Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Gerakan Spiritual Literasi

Redaksi
×

Gerakan Spiritual Literasi

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Lumayan lama saya bergelut di dunia literasi. Saya punya perpustakaan rumah yang didedikasikan sebagai taman baca di lingkungan kompleks perumahan. Tidak besar memang, karena gubuk yang saya huni masih kecil. Tapi, cukup memuaskan. Paling tidak saya merasa telah berbuat untuk lingkungan, sekecil apa pun.

Lagian, saya memang tidak tertarik mengikuti tren literasi, bahwa literasi itu tidak sekadar keberaksaraan. Saya masih bertahan di seputar baca buku. Lebih sempit lagi, saya fokus pada literasi keluarga, keluarga membaca berbasis buku.

Menurut saya, keluarga adalah institusi yang paling bertanggung jawab atas keberaksaraan masyarakat. Kemelekan aksara adalah peran keluarga, bukan sekolah, apalagi lingkungan. Terlebih hari-hari ini saat pandemi covid-19 menggila, sehingga banyak yang tumbang, maka puncak relasi sosial ada pada keluarga. Sekolah-sekolah lumpuh. Aktivitas sosial menyempit. Nyaris di semua lini, kini lari ke keluarga.

Selanjutnya, literasi keluarga saya maksudkan bukan pada diri orang tua dan anak yang suka membaca. Wacana gemar membaca itu sudah selesai. Fokus saya kepada bahan bacaan yang bermutu, living books istilah yang diperkenalkan Charlotte Mason.

Orang tua dan anak berkompetisi membaca buku-buku yang menggugah imajinasi, buku-buku yang menggerakkan. Buku-buku bermutu sastrawi, bahasanya indah, runtut, dan mengesankan. Buku-buku yang memuat nilai moral, tapi tidak menggurui. 

Lebih jelas, Charlotte menggambarkan bahwa dalam diri manusia ada tubuh dan jiwa, dan keduanya butuh asupan untuk tumbuh. Keduanya tidak boleh mengalami kekurangan gizi. Harus berkembang. Nah, asupan tubuh adalah makanan, dan inilah yang kerap teramat sangat menyedot perhatian kita.

Kita banting tulang sedari pagi hingga petang, tak lebih buat menghidupi badani. Sementara asupan jiwa adalah ide atau gagasan, yang nyaris luput dari perhatian. Padahal, founding fathers negeri ini merumuskan bahwa negeri yang besar adalah yang membangun badan dan jiwa.

Dengan demikian, tidak semestinya kita tercuri perhatian hanya pada urusan badan wadak. Kita harus berani banting stir, bukan lagi badan, melainkan jiwa. Tapi, bukan berarti kita tinggalkan sepenuhnya itu si badan. Tetap ada porsi perhatian buat wadak. 

Sekali lagi, mari kita perhatikan asupan gizi untuk jiwa. Kita hidangkan ide-ide dari para pemikir agung yang tertuang dalam buku. Kita hadirkan buku-buku hidup itu. “Tapi kan susah! Anak saya sudah kecanduan gadget.” keluh seorang ibu, pada suatu obrolan.

Memang tidak gampang. Sebab, kini kita hidup di zaman digital, mau tidak mau. Sementara tradisi membaca, yang sedianya kelanjutan dari tradisi lisan, tidak terlampaui secara maksimal. Tahu-tahu kita harus melompat dari tradisi lisan ke tradisi digital. Suka tak suka, kita harus menggunakan gawai dalam berkomunikasi, bertukar gagasan, dan mengais informasi.

Menyajikan buku sebagai menu utama di tengah keluarga akan berbenturan dengan kebutuhan informasi yang terpapar di gadget. Gadget tidak lagi sebatas alat komunikasi. Gadget menjadi piranti pintar, di mana semua kebutuhan kita terlayani. Sementara buku, acap terlempar dan memang sekadar mengada sebagai asupan jiwa.

Lantas bagaimana? Begini, pelan-pelan gadget mesti kita tempatkan sebagai piranti saja. Tetap sebagai alat, bukan bagian dari diri. Bukan sesuatu yang wajib melekat, bak bawaan lahir. Gadget adalah gadget, alat yang membantu berkomunikasi dan menyadap informasi serta menambah pengetahuan. Jadi, fungsinya sebagai menu tambahan, bukan utama.