak mereka yang berusia di bawah umur sedangkan yang sudah dewasa, 72 persen orangtua menggunakan senjata api dalam melakukan pembunuhan.

Dikutip dari Psychiatric Times yang ditulis oleh Susan Hatters Friedman, Phillip J. Resnick, pada tahun 1969, dijelaskan lima motif yang menjelaskan alasan orangtua membunuh anak-anak mereka. Motif ini termasuk penganiayaan fatal, balas dendam pasangan, anak yang tidak diinginkan, altruistik, dan psikotik akut.

Alasan paling umum, seorang anak dibunuh oleh orangtua adalah penganiayaan yang fatal, hasil akhir dari penganiayaan atau penelantaran. Yang paling tidak umum adalah balas dendam pasangan, di mana orang tua membunuh anak untuk membuat orang tua lainnya menderita secara emosional.

Seorang anak yang tidak diinginkan dibunuh karena anak itu dipandang sebagai penghalang tujuan orangtua. Atau, secara altruistik, orangtua membunuh anak karena cinta. Orangtua ini mungkin membunuh anak mereka terkait dengan bunuh diri mereka sendiri atau untuk melindungi anak dari nasib yang lebih buruk daripada kematian.

Akhirnya, dalam kasus filisida psikotik akut, orangtua yang berada dalam pergolakan psikosis atau maniak membunuh anak itu tanpa alasan yang dapat dimengerti.

Pada saat anak menjadi korban pembunuhan oleh orangtuanya, acapkali fokusnya bukan terhadap korban melainkan pelaku. Padahal jauh lebih penting untuk memikirkan nasib anak-anak yang menjadi korban kekerasan yang berakhir dengan kematian di tangan orangtuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *