Terkini

Hari Radio Sedunia, MH Rahmat: Radio Merupakan Media yang Ramah

Lukni Maulana
×

Hari Radio Sedunia, MH Rahmat: Radio Merupakan Media yang Ramah

Sebarkan artikel ini
hari radio sedunia
Radio antik koleksi MH Rahmat/foto: Istimewa

Bisa dikatakan radio merupakan media yang ramah ekses negatif. Radio bisa menjadi teman istirahat, teman kerja, bahkan teman saat perjalanan di mobil.

BARISAN.CO – Hari Radio Sedunia atau World Radio Day diperingati setiap tanggal 13 Januari. Sejarahnya diawali ketika Konferensi Nasional Radio Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 1925.

Konferensi ini dikenal sebagai “The First International Radiocommunication Conference” dan membawa bersama para pemimpin dunia dari bidang radio untuk berbicara tentang standar teknis dan regulasi untuk industri radio saat itu.

Setelah beberapa tahun, UNESCO mengakui pentingnya peran radio dalam masyarakat dan menetapkan Hari Radio Sedunia sebagai perayaan tahunan pada tahun 2012. Hari ini diakui sebagai hari untuk mengenang peran radio dalam memperkuat dialog, mempromosikan toleransi dan memperkuat kesadaran tentang isu-isu global.

Hari Radio Sedunia juga memfokuskan pada peran radio dalam menjangkau audiens yang lebih luas dan memberikan suara pada mereka yang terpinggirkan.

Serta mempromosikan inklusi dan keadilan dalam masyarakat. Hari ini juga memperingati evolusi teknologi radio dan bagaimana radio telah mengadaptasi untuk memenuhi kebutuhan audiens dalam era digital.

Sedangkan sejarah radio ditemukan dalam beberapa tahap, seiring perkembanganya radio sebagai teknologi komunikasi terus diupayakan para ahli. Diantara nama penemu radio pertama kali ada nama Nikola Tesla, Reginald Fessenden, Guglielmo Marconi dan William Dubilier.

Selanjutnya sosok yang disebut sebagai bapak radio adalah Guglielmo Marconi ilmuwan asal Italia. Ia mengembangkan radio dari dasar-dasar ilmu dari ilmuwan sebelumnya. Lalu ia berhasil menemukan metode transmisi suara, sebuah radio tanpa menggunakan kabel. Jadi Guglielmo Marconi merupakan penemu sinyal radio tanpa kabel pertama di dunia.

Lantas, bagaimana posisi radio di era sekarang ini? Terlebih lagi seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Sebut saja sebelumnya ada televise, lalu muncul platform video hingga perkembangan media sosial saat ini.

Pengasuh Cagar Wacana Demak, MH Rahmat menanggapi perihal radio yang mampu meningkatkan kecerdasan.

“Manusia dilahirkan dengan fungsi indera pertama pendengaran (sami’un) baru kemudian penglihatan (basyir) dan berikutnya perasaan (af’idah). Dari mulanya tidak mengetahui apa2 (la ya’lamuna syai’an),” ujarnya.

Lebih lanjut ia menambahkan dengan diberi pendengaran dan penglihatan akhirnya rasa (af’idah) menjadi berfungsi. Sebab pendengaran lebih dahulu dari penglihatan, maka jika seseorang menjadi lebih dikuasai oleh penglihatan (serba visual) maka mungkin telah mengalami distorsi fungsi kemanusiaannya.

Terkait hubungannya dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, MH Rahmat beranggapan bahwa seseorang yang tidak melatih fungsi indra ia akan mengalami lemah imanjinasi. Oleh karena itu perlu ditumbuhkan dan kembali menikmati radio agar kuat imanjinasinya.

“Mungkin menjadi kurang peka, lemah daya imajinasi, dan seterusnya. Menumbuhkan kembali minat pada radio dapat membantu mengembalikan fungsi yang telah terdistorsi tersebut. Sebagaimana generasi 70/80-an mereka kuat imajinasinya karena terbiasa menyimak. Cerita radio, sandiwara radio, dan lagu-lagu di radio,” jelas guru MA Al-Ma’ruf Candisari, Demak ini.