Scroll untuk baca artikel
Kolom

Ihwal Instrumen Moral

Redaksi
×

Ihwal Instrumen Moral

Sebarkan artikel ini
Menyederhanakan Urusan Dunia

Kebenaran makin mudah dibengkokkan di sinilah jurnalis diuji sebagai penjaga moral publik.

Oleh: Imam Trikarsohadi.

KITA sedang hidup dimana nilai – nilai kebenaran dimanipulasi secara brutal. Disinilah sejatinya profesi jurnalis sangat dibutuhkan sebagai instrumen moral yang berpihak pada kepentingan publik.

Sabtu sore, 18 April 2026, saya berkunjung ke Warkop Normal di bilangan jalan baru, Duren Jaya, Kota Bekasi.

Tempat ini didirikan salah satu jurnalis muda yang juga punya ketertarikan dunia usaha. Sebab itu, yang hilir mudik ngopi di tempat ini, banyak diantaranya para jurnalis Jakarta dan Bekasi, atau mereka dari beragam profesi tapi dulunya berangkat dari profesi jurnalis.

Tentu, jika para jurnalis sudah kongkow bareng, selalu saja banyak topik yang menarik yang mewarnai kebersamaan mereka. Apalagi, ditengah – tengah tata kehidupan sekarang dimana ada begitu banyak kebenaran yang bisa dibengkokkan, maka sejatinya tuntutan profesi jurnalis semakin krusial agar menjadi instrumen moral yang memastikan kebenaran tidak terdistorsi dan merugikan publik.

Apa boleh buat, di tengah lautan informasi yang melimpah, jurnalisme menghadapi tantangan besar dalam menjaga integritas kebenaran.

Di dunia yang serba cepat dan sering kali penuh disinformasi, jurnalis dituntut untuk menyaring fakta dari hoaks dan memberikan laporan yang tidak hanya akurat, tetapi juga bermakna. Namun, untuk mencapai itu, jurnalisme memerlukan lebih dari sekadar teknik atau teknologi.

Di sinilah pentingnya para jurnalis sebaiknya memahami ilmu filsafat sebagi skill yang memandu diri dalam
memahami, menguji, dan menyampaikan kebenaran dalam cara yang lebih dalam dan bermakna.

Pemahaman, apalagi pendalaman ilmu filsafat, akan mengajarkan kita untuk tidak hanya mempertanyakan apa yang kita ketahui, tetapi juga bagaimana kita mengetahui sebuah pendekatan yang sangat relevan dalam dunia jurnalisme yang acapkali penuh kebingungan.

Filsafat menawarkan alat-alat penting, seperti epistemologi, etika, dan skeptisisme, untuk membantu jurnalis menghadapi tantangan besar ini. Dengan mengadopsi perspektif filsafat, jurnalis dapat lebih kritis terhadap informasi yang didapat, menghindari bias, dan menggali lebih dalam untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi.

Hal ini selaras dengan filosofi kehidupan seorang jurnalis yang berakar pada pencarian kebenaran, integritas, dan pengabdian kepada publik. Karena jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup yang menuntut komitmen tinggi terhadap fakta dan kemanusiaan.

Sejatinya, jurnalis memiliki filosofi untuk selalu menyampaikan kebenaran, bahkan ketika kebenaran tersebut sulit atau tidak populer.

Ia juga mesti menjaga skeptisisme sehat yakni, meragukan untuk memastikan.Jurnalis harus hidup dalam keraguan, tidak cepat puas dengan narasi tunggal, dan selalu melakukan verifikasi (cek dan ricek) untuk menghindari bias.

Selain itu, jurnalis yang punya kualitas senantiasa berpegang pada prinsip tidak memihak (independen) dan profesional, serta menolak suap atau penyalahgunaan profesi.

Pun ketika menulis dan mengangkat berita, ia harus tetap menjaga empati dan tidak sekadar mencari sensasi. Fokus pada dampak manusiawi dari sebuah peristiwa.

Apa boleh buat,loyalitas tertinggi jurnalis adalah kepada kepentingan publik, bertindak sebagai pengawas kekuasaan (watchdog), dan memfasilitator forum publik.

Dengan tugas yang sesungguhnya mulia, maka jurnalis sepatutnya belajar seumur hidup agar mampu beradaptasi dengan teknologi baru (seperti AI), dan berpikir kritis untuk memahami dinamika sosial.

Ringkasnya, dari nongkrong di Wakop Normal, dan ditengah lindasan perkembangan teknologi yang diluar nalar dan dinamika kehidupan yang semakin akrobatik, maka, profesi jurnalis dituntut lebih fokus pada keseimbangan antara verifikasi (teknik) dan empati (kemanusiaan) untuk menyampaikan informasi yang mencerahkan. []