Scroll untuk baca artikel
Kontemplasi

Pendiri Tarekat Syadziliyah, Syekh Asy-Syadzili Sosok Sufi Kaya dan Hidup Mewah

Redaksi
×

Pendiri Tarekat Syadziliyah, Syekh Asy-Syadzili Sosok Sufi Kaya dan Hidup Mewah

Sebarkan artikel ini

BARISAN.CO – Tarekat Syadziliyah didirikan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili, sosok sufi yang hidup zuhud. Namun cara berpenampilannya berbeda dengan para sufi-sufi lain. Ia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus, indah dan perlente. Selain itu ia suka menungangi kuda ketika berpergian dan makan-makanan yang lezat.

Tentu hal ini mengusik para muridnya terlebih lagi jika mendefinisikan tasawuf yang berasal dari kata shuf yang memiliki arti bulu domba. Maksud arti kata shuf bahwasanya kehidupan kaum sufi itu sederhana yakni mengenakan pakaian dari kain wol atau bulu domba.

Sebab pada masa itu, simbol dari kesufian salah satunya memakai kain wol besar. Para sufi mejauhi pakaian mewah seperti pakain sutra.

Berbeda lagi jika mengartikan sufi berasal dari kata shuf yang artinya selembar bulu. Makna ini menjelaskan bahwa sufi adalah sosok yang bagaikan selembar buku di hadapan Allah Swt, yang tidak memiliki arti apa-apa.

Jadi kaum sufi identik dengan kehidupan yang sederhana dan tentunya berperilaku zuhud atas dunia. Terlebih lagi memandang kenikmatan dan kemewahan duniawi. Hal inilah yang mengusik para murid atau pengikut majelisnya Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili.

Terlebih lagi muridnya yang melihat langsung kehidupan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili saat berpergian maupun ketika bertamu ke rumahnya.

Lantas, murid tersebut dalam hati mengatakan bahwasanya Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili senantiasa berbicara tentang zuhud, akan tetapi gurunya memiliki gaya hidup yang tidak sederhana dan bahkan tergolong mewah.

Zuhud sendiri berasal dari kata zahada yang artinya benci dan meninggalkan sesuatu karena Allah Swt. Dalam artian bahwa zuhud mengarahkan segala suatu hanya kepada Allah Swt dan tidak sibuk dengan duniawi.

Tentu hal ini berkebalikan dengan kehidupan Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili yang parlente. Hal ini terus saja mengusik batin muridnya, waktu terus belalu sehingga batinnya terus berontak.

Lalu murid tersebut menemui gurunya di rumah, kemudian ia mengeluarkan seluruh isi pikiran dan batinnya mengenai gurunya. Sambil meminta maaf karena barangkali telah berperilaku buruk sangka. Sang murid memberanikan untuk bertanya kepada Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili tentang gaya hidupnya.

“Wahai Syekh, dalam setiap majelis engkau senantiasa menjelaskan tentang zuhud. Saya merasakan kenikmatan, kagum dan terpesona dengan penjelasan Syekh. Begitu indahnya pelajaran yang diberikan, namun saya melihat langsung yang berbeda dengan kehidupan Syekh,” ucap Sang Murid.

“Apa maksudmu?,” Tanya Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili.

“Saya melihat sesuatu yang berkebalikan antara apa yang Syekh sampaikan di majelis dengan apa yang saya lihat dalam kehidupan mewah Syekh,” jawabnya.

Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili hanya bisa tersenyum, lalu berkata:

Saya akan menjawab kegelisahanmu wahai muridku. Tetapi, sebelum itu, saya ingin mengajakmu untuk berkeliling kota mengendarai kereta kuda.

“Syaratanya engkau pengangi cawan berisi air dan jangan sampai tumpah hingga perjalanan kita kembali kerumah,” pinta Syekh.

Singkat cerita, keduanya berkeliling kota. Sesampainya kembali di rumah, Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili lalu bertanya kepada muridnya itu.

“Bagaimana perjalananmu? Apakah engkau melihat indahnya istana raja?”

“Bagaimana asyiknya pertunjukan-pertunjukan yang ditampilkan di taman-taman indah tadi?”

“Atau barang-barang yang dijajakan di pinggir jalan. Apakah melihatnya?”

Sang murid menjwab, “Bagaimana saya bisa melihat dan menikmati semua itu, Syekh?”

“Sepanjang perjalanan, saya hanya memperhatikan cawan ini dan berupaya agar air yang ada di dalamnya tidak tumpah,” jawab Sang Murid.